Image; https://id.pinterest.com/pin/10344274146155250/
SENDIRI DULU (delapan puluh delapan)
BLOG NURLAELI UMAR- “Kita pulang,
Tif!”
“Loe duluan aja.”
“Gue tungguin.”
“Tapi, gue lagi pengen sendiri.”
”Gue temenin, cepetan ganti baju kalau
memang mau ganti! Gue di motor, ya. Duluan.”
Randi gak ngasih kesempatan Tifa buat
menolak. Tifa cuma bisa menatap punggung Randi, ngebiarin cowok itu menuju
parkiran.
***
Sebuah chat masuk melalui LINE, dari
Haris, waktu Tifa nutup pintu pagar. Randi gak mampir, karena dia capek.
Gue ke taman kok gak ada, udah
muter-muter.
Tifa menekan nomor Haris. Panggilan
diterima, benar terdengar latar anak-anak lagi nyanyi-nyanyi. Mereka anak Vespa
yang tadi lagi main gitar waktu Tifa beranjak pulang.
“Halo, Ris. Ini gue udah di rumah.”
“Latihan.”
“Masa? Kok gue gak lihat.”
“Pantas, loe datang ke tempat
taekwondonya terlambat.”
“Mau ke sini? Boleh. Tapi bawa es
kelapa ya?”
“Carilah, gak ada itu gak boleh
masuk.”
“Oke, gue tunggu.”
Ternyata Haris datang buat ngejemput.
Bukan karena ngejemputnya, tapi lebih kepada kemana saja dia jika tadi pagi
berada di taman. Bahkan, batang hidungnyan pun gak kelihatan.
Kenapa Haris bahkan gak tahu kalau
dia pulang bareng Randi? Tifa jadi geli sendiri. Jangan-jangan Haris ngelantur,
nelpon sambil tidur sehabis begadang.
“Kok ketawa sendiri?” tanya Mama
mengejutkan.
“Eh, Mama. Assalamualaikum.” Tifa
mengambl punggung tangannya untuk dicium.
“Waalaikummussalam. Pulang sendiri
dan ketawa juga sendiri?”
“Barusan ada telepon, Haris mau main
kemari.”
“Oh, iya. Ada lagi?”
“Tadi aku pulang diantar Randi, tapi
dia gak mampir, capek katanya.”
“Ya sudah, sana masuk! Biar nanti
kalau temanmu datang, Mama panggil.”
“Mama ibu paling baik sedunia, deh.”
Tifa memeluk mamanya dan mendaratkan cium tiga kali.
“Sudah tiga kali aja, nanti kalau empat
kali dapat gelas jadinya.’
Tifa tertawa lebar, kemudian setengah
berlari meninggalkan mamanya yang memerhatikan dia sambil tersenyum.
***
Komentar
Posting Komentar