SENDIRI DULU (delapan puluh enam)
BLOG NURLAELI UMAR- “Burger, tadi
pagi gue buat sendiri. Sengaja buat loe, sausnya dipisah, takut bikin
sayurannya basi.”
“Baik banget, pasti ada maunya.”
“Hah?”
“Kok, hah?”
“Emang dari dulu gue baik karena ada
maunya?”
“Terus yang kemarin?”
Randi menepuk dahinya, pura-pura
lupa.
“Iya, gimana jawaban loe?”
Tifa terdiam, dia membuka kotak yang
diberikan Randi, ada empat burger. Dia mencoba mengeluarkannya dan
menikmatinya. Randi membiarkannya, sambil mencoba duduk nyaman dekat Tifa.
“Tif, tentang pernyatan kemarin, gue
gak akan minta maaf. Gue juga gak akan ngedesak loe. Gue tetep mau, loe jadi
Tifa yang gue kenal selama ini. Gak mau ada jarak atau loe bahkan mendadak
minggat dari kehidupan gue dengan atau tanpa pesangon.”
“Kok pesangon?”
“Gue mau ngelucu tadinya. Habis di
depan loe, gue gak bisa kesel atau marah lama.”
Tifa menyodorkan kotak itu ke arah
Randi. Anak lelaki itu menggeleng.
“Loe gak mau ngasih jawaban?”
Tifa menggelengkan kepala sambil
menatap Randi kali ini. Randi mengangguk menyetujui.
“Kemarin ….”
“Kenapa?”
“Angga juga bilang kalau dia suka
sama gue.”
Tifa terdiam cukup lama menanti
reaksi Randi.
Komentar
Posting Komentar