SENDIRI DULU (delapan puluh sembilan)
BLOG NURLAELI UMAR- Benar saja bel
berbunyi dan sesosok Haris sudah berada di luar pagar dengan tiga bungkus es
kelapa dalam satu kantung palstik berwarna putih tembus pandang.
Mama membukakan pintu dan mendapatkan
salam hormat. Kemudian terlihat anak lelaki itu mengekor mama dan dipersilakan
duduk di bangku beranda.
“Tunggu, ya. Tante panggilkan Tifa.”
“Iya. Terimakasih.”
Senyum Haris mengiringi langkah mama masuk
untuk memanggil putri bungsu kesayangannya.
“Temanmu sudah datang.”
“Apa?” tanya Tifa menegaskan.
Earphoen di telinganya dilepas.
“Itu yang katanya bawain es kelapa.”
“Makasih, Ma.”
Tifa memang benar-benar sedang santai
waktu nunggu Haris, badannya ditopang bantal besar dengan earphone di telinga.
Tifa keluar dari kamarnya.
“Jadi datang juga ternyata, gue pikir
loe gak jadi datang karena harus bawa es kelapa.” Tifa datang dengan dua gelas
ditangannya.
“Jadilah, masa cuma karena es kelapa,
gue gak datang.”
“Padahal gak bawa juga gak apa-apa.
Gue cuam ngeledek aja.”
“Ya udah, kita tuang!”
Haris mencoba membuka ikatan karet di
plastik pembungkusnya. Sementara itu Tifa menunggu sambil mempermainkan sedotan
yang tadi dibawa bersama bungkusan es kelapa itu.
“Kok gue gak lihat loe ada di taman
tadi, emang di sebelah mana?”
“Gue ngobrol di kantin bareng teman.”
“Urusan?”
“Sebegitu keponya?”
“Tanya aja, gak jawab juga gak
apa-apa.”
“Gue mau ngobrol masalah olympiade
besok, seleksi untuk tingkat provinsi, gimana persiapan loe?”
“Oh, jadi datang ke sini karena ini?”
“Terus harusnya karena apa?”
“Ya, gak apa-apa sih, cuma kemana
aja, lama gak kelihatan dan gak ngasih kabar. Randi kemarin sakit, apa loe
tahu?”

Komentar
Posting Komentar