Image; https://id.pinterest.com/pin/4151824651260057/
SENDIRI DULU (delapan puluh tujuh)
BLOG NURLAELI UMAR- “Lalu, loe ngasih
jawaban apa?” tanya Randi datar.
Reaksi yang aneh buat Tifa. Kenapa
Randi gak cemburu? Tifa memerhatikan
wajah Randi, mencoba membacanya. Dia bahkan sudah pasrah jika usahanya untuk
terbuka bahkan bikin Randi marah.
“Gue menolak.”
“Kenapa?”
“Karena … gue gak ada rasa. Selain
sahabat.”
“Oh ….”
Randi mengangguk-angguk. Jauh sebelum
hari ini, dia sudah berbicara empat mata dengan Angga. Saat itu hujan deras dan
mengharuskan berteduh di sebuah halte. Halte itu sudah gak terpakai semenjak
ada bus Trans Jakarta. Saat itu cuma ada mereka berdua. Berteduh bersama kedua
motor yang mereka kendarai masing-masing.
“Ngga, gimana Tifa menurut loe?”
Angga yang merapatkan leher jaketnya
dengan kedua tengannya menoleh ke arah Randi, sekilas saja. Lalu matanya
kembali memerhatikan anak-anak hujan yang berebut berlarian, berkejaran bersama
angin.
“Dia cantik, baik, pinter.”
“Itu sih gue tahu. Tapi apa loe gak
punya perasaan lain.”
“Maksud loe?”
“Karena gue suka dia. Gue sayang ke
dia lebih dari sahabat.”
“Gue juga. Apa itu masalah buat loe?”
“Nggak, aneh aja kalau di antara kita
gak punya perasaan itu ke dia, terutama nyaman dan senang deket sama dia.”
“Gimana kalau kita bersaing?”
“Maksud loe, kita boleh mengutarakan
perasaan kita, tapi persaingan kita sehat.”
“Kenapa enggak, loe pikir gue takut?”
Keduanya tampak mengunyah lagi semua
kesepakatan yang tiba-tiba terjadi itu. Tangan Randi terlihat terulur memberi
tanda, Angga melirik ke tangan Randi, dia tersenyum sambil menganggukan kepala.
Dia menjabat tangan Randi. Keduanya tanpa aba-aba berseru, ”Sepakat!”
Komentar
Posting Komentar