MONSTER P Bab 55.

 

Image; https://id.pinterest.com/pin/30258628744386842/


Bab 55.

BLOG NURLAELI UMAR- M menatap layar sambil bergidik, dia membayangkan bagaimana ketakutan S saat meregang nyawanya. Kemarin saja, dua tembakan di mobilnya sangat membuat dia syok, meski dia berusaha tetap tenang, karena kekacauan akan semakin membesar dan dia dia tidak melakukan tindakan itu, tenang dan menelpon J.

J sudah mandi, dan sekarang duduk di tempat tadi dia tidur. Dia mengambil gelas, dan susu sudah agak dingin di gelas itu. J meminumnya perlahan. Benar saja tidak berapa lama dia telepon masuk bergantian, satu dari R satu lagi dari O.

‘’Aku turut berduka. Aku akan datang ke cara pemakaman. Aku akan datang bersmaa M.’’

‘’R kau harus kuat.’’

‘’Apa? Kau jadi akan datang sendirian? Kurasa bujuk A, untuk datang ke rumah duka bersama.’’

Setelah itu.

‘’Halo, O. Iya, ini aku. Aku turut berduka.’’

‘’Aku akan datang satu jam lagi. Ini aku baru bangun.’’

‘’Baiklah, kita bertemu di sana.’’

J meletakkan handphone miliknya. Dia menatap M. ‘’Ada apa dengamu? Kamu takut, masih teringat peristiwa kemarin?’’

M mengangguk.

‘’Kemarilah!’’

M bangun dan duduk di samping J. J merengkuh M dalam pelukannya. Mendengar orang yang tidak menyukainya mati, dia saja tidak tega, apalagi kalau aku semalam tidak keluar. Entah bagaimana reaksinya mendengar aku bicara dengan orang-orangku, batin J.

Aku tidak paham alasan S mengapa dia melakukuan semua itu kepada M kemarin, sayanganya yang otak yang merencanakan tembakan terjadap mobil R dan A berbeda. Akan kusuruh orangku menari tahu setelah pemakaman S.

‘’J, apakah R, A, aku, dan S adalah target orang yang sama? Apa alasan di balik semuanya? Aku tidak ada urusan dengan siapa pun, andai ada pesaing yang merasa kalah dengan coffee shopku, kurasa tidak akan sampai berbuat semenakutan itu. Lalu, apa alasana mereka mengincar R, A, S, dan aku? Apakah hal yanga akan terjadi padaku kemarin, J?’’

‘’Tidak!’’

‘’Bagaimana kau bisa bilang tidak?’’ tanya M sambil menarik diri dari pelukan J. Dia menatap J tidak paham.

‘’Apa kau tidak pernah mendengar kalau pembunuhan itu punya pola?’’

‘’Iya, pernah dengar, semacam pola menggunakan ramus matematika, pengulangan angka, orang-orang yang satu pekerjaan, misalnya pembunuhan pelacur pinggir jalan, atau orang-orang yang punya wanita simpanan.’’

‘’Ini lebih ke pola tembakan. Kali ini yang dipakai adalah pola tembakan. Kamu mengikuti berita pembunuhan dua perempuan di dua room yang berbeda di apartemenku, bukan? Kali ini juga mirip, Ada tujuh tembakan di titik yang sama.’’

 

 

Komentar