SENDIRI DULU (sembilan puluh dua)

 

SENDIRI DULU (sembilan puluh dua)

BLOG NURLAELI UMAR- Wajah Haris murung meski disamarkan sama senyum. Tifa gak ambil peduli, dan gak perlu minta maaf untuk itu. Bukan masalah gak mau membalas perhatian Haris saat kejuaraan dulu yang mengantar-jemput gratis plus setia, tapi memang benar-benar capek.

“Gue pulang,Tif.” Haris beranjak dari duduknya.

Haris menitip pesan buat mama Tifa bahwa dia pulang, setelah itu memacu motornya meninggalkan rumah Tifa.

***

Dua cewek berseragam putih abu-abu itu berteriak, “Itu dia!” Mereka berlari ke arah anak yang baru datang, dan itu Tifa.

“Ngapain kalian? Tumben disambut gini. PR, ya? Dasar pemalas!”

“Yah, parah loe, Tif. Memang cuma loe doank yang bisa ngerjain PR sendiri, gue udah nyontek dari Angga sama Randi.”

“Terus ngapain kalian, dapat arisan atau ada yang ulang tahun?”

“Kita bisnis, sepulang sekolah.”

“Urusan pulang sekolah kok dibahas di pagi buta, udah gue mau masuk. Dasar kalian cewek-cewek aneh!”

Tifa meninggalkan mereka dengan menjitak dua kepala bergantian. Kontan saja kedua temannya itu mengaduh, mereka mengejar Tifa untuk membalasnya. Sayang, Tifa sudah melesat ke kelas dan duduk manis seolah tidak terjadi sesuatu.

Mereka berdua mendatangi Tifa, “Tif, ini urgent.”

“Apa lagi, sih?”

“Gue mau kita ketemu pulang sekolah.”

“Memang kenapa gak sekarang, ini ‘kan ketemu bahkan sampai jam pelajaran terakhir.”

Keduanya mengedikkan bahu dan menarik napas panjang. .

***

Komentar