SENDIRI DULU (sembilan puluh satu)
BLOG NURLAELI UMAR- “Gimana kabarnya
dia?”
“Kabar baik, gue gak terlalu banyak
nanya, dia juga gak cerita banyak tentang sekolah dan teman-temannya. Gue
datang buat ngelesin, Tif.”
Tifa tertawa lepas, Haris semakin dibuat
tidak mengerti.
“Sebentar gue lihat, sepertinya ada
telepon sama pesan masuk, gue setting getar doank soalnya.”
Tanpa menunggu Haris mengiyakan, Tifa
membuka poselnya, ada dua panggilan masuk dan satu buah pesan. Semuanya dari
nama yang sama, Tio.
Siang Tif. Maaf gue gak bisa jemput-antar loe tadi pagi
Gue baru bangun. Alasan gak ada, karena gue lagi enak tidur aja.
Tifa gak mengetikkan kalimat satu
pun, dia menutup ponsel begitu saja, dan kembali menghadapi Haris.
“Oh, ya, tadi gue nanya apaan, Ris?”
“Kabar Liana.”
“Iya, gimana dia?”
“Kan, gue udah jawab tadi, intinya
baik.”
Haris enggan mengulang kalimat tadi, sekaligus
kegelisahan yang dibuat oleh pertanyaan Tifa.
“Ris, maaf banget gue capek, apa loe
tersinggung kalau gue mau masuk?”
“Gak masalah, gue yang salah. Datang
pas loe habis latihan dan lelah.”
“Iya, kali lain kita bisa ngobrol
banyak tentang olympiade. Masih punya nyali buat tarung lagi kan?”
“Siapa takut? Minggu depan gue ada
kejuaraan silat, kalau loe mau datang gue jemput.”
“Gak bisa Ris, maaf gue nolak. Gue
ada ujian kenaikan sabuk anak-anak.”
“Oh.”

Komentar
Posting Komentar