SENDIRI DULU (sembilan puluh tiga)
BLOG NURLAELI UMAR- Hari ini semua
berjalan biasa saja.
“Yuk!” ajak Anita.
Tifa yang sedang beranjak dari bangkunya
mengangguk mengiyakan, mereka bertiga meninggalkan kelas. Tifa mengekor kedua
temannya yang tampak sangat antusias. Kalau urgent siapa yang sakit? Tapi, di kelas gak ada berita semacam itu
yang berkembang dan wajah mereka ceria-ceria aja, batin Tifa.
“Kita ke mana?”
“Ke kafetaria seberang jalan.”
“Ada yang mau ngenalin cowok
barunya?”
Anita dan Katarina saling
berpandangan, mereka terlihat mencurigakan. Keduanya diam membisu sambil terus
berjalan. Tifa merasa aneh, mungkin ini semacam kejutan yang akan dikasih buat
dia, begitu pikirnya. Tapi dalam rangka apa?
Suasana kafetaria yang ramai membuat
mereka sedikit menunggu. “Kita pesan makanan aja, terus makan dirumah gue,”
usul Tifa
“Loe kira kita mau ngebahas ini di
rumah loe? Yang bener aja.”
“Sebentar-sebentar, gue gak ngerti
ini ada apa?”
“Tuh, udah ada yang kosong, kita ke
sana!” tunjuk Katarina.
Mereka dua yang lain mengangguk dan
menuju ke sana. Tapi, sekilas tanpa diduga dua orang anak lelaki udah
mendahului duduk. Tifa memandang ke arah Anita.
“Mereka gak masuk dalam daftar, Tif.
Ini namanya nyerobot!” Anita tampak sedikit kesal.
“Permisi.”
“Eh ada apa?” tanya salah satu dari
ank laki-laki itu dengan sedikit nakal.
“Sebentar, kamu ‘kan anak yang waktu
itu nyari Haris?”
Tifa memerhaikan wajah anak lelaki
itu, dia kemudian tersenyum.
“Iya … gue, mau minta tolong lagi.”
“Oh, buat loe apa sih yang gak. Apa
tuh?”
“Gue sama dua temen gue mau duduk di
sini, tapi tiba-tiba kalian nyerobot.”
“Tapi gue duluan dan ini tempat umum,
gak ada pengecualian dan keistimewaan,” sahut cowok yang satunya.
“Udah … udah kalau kita berdua gak
bisa gabung, silakan kalian duduk di sini. Kita bisa kok pindah. Santai aja,”
ujar anak yang sok akrab itu.
“Apaan sih loe, sok kenal sama cewek
pemaksa gini, gue juga bisa bayar gak cuma mereka!”

Komentar
Posting Komentar