SENDIRI DULU (sembilan puluh)
BLOG NURLAELI UMAR- Haris tampak
terdiam sebentar, sepertinya ada yang membuatnya tertahan untuk segera menjawab
pertanyaan dari Tifa. Meski, akhirnya keluar juga dari mulutnya kalimat itu,
”Gue baru tahu, emang sakit apa?”
“Oh, sakit percernaan, tapi lumayan
parah karena sampai pucat dan mesti diinfus.”
Tifa heran, karena dia bahkan
mengenal Haris pun dari Randi, bagaimana mungkin Haris tidak tahu ikhwal Randi.
“Apa sudah baikan, Tif?”
“Sudah bisa latihan bahkan.”
“Syukurlah.”
Tifa meminum es kelapa yang dibawa
Haris untuknya. Satu untuk dirinya, satu untuk Haris, dan satu bungkus dibiarkan
tetap diikat. Es kelapa di terik matahari memang pas. Rasanya enak sekali.
Haris menyeruput isi gelas
miliknya.Tampak benar ada gelisah yang terbaca, sepertinya dia ingin menutupi
sesuatu tentang Randi. Tifa cukup cerdik menghadapi situasi ini. Obrolan
dialihkan ke persiapan olympiade.
“Loe gimana, Ris?”
“Gue ada bantuan dari pihak sekolah,
ada beberapa yang memang didatangkan dari luar buat ngebantu.”
”Wah, keren. Gue juga ada, tapi itu
hanya setengah dari persiapan, dan lebih nyaman cari sendiri sisanya.”
“Boleh nanya sesuatu di luar
olympiade?”
“Tentang?”
“Liana.”
Haris sedikit kurang nyaman, karena
dia tahu peristiwa cerita tentang penyiraman itu.
“Kenapa dan apa yang ingin loe
tanyain?”


Komentar
Posting Komentar