MONSTER P Bab. 57

 

Image; https://id.pinterest.com/pin/30258628744386842/

Bab 57

BLOG NURLAELI UMAR- Kronologi seminggu yang lalu. S keluar dari klinik kecantikan miliknya.  Tujuh  peluru bersarang di punggungnya bersamaan dengan tangannya membuka pintu depan mobil pribadinya. Tujuh tembakan tanpa suara dari jarak dekat. Tepat mengenai jantung dan organ dalam penting lainnya.

Tidak ada kesempatan untuk sekadar mengeluh sakit. Tubuhnya jatuh ke badan mobil sebelum akhirnya roboh. Orang-orang yang keluar dari kliniknyna tidak sempat mencari tahu siapa orang tadi mendekati S dan membuat perempuan itu roboh dengan darah merembes dari balik bajunya. Mereka panik dan hanya fokus kepada S. Itu pun hanya tiga orang saja.

Mereka bertiga panik dan berteriak bahwa seseorang terbunuh. Keadaan langsung kacau. Petugas parkir langsung berlari, Satpam gedung datang mengurusi, kemudian melapor polisi. Semua terjadi begitu cepat, dan S akhirnya dibawa ke rumah sakit oleh ambulans yang datang, dan dalam keadaan sudah tidak bernyawa.

Kepala klinik milik S sibuk menghubungi keluarga S, R, dan O. Mereka datang tidak lama setelahnya. Mula-mula O, kemudian S, setelahnya orang-orang yang mengaku keluarga dari S. R dan O tidak terlalu mengenalnya. Tetapi, sepertinya itu benar, karena mereka sempat berbicara dengan petugas kepolisian dan diperkenankan masuk melihat keadaan S.

R langsung berunding dengan keluarga dari S dan meminta secepatnya dilakukan otopsi. Tanpa menunggu lama semua berjalan. Setelah dilakukan otopsi terhadap mayat S, akhirnya pihak keluarga mendapat izin untuk membawa mayat S pulang dan paginya dikebumikan. Semua dilakukan cepat, bahkan terhitung sangat cepat.

Pengaruh R, S dan pihak keluarga S membuat semuanya lebih mudah dan mendapat previllige. Uang berbicara selain koneksi yang hebat. Pihak keluarga menekan pihak kepolisian untuk menangani kasus ini dengan cepat dan tepat.

R tidak bisa menghentikan air matanya, dia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk itu. O yang duduk di samaping R mengulurkan kotak tissue. R menerimanya dan mengambilnya isinya berulang.

‘’Ini sangat mengerikan, R.’’

‘’Ya. Aku tidak tahu kita di pusaran apa.’’

‘’Sama kasusnya dengan L, lalu keempat pengawalku. Adakah kasus S juga buntu? Apa setelah semuanya giliranku juga tiba?’’

‘’Aku tidak tahu. Aku masih syok dengan tembakan di mobilku, mobil A, kudengar mobil kekasihnya J juga mendapat serangan, meski cuma dua peluru.’’

‘’Kurasa kita tidak ada masalah dengan perusahaan lain. Kita hanya bekerja di bagian keuangan saja. Bisnis barumu hanya kau yang terlibat, aku, S, L dan pengawalku tidak terlibat sama sekali. Begitu juga dengan kosmetik di mana aku dan S berada.’’

‘’Aku juga tidak tahu apa yang mereka incar. Semua dimulai dari kematian L, bukan? Apa hanya seseorang yang iseng bermain dengan nyawa kita? Kurasa klien kita semua baik-baik saja.’’

‘’Entahlah, Kita hanya bisa berharap semua ada kejelasan nantinya.’’

‘’Meski kita sebenarnya pesimis, bukan?’’

R tidak menjawab. Dia hanya diam dan melihat orang-orang hilir mudik di rumah S. Dia hanya butuh itu saat ini, sebelum akhirnya dia memberi tahu J. R berkali-kali melakukan itu. Sayang J mengatakan dia sedang ada di luar kota.

Komentar