Monster P Bab 58

 

Image; https://id.pinterest.com/pin/30258628744386842/

Bab 58

BLOG NURLAELI UMAR- J menerima laporan dari anak buahnya, lima menit setelah dia keluar dari sebuah restoran. Dia baru saja menjamu kliennya menggantikan R. Semua kesepakatan seperti biasa, lancar dan menguntungkan kedua belah pihak.

J membaca pesan yang masuk. Dia mengangguk, dan kemudian mengetikkan sebuah pesan. Setelahnya dia memacu mobilnya dengan kecepatan sedang saja, membaur bersama kendaraan lain di jalanan.

Dua empat puluh tujuh, masih ada waktu untuk ke kantor, dan J membelokkan mobilnya menuju arah jalan ke kantor. Dia bisa saja tidak masuk ke kantor dan melaporkan hasil pertemuannya dengan klien kepada R lewat chat atau email, tapi dia tidak melakukan itu.

Dua orang yang tadi ada bersama J membersamai menemui klien, sudah kembali ke kantor lebih awal sepulh menit dari J. Dia memarkirkan mobilnya setelah dia memasuki parkiran dalam gedung. Dia berjalan menuju lift. Seperti biasa harus menunggu sampai pintu lift terbuka.

Sebuah pesan masuk, dan J mengambil hanphone dari saku jasnya. Itu pesan dari O yang mengatakan dia ingin mungkin tidak akan masuk dua hari lagi. J membacanya dan kemudian menjawabnya dengan mengetikkan kata; oke.

J tidak berhak mengatakan tidak boleh atau silakan saja. Kata ‘oke’ hanya menunjukkan kalau pesan sudah dibaca. Pastinya O sudah menghubungi R dan sekretarisnya untuk memberi izin. Sepertinya izin sudah keluar, makanya O berani mengabari J perihal dia meliburkan diri dua hari ke depan setelah hari ini dia juga mengambil libur.

J naik ke lantai di mana kantornya berada. Dia tidak lama, hanya satu setengah jam saja. Reaksi orang-orang kantor biasa saja , meski S adalah kliennya. Semua yang berhubungan dengan urusan S, tentu saja besok akan diselesaikan, entah masih memakai jasa kantor J atau akan disudahi. Semua tergantung kesepakata kedua belah pihak.

J pergi ke uang kerja R, sekeretrais R menerima J dan mengatakanR ada di roomnya.

‘’Tolong hubungi Bos, akau akan naik ke sana , kalau dia membutuhkan. Beri tahu akau ada di sini.’’

‘’Baiklah.’’

Sekretaris R menghbungi R dan mengatakan J bisa naik sekarang.

‘’Apa Bos bersama seseorang sekarang?’’

‘’Perempuan? Saya rasa tidak. Bos tadi mengatakan kalau dia hari ini langsung ke roomnya, setelah dari rumah duka, dan butuh sendiri.’’

‘’Tunangannya, mungkin.’’

‘’Setahu saya, tidak, Bos memang sendirian saja.’’

 J mengangguk-anggukkan kepalanya, pamit dan naik ke lantai di mana room apartemen R berada. J menekan bel, dan R membukakan pintu setelahnya.

‘’Masuk, J!’’

‘’Kau mabuk?’’

‘’Tidak. Aku hanya sedang menjadi anak kecil yang ketakutan seperti melihat hantu saja. Aku hanya berbaring.’’

J masuk dan benar tidak mendapati seseorang yang lain. R benar-benar seperti yang dia katakan. J duduk di sofa, sementara R menelpon seseorang untuk membawakan makanan dan minuman.

‘’Aku tidak punya stok makanan sendiri, kita bisa main game saja, bukan? Aku sedang ingin ditemani dan lelah bicara sertius.’’

J tertawa. Dia mengangguk-anggukkan kepalanya. Seseorang menekan bel, dan R kembaki berjalan membukakan pintu.

‘’Masuk!’’

Orang itu mendorong meja beroda penuh makanan dan beberapa minuman bersoda. R sepertunya memang tidak memesan minuman beralkohol. Orang itu meninggalkan room R setelahnya, dan membiarkan kereta makanan itu di room R.

‘’Bagaimana pertemuan dengan klien hari ini?’’

‘’Baik. Semua laporan sudah masuk ke ruang kerjamu. Kurasa kau memang sudah benar begini, tidak minum alkohol, kau juga besok harus menghadapi masalah dengan perusahaan S.’’

‘’Iya, aku tahu itu. Tidak ada masalah yang lebih mengerikan selain A membatalkan pertunangan denganku. Tidak juga kematian S. Kau tahu kenapa? Karena aku merasa mati, sementara aku harus tetap bernapas, makan, mengurusi kantor, melayat orang mati.’’

‘’Kau nikahi saja perempuan lain atau O!’’

‘’Aku punya hati meski aku terkutuk J, kau saja ingin membunuhku, bukan, ketika kau tahu aku mendatangi coffe shop dan memberi pacarmu bunga? Sama, aku harus mengakui A adalah dua pertiga nyawaku. Aku tertatih, bahkan meski seribu perempuan kunikahi. Dia tidak bisa diganti sampai kapan pun.’’

‘’Aku sudah memberitahumu jauh hari, tapi kamu memilih jalan sendiri. Aku turut prihatin.’’

R tertawa saja. Dia meraih handphone miliknya dari atas meja.

. ‘’Kita main game saja, sebentar. Setelahnya kau boleh pergi.’’

‘’Aku tidak ingin bermain game. Aku ingin menghabiskan dulu kopi yang kaupesan. Hari ini aku juga lelah. Aku akan pergi sesegera mungkin, aku juga butuh sendiri. Setiap kematian membuat kita sadar kita akan mati, juga membikin luka yang dalam. Bahkan, meski aku tidak terlalu mengenal S, dan aku tidak mengenal dia sedekat dirimu. R.’’

Komentar