SENDIRI DULU (sembilan puluh empat)

 




SENDIRI DULU (sembilan puluh empat)

BLOG NURLAELI UMAR- Anak lelaki yang sedikit ramah itu berbicara dengan lirih kepada temannya, dan mereka akhirnya benar-benar bangun untuk pindah.

“Gue harap loe masih ingat nama gue, Sabeum.”

“Gak inget, gue cuma tahu adik loe anggota taekwondo, dan loe anak SMK yang minta photo meski baru kenal, Mr. Sok Akrab.”

“Terserah loe aja, tapi gue terimakasih loe masih inget gue. Selamat menikmati, kali ini loe gak usah nraktir, karena loe kebangetan, dulu segitu banyaknya mesti gue habisan sendiri.”

Tifa tertawa, ingat kelakuannya nyuruh cowok di hadapannya menghabiskan pesanannya yang lumayan bikin kenyang.

“Makasih banyak, gue hargain kebaikan loe.”

“Siip …, Sabeum.”

Setelah kedua anak lelaki itu angkat kaki, kedua sahabat Tifa sedikit melongo. Mereka heran sama kepiawaian Tifa, padahal itu anak SMK yang terkenal suka keroyokan. Mereka berdua melihat atribut yang dikenakan di seragam.

“Gue sabeum, loe tahu itu kan?”

“Dia anak buah loe?”

“Adiknya.”

“Pantesan.”

Tifa mengingatkan mereka tentang urusan yang mau dibahas setelah melambaikan tangan ke pelayan yang habis menyajikan pesanan ke meja lain.

“Ini.”

Anisa menyerahkan telepon genggamnya.

“Loe mau jual hp? Emang ini ada darurat apa, kok loe diem-diem aja?”

“Ini lihat aja dulu. Sabeum yang berisik.”

Mata Tifa melotot ke arah mereka,dan keduanya terlihat tertawa. Tifa menerima ponsel itu, kemudian menyentuh tombol play. Dalam hitungan ke tiga tampak di layar hape ada dua anak remaja sebayanya yang sedang berbincang dan saling memeluk tangan di atas meja.

Komentar