Monster Pemb Bab 59

 

Image; https://id.pinterest.com/pin/30258628744386842/

59.

BLOG NURLAELI UMAR- M tidak menginap di room apartemen milik J malam ini. Tapi, J yang pulang ke rumah. Kopi hitam yang M sediakan sebelum dia masuk ke kamar tidurnya masih utuh ditemani dua buah donat dengan topping cokelat dan butiran sukade.

Terlihat sedikit tidak biasa ada sukade dibuat topping donat, tetapi M melakukan itu dan J menyukainya. Sebenarnya lebih ke apa yang dibuat tangan M, J menyukainya. Sedikit terasa ada yang berbeda dibanding makan jadi yang dibeli atau dibuat orang lain. Ibu J pernah mengatakan kalau itu adalah resep tambahan rahasia dan itu namanya cinta.

J mengambil donat dan mulai mengigitnya. Dia mulai mengunyah, ketika sebuah pesan masuk di laptop miliknya. Dia menyalakan dua handphone dan sebuah laptop, sementara M sudah pergi ke alam mimpi.

Sebuah pesan masuk tentang keterlibatan S di penembakan mobil R, A, dan M. J membacanya dengan seksama. Dia setengah tidak mempercayainya. Itu haknya, karena dia adalah bos agensi di sini. J membacanya sekali lagi.

J mengetikan sebuah pesan, balasan pesan itu datang setelahnya. Sangant fast respond. Sebuah kerja bagus dari orang-orang J.

J meraih handphone satunya lagi, dan menelpon anak buahnya itu. Singkat saja, ‘’Aku keluar sekarang. Temui aku! Aku akan memberikan alamatnya.’’

Sangat riskan untuk berbicara banyak dengan anak buahnya di rumah, di mana A ada di dalam kamarnya, dan bisa tiba-tiba terbangun keluar kamar mencarinya. Seperti biasa akan memastikan J agar tidak terlalu larut malam untuk tidur, karena besok hari mesti bekerja.

J menelpon seseorang setelah pembicaraan ditutup. Sepertinya itu orang yang berbeda, karena J menekan angka di keypad handphonenya.

‘’Halo!”’ kata J sambil bangun dari duduk nya dan berjalan menuju pintu depan.

J keluar rumah, matanya sambil meneliti rumah sebelah yang ditinggali karyawan coffe shop yang dikelola M.  ‘’Tolong berjaga di depan rumahku! Sekarang!’’

J mengangguk-angguk. Sepertinya seseorang di seberang telepon menyanggupinya. J kemudian masuk, mematikan laptopnya dan mengambil jaket dari lemari di kamarnya. Dia kemudian masuk ke kamar M setelah sebelumnya mengrtuk pintu.

J mendekati M, mencium keningnya dan berbisik. ‘’Tidurlah, aku akan keluar sebentar. Tidur saja, semuanya akan aman.’’

M membuka matanya, dia mengerjap-ngerjapkan matanya mengusir kantuk yang masih duduk di pelupuk matanya. ‘’Apakah aku harus mengunci pintunya dari dalam?’’

‘’Tidak perlu. Aku akan menguncinya dari luar, dan aku akan membukanya nanti ketika pulang.’’

M mengangguk, dia kembali memejamkan matanya. J membetulkan letak selimut M, dan mencium pipi M lagi.

‘’Pastikan kau kembali dengan selamat, J.’’

J tercenung sebentar dengan kata-kata M, dia kemudian mencium pipi M lagi, ‘’Tentu saja. Aku akan baik-baik saja.’’

J keluar dari kamar M dan menyimpan donut yang masih tersisa ke dalam lemari pendingin. Kopinya dipindahkan ke meja makan dan ditutupi. J berjalan keluar rumah dan menuju mobilnya. Dia pergi setelah menutup pintu gerbang dengan remote dari dalam mobilnya.

Seseorang dari seberang jalan yang tengah berbicara dengan seseorang yang lain, yang sepertinya petugas keamanan kompleks menyalan senter dari handphonenya. Seolah tidak sengaja, tetapi sebenranya itu adalah kode kalau orang yang J perintahkan menjaga M sementara dia pergi.

J pergi melajukan mobilnya menjauh dari rumah. Dia pergi ke pusat kota. Dia masuk ke sebuah pelataran parkir. Ada tiga bar dengan penjagaan penuh dari luar bar, tetapi J hanya memarkirkan mobinya saja. Dia tidak masuk. Dia menyapa seseorang yang menjadi penjaga bar. Mereka berbicara. J tampak memberikan beberpa lembar uang.

J pergi ke seberang jalan dan masuk ke sebuah restoran kecil. Lebih tepatnya kedai kecil. J memesan kopi dan sepiring nasi goreng. Tidak berapa lama setelah pesanan dihidangkan, seseorang yang lain masuk dan duduk di depan tempat J duduk.

‘’

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar