SENDIRI DULU (sembilan puluh enam)
BLOG NURLAELI UMAR- “Kenapa loe,
Rin?”
Katarina menunjuk laki-laki yang
berdiri sambil tersenyum di sampingnya.
“Ya Allah, Mas. Iya lupa, gue pesan
siomay sama teh manis hangat,” Tifa memulai untuk memesan.
“Gue sama, tapi siomaynya dua porsi
ya,” tambah Katarina.
“Dua porsi, Rin?” tanya Anita kaget,
Katarina mengangguk tanpa perlu memberi alasan.
“Gue bakso aja, Mas. Sama jus jeruk,”
pesan Anita.
Pelayan kafetaria pergi, mereka
melanjutkan obrolan. Tapi kelebat di kepala Tifa tentang firasat itu datang
lagi. Apa maksudnya ini?
“Gimana menurut loe, Nit?”
“Gue bingung, habis gue lihat loe
sekarang deket sama Tio lagi?”
“Gue gak balikan, cuma berteman aja.
Kok, bisa Haris, ya, padahal gue gak ada hubungannya sama dia?”
“Mungkin loe pernah kelihatan jalan
sama Haris, terus Haris ngomong tentang loe di depan Liana, dan itu bikin dia
keki.”
“Iya sih, tapi apa alasan sampai
Haris?” tanya Tifa sedikit bingung..
“Jangan-jangan, Anak itu suka sama
loe dan gak bisa dikadalin Liana.”
“Tapi gue gak ngerti kenapa jadi kaya gini, aneh aja, Nit.”
“Bisa aja, namanya juga manusia,
mungkin bagi loe, Angga, Randi, Haris, cuma
sahabat dan Tio cuma mantan. Tapi gak
buat Liana,” tandas Katarina sedikit bikin Tifa terjaga dari ketidakmengertian.
“Iya juga.Tapi apa seperti itu cara
pandang Liana sama gue? Kalau kalian gimana?”
“Gue sama Katarina sih enggak,
seneng-seneng aja lihat loe seneng, tapi orang lain ‘kan boleh berkubang dengan
anggapan dan pikiran gak suka, itu hak mereka.”
“Iya, Nit. Gue rasa gue harus nyelesaikan
ini. Sebelum kenaikan kelas. Semuanya, termasuk Tio.”
“Memang loe ada masalah apa lagi sama
Tio?”
“Ngasih dia tanda titik.”
Anita dan Katarina cuma bisa
menggangguk saja, itu urusan hati Tifa. Pesanan datang, mereka sibuk menikmati
semuanya, termasuk Katarina yang memesan dobel. Gak ada pembicaraan lagi,
selesai begitu saja.

Komentar
Posting Komentar