SENDIRI DULU (sembilan puluh
sembilan)
BLOG NURLAELI UMAR- Dokter mempunyai
diagnosa sendiri jadi gak menyarankan untuk pergi ke rumah sakit, dan mungkin
ini adalah obat yang disarankan untuk penyembuhan Liana. Obat itu bernama Tifa.
Kejutan yang ke dua adalah di kamar
ada Angga yang nemenin Liana. Tifa terkesiap melihat semuanya. Bahkan Angga pun
merahasiakan ini darinya?
“Masuk, Tif!”
Liana mencoba menyapa lebih dahulu,
hilang semua keangkuhan yang dipertontonkan di kantin saat menyiram baju Tifa,
matanya sayu, badannya terlihat lemah.
“Iya,” jawab Tifa mencoba bersikap
ramah.
“Duduk, Tif!” Angga mempersilakan
kursi yang di dudukinya buat Tifa, dia bangun dan beringsut ke samping lain
ranjang.
“Gimana kabar loe? Gue itu naïf, ‘kan
loe terlihat sehat, gue yang sakit,” kata Liana memulai obrolan.
“Kabar gue baik, loe juga sebentar
lagi pasti baik. Sakit apa kata dokter?”
“Sakit jahatin loe, Tif. Gue emang
salah, gue nyebelin, mungkin Tuhan marah sama gue.”
“Gak gitu juga, sakit dari Tuhan
bukan untuk menghukum seseorang, meski kadang setelah sakit kita menjadi lebih
baik. Sakit itu ya … karena jatahnya sakit aja.”
“Begitu ya? Gue harap bener, karena
gue gak mau sakit gini terus, gak enak.”
“Makan yang teratur dan minum obat,
gue rasa dua hari istirahat loe udah sehat.”
“Ma, Pa… boleh tinggalin kami
berdua?”
Tidak hanya kedua orang tua Liana
saja yang kelua dari kamar setelah mereka mengangguk mengiyakan, tetapi Angga,
Haris dan juga Tio. Liana butuh itu untuk berbicara secara pribadi. Ada hal
yang memang ingin dikatakan pada Tifa tanpa orang lain mendengarnya, mungkin
merasa malu atau sedikit rahasia.
“Kenapa, Li?”
“Gue berterimakasih, loe udah mau
datang. Sebenarnya ini memalukan, guemalu sama diri gue sendiri, dan orang tua
gue. Seharusnya ….”





Komentar
Posting Komentar