SENDIRI DULU (sembilan puluh tujuh)

 

SENDIRI DULU (sembilan puluh tujuh)

BLOG NURLAELI UMAR-  Pukul 15:00. Pelajaran habis. Suasana koridor depan kelas sebelas IPA dua ramai, semua bergegas menuju pintu gerbang. Tifa sempat melihat Tio tadi waktu berdiri memberi salam guru pelajaran terakhir. Kelas lain sudah keluar lima menit yang lalu.

“Nunggu siapa?” tanya Tifa ke Tio yang sedari tadi berdiri membelakangi kelas TIFA.

“Siapa lagi kalau bukan loe.”

“Kirain.”

“Kita tengok Liana.”

“Kenapa harus sama gue, Kak. Dia kan pacar loe.”

“Loe cemburu?”

“Gak!”

“Tif, ini gue dapat surat. Dia udah sakit tiga hari, dan dia minta gue bawa loe ke sana.”

“Tapi Angga gak bilang apa-apa.”

“Kenapa sama Angga?”

“Kenapa sama loe, Kak?”

“Tifa, ini bukan saatnya cemburu. Liana manggil nama loe terus. Nih baca!”

Tifa menerima surat itu dan membaca sekilas.

“Emang apa hubungannya sama gue? Dan bagaimana loe tahu ini bener? Ini akal-akalan dia aja. Apa Kakak menutup mata sepak terjang dia selama ini? Dia … udahlah. Percuma ngomong sama loe, Kak. Yang ada cuma cewek lain, gak pernah ada gue meski bahkan sampai kita putus sekalipun,” jelas Tifa sambil mengembalikan surat itu ke Tio.

“Putus? Kita gak pernah benar-benar putus, Tif. Itu wajar kalau orang pacaran. Bertengkar, marah, rindu, lalu balikan lagi. Kayak kita saat ini.”

“Baiklah, demi rasa kemanusiaan, gue mau datang. Tapi loe jangan pernah merasa kita balikan!”

“Tif!”

Tifa mengambil keputusan kilat tentang Liana yang sakit, ya … kemanusiaan. Dia memang gak tega jika dihadapkan pada kata itu. Tifa berjalan ngeduluin Tio, dan cowok itu bahkan kemudian terdiam, demi mendengar Tifa rela datang menjenguk Liana.

“Ayo, naik!”

Tifa duduk di belakang Tio, tanganya gak melingkar seperti kebiasaannya dulu. Dia cuma berpegangan pada besi di bawah jok.

“Pegangan! Takut jatuh.”

Tifa diam saja, dan Tio tidak mengulangi itu.

***

Komentar