BLOG NURLAELI UMAR- “Udah ya, gue mau
pulang, senang bisa bikin loe jadi mendingan, gue tadi gak pamit mau ke rumah
loe, gue gak bawa hape, lupa tadi.”
“Iya, mungkin besok-besok loe datang
untuk acara lain yang lebih bermutu, dari pada sekadar bertemu orang sakit.
Bantu gue untuk menjadi lebih baik, meski dari jauh.”
“Ya. Cepat sembuh ya. Gue pulang.”
Tifa keluar kamar dan menemui kedua
orang tua Liana. Mereka berbicara beberapa saat, kedua orang tua Liana meminta
maaf atas kelakuan anak mereka. Tifa hanya terlihat mengangguk dan sesekali
menyelanya dengan tersenyum.
Angga, Haris, dan Tio ada bersama di
sana. Mereka mendengarkan dengan khidmat tanpa menyela.
Sore menyapa, tidak hanya Tifa dan
Tio, bahkan Angga dan Haris pun ikut berpamitan pulang. Mereka menaiki motor
masing-masing dan berpisah di perempatan gak jauh dari rumah Liana.
***
Kenaikan sabuk telah sampai di hari
H-nya. Randi datang barengan Tio ke depan rumah Tifa. Sebuah kebetulan yang jarang
terjadi. Pagi yang dingin dan sedikit bikin keduanya canggung. Randi datang
beberapa menit sebelum Tio, tepatnya waktu dia mematikan mesin motornya dan
menoleh karena melihat dari lampu spionnya ada motor yang berhenti di belakang
motornya.
Randi melepas helm dari kepalanya,
begitu juga Tio. Gak ada perintah buat melakukannya secara bersamaan tapi itu
yang terjadi. Tio turun dari motornya mendekati Randi.
“Kita ngejemput cewek yang sama?”
Randi mengangguk, dia bisa membaca
kecewa di mata Tio. Tifa muncul tergesa demi melihat ada dua motor di depan
rumahnya. Tas punggungnya terlihat bergerak ke kanan ke kiri dari belakang. Dua
motor?
Tapi semalam gak satu pun yang
menelpon atau mengirim pesan buat ngejemput, atau … astaga! Dia ketiduran
semalam, waktu yang nyaman karena hujan mulai menyapa dan dingin mengajaknya
merem lebih cepat dari biasanya. Sementara telepon genggamnya dibiarkan dalam
keadaan mati.



Komentar
Posting Komentar