https://id.pinterest.com/pin/17592254792282249/
SENDIRI DULU (seratus tiga)
BLOG NURLAELI UMAR- Suasana tempat
ujian mulai ramai. Ujian dilaksanakan di lapangan tertutup kampus tempat Tifa sekolah.
Pesertanya sangat banyak. Tifa memerhatikan semuanya sambil berpikir tentang
kapan semua akan selesai.
“Loe lupa turun, Tif?” Tanya Randi.
“Sabeum!”
“Belum juga masuk area sekolah baru
di pintu gerbang juga.”
“Jadi?”
Motor dimajukan setelah motor yang berada
di depan motor milik Randi memasuki gerbang, sedikit mengantri karena peserta
banyak sekali. Peserta dari luar, tapi masih dalam satu bendera “Dynasti.”
“Nah, sekarang saya akan memanggil
anda: Sabeum, apa Sabeum tidak ingin turun menyapa teman pengurus dari dojang
lain? Atau mau ikut saya ke tempat parkir?”
“Iya turun, iiiih … nyebelin!”
Randi tersenyum, dia merasa senang
menggoda TIfa, yang sebentar lagi peraturan mengharuskannya memanggil ‘sabeum’.
***
Tifa sibuk bersama sabeum dan panitia
menjamu tim penguji yang jumlahnya lumayan banyak, mereka bekerja dengan
bergantian.
Peserta mencapai empat ratus orang.
Setelah diadakan pemanasan secara massal kemudian sedikit pengarahan, mereka
diberikan nomor peserta berdasarkan tingkatan sabuk.
Karena, lumayan banyak jadi penilaian
dibagi ke dalam empat grup. Seperti biasa, para peserta tiap grup dibagi menjadi
beberapa kelompok lebih kecil, kali ini setiap kelompok berisi sepuluh orang.
Mereka diuji secara bersamaan, meski
penilaianya perseorangan. Bagi mereka tim penguji yang rata-rata sabeum nim
atau sabeum kepala dengan sekali lihat bisa mengukur kemampuan dan kekurangan
masing-masing peserta.
Suasana gak setegang kejuaraan, tapi
para peserta terlihat tegang karena gak ingin terlihat salah saat diuji.
Komentar
Posting Komentar