SENDIRI DULUN (seratus dua)
BLOG NURLAELI UMAR- “Kalian datang
barengan?” tanya Tifa sambil sedikit kaget.
“Gue semalam udah sms dan teleponm
tapi gak diangkat dan gak dibalas,” jawab Randi polos.
“Gue juga sama,” tambah Tio.
Tifa mengangguk-angguk, kedua cowok
di depannya memerhatikan sambil mencoba menerka, kelihatan dari mata mereka
berdua yang setengah menyipit.
“Baiklah.”
Tifa sambil mengeluarkan ponselnya. Dia
menyentuh untuk menyalakan, lalu mengecek log panggilan dan pesan.
“Jadi?” tanya Tio ingin tahu
kebenarannya.
“Gue yang salah, hape gue mati, dan
ini baru gue nyalain setelah semalam tidur kepulesan.”
Randi dan Tio menarik napas panjang,
mereka saling berpandangan. Randi mengangkat tangan tanda menyerah. Kemudian mencoba
menghidupkan mesin motor.
“Ran, loe yang datang duluan. Jadi
biar gue yang cabut.” Tio melakukan itu sambil menepuk pundak Randi.
“Tapi loe ‘kan ….”
“Gue laki Ran, lagian Tifa juga gak
akan mau dibonceng gue, kalau dia tahu loe yang datang duluan.”
“Terus loe, Kak? Gue jadi gak enak
gini.”
“Gue tunggu di tempat ujian.”
Belum sempat Randi berbicara lebih,
Tio sudah kembali ke motornya. Dan Tifa naik ke belakang Randi.
“Kita jalan, Ran!” kata Tifa sambil
menepuk bahu Randi
Tifa tahu Tio bukan seseorang yang
akan berbuat curang hanya demi sesuatu, jika kali ini dia mengalah dan
meninggalkan Randi itu memang karena Randi datang terlebih dahulu.
Minta maaf sama mereka? Memang dulu
pernah Tifa yang gak tegaan itu bersikap bergitu, tapi dia ditegur dan diberitahu
banyak sama Tio, kesalahan itu bagaimana dan bukan kesalahan itu bagaimana.
Meminta maaf untuk sesuatu yang bukan
kesalahan kita memang terlihat bijaksana tapi sebenarnya adalah merendahkan orang
lain, dan orang baik itu pantang untuk terlalu banyak meminta maaf.

Komentar
Posting Komentar