BLOG NURLAELI UMAR- Awalnya sebelum pesanan datang mereka terlihat canggung, terutama Tio sama Haris. Meski keduanya menyimpan cemburu dan kesal di mata mereka, Tifa tahu dan gak ambil peduli.
Tiga buah mangkuk baso, dua gelas teh manis
hangat, dan segelas air putih hangat datang di meja. Yang hangat-hangat begini memang pas untuk
bikin nyaman karena capek. Siapa bilang gak capek, meski terlihat cuma
jalan-jalan, mengatur, beramah–tamah, lalu latihan bersama saja. Kalau gak
capek karena itu, anggap saja capek karena durasinya. Bayangkan dari matahari
belum nongol sampai terik.
“Gimana tadi?” tanya Tio mulai
bicara.
“Lumayan puas, meski ada beberapa
yang sedikit buruk, karena jarang latihan. Mereka sibuk sama kegiatan lain dan
bersemangat ketika kenaikan sabuk aja.
“Eh, iya. Katanya ada kejuaraan
silat. Kok, kamu nongol di sini?” tanya Tifa ke Haris.
“Aku salah baca tanggal, Minggu
besok. Apa bisa datang?”
“Oh, jadi Haris juga pendekar?”
“Gak kok, Kak Tio. Cuma seneng aja
dari pada gak bisa.”
Tio tertawa mendengar cara Haris
merendahkan diri. Sedikit terbaca keras kepala. Antara ingin merendah sama
pengen kelihatant, begitu kesimpulan Tio.
“Kalau gue gak janji bisa datang,
Ris. Mungkin memang Minggu besok libur dari latihan, tapi gue juga udah lama
kangen nemenin Mama, Maaf. Tapi belum pasti juga sih, nanti kalau bisa gue
kabarin, deh.”
“Ya, maunya gue sih, loe bisa datang.
Sesekali lihat kegiatan bela diri di luar dunia loe. Maaf bukan bermaksud merendahkan
pengetahuan loe.”
“Kagak lah, gue sih kepingin, tapi ya
itu, gak janji. Takutnya sekarang bilang bisa, ternyata Minggu besok gue ada
kesibukan.”
Tiba-tiba terdengar bunyi nada
panggil dari ponsel Tio. Dia mengangkat tangan meminta diri menjauh untuk
menerima panggilan itu. Tifa dan Haris mengangguk.
Komentar
Posting Komentar