SENDIRI DULU (seratus lima)

 

Image; https://id.pinterest.com/pin/38702878042902498/
SENDIRI DULU (seratus lima)

BLOG NURLAELI UMAR- Awalnya sebelum pesanan datang mereka terlihat canggung, terutama Tio sama Haris. Meski keduanya menyimpan cemburu dan kesal di mata mereka, Tifa tahu dan gak ambil peduli.

 Tiga buah mangkuk baso, dua gelas teh manis hangat, dan segelas air putih hangat datang di meja.  Yang hangat-hangat begini memang pas untuk bikin nyaman karena capek. Siapa bilang gak capek, meski terlihat cuma jalan-jalan, mengatur, beramah–tamah, lalu latihan bersama saja. Kalau gak capek karena itu, anggap saja capek karena durasinya. Bayangkan dari matahari belum nongol sampai terik.

“Gimana tadi?” tanya Tio mulai bicara.

“Lumayan puas, meski ada beberapa yang sedikit buruk, karena jarang latihan. Mereka sibuk sama kegiatan lain dan bersemangat ketika kenaikan sabuk aja.

“Eh, iya. Katanya ada kejuaraan silat. Kok, kamu nongol di sini?” tanya Tifa ke Haris.

“Aku salah baca tanggal, Minggu besok. Apa bisa datang?”

“Oh, jadi Haris juga pendekar?”

“Gak kok, Kak Tio. Cuma seneng aja dari pada gak bisa.”

Tio tertawa mendengar cara Haris merendahkan diri. Sedikit terbaca keras kepala. Antara ingin merendah sama pengen kelihatant, begitu kesimpulan Tio.

“Kalau gue gak janji bisa datang, Ris. Mungkin memang Minggu besok libur dari latihan, tapi gue juga udah lama kangen nemenin Mama, Maaf. Tapi belum pasti juga sih, nanti kalau bisa gue kabarin, deh.”

“Ya, maunya gue sih, loe bisa datang. Sesekali lihat kegiatan bela diri di luar dunia loe. Maaf bukan bermaksud merendahkan pengetahuan loe.”

“Kagak lah, gue sih kepingin, tapi ya itu, gak janji. Takutnya sekarang bilang bisa, ternyata Minggu besok gue ada kesibukan.”

Tiba-tiba terdengar bunyi nada panggil dari ponsel Tio. Dia mengangkat tangan meminta diri menjauh untuk menerima panggilan itu. Tifa dan Haris mengangguk.



Komentar