Dear Diary 4

 

Image; https://id.pinterest.com/pin/624522673368225076/

Perempuan Itu Sudah di Kursi Roda

BLOG NURLAELI UMAR- Ini bukan cerpen, aku sedang ingin bercerita tentang penjual nasi uduk yang berjualan di dekat pertigaan jalan. Tidak terlalu jaun dari rumahku. Perempuan tua yang menyebalkan. Begitu adanya. Dia tidak ramah, mulutnya berisik ketika berbicara. Maksudku, dia bicara keras dan kadang tidak mengenakan.

Warungnya tiap pagi ramai, sampai menjelang siang. Dia tidak buka warung dua puluh empat jam. Aku salah satu pelanggannya. Alasannya hampir setiap orang sebenarnya, kenapa tetap membeli meski mulutnya tidak ramah. Kau tahu bukan, kalau pembeli adalah raja? Tapi, bagi dia berprinsip penjual adalah ratu. Satu-satunya alasan yang bisa dipertanggungjawabkan adalah nasi uduk dan kue-kue yang dijual di sana harganya sangat miring.

Sepiring nasi uduk dihargai enam ribu saja, lumayan untuk mengisi perut sebagai menu sarapan. Kalau ada uang lebih, bisa membeli kue-kue dan gorengan. Sementara di tempat lain dihargai delapan ribu rupiah untuk sepiring nasi uduk atau bahkan lebih. Bisa jadi karena lauknya sederhana saja, hanya bihun goreng, sedikit tempe orek, dan sambal tentu saja. Tetapi, kue-kuenya lumayan enak dibanding di tempat lain,

Harga gorengan dan kue pun hanya berkisar seribu sampai dua ribu lima ratus saja, sementara di pasar yang tidak jauh dari tempat ibu itu berjualan, atau nasi uduk lain yang lapaknya berjarak seratus meter dari warungan ibu itu harganya lebih mahal.

Rasa nasi uduknya biasa saja, tapi nasinya lumayan banyak dan kalau makan di tempat, apalagi sambil mengajak ibu penjual bicara, pasti akan dapat ekstra sambal. Nasi uduk dengan ekstra sambal saja masih enam ribu, ditambah dua gorengan hanya delapan ribu. Belum lagi akan mendapat teh tawar hangat gratis, plus pemandangan orang dan kendaraan hilir mudik. Bonusnya bisa mendapat kabar terbaru sekitaran secara gratis dan up to date.

Sudah lama aku tidak membeli nasi uduk di lapak itu. Bukan karena aku mempunyai tempat langganan baru, aku hanya sedang bersemangat untuk membikin sendiri sarapan. Lebih tepatnya berusaha mengirit dengan menu yang lebih bervariasi. Begitu ceritanya, meski kenyataannya uang yang kukeluarkan lebih banyak dari sepuring nasi uduk seharga enam ribu rupian.

Pagi dua minggu yang lalu, tiba-tiba aku merasa kangen dengan nasi uduk yang dijual ibu-ibu itu. Aku juga sedang ingin mendapat informasi yang berkembang di sekitaran. Tentu tidak bermaksud ikut menggossip. Tetapi, yang kudapat adalah kecewa. Lapak itu masih ada, meja yang dipakai pun sama, tetapi penjualnya sudah berubah menjadi lebih muda, dan aku tahu benar kalau itu bukan anak dari ibu penjual nasi uduk.

Aku balik badan,  dengan tangan kosong setelahnya, meski di depan gang tempatku tinggal juga ada penjual nasi uduk, hanya saja itu bukan tempat langgananku. Aku tidak berlangganan di sana dengan banyak alasan. Aku kembali ke rumah, dan terpaksa merubah menu sarapanku.

Beberapa hari setelahanya aku juga datang ke lapal itu lagi. Fix, lapaknya sudah diambil alih oleh orang lain, karena yang berjualan di sana benar-benar bukan ibu itu lagi. Aku lagi-lagi putar baik badan dan mengganti menu sarapanku. Aku sudah paham besok dan seterusnya aku tidak peru kembali untuk membeli nasi uduk dan kue-kuenya yang murah di sana.

Dua hari yang lalu, aku dengan bersepeda kembali dari sebuah toko penjual bahan-bahan kue -- aku memang membeli beberapa bahan untuk satu keperluan—aku berpapasan dengan seseorang yang tengah didorong oleh seorang laki-laki. Aku tidak terlalu memperhatikannya. Tapi, begitu mendekat, ada rasa penasaran yang teramat sangat. Deg! Perempuan yang didorong dan duduk di kursi roda itu adalah perempuan penjual nasi uduk, sementara yang mendoronga adalah suaminya.

Aku terlalu kaget, sehingga aku tidak menyapanya. Ada perasaan menyesal setelah kami agak menjauh. Meneysal kenapa aku tidak menyapanya tadi. Tetapi aku kembali sadar, apa yang harus kukatakan, perempuan penjual nasi uduk itu posisi kepalanya saja tidak tegak, dan tatapannya kosong.



 

 

Komentar