Puisi (69) Akhirnya Kau Menyerah

 

Image; https://id.pinterest.com/pin/68747881839/

Akhirnya Kau Menyerah

BLOG NURLAELI UMAR- Semua berawal dari kopi, lebih tepatnya kau menumpahkan kopi yang kupesan.

Aku ingin mengamuk saat itu, sadang hujan di luar begitu dingin.

Begitu pas untuk memaafkan orang sepertimu, padahal seharusnya aku tak ingin.

Aku berterima kasih kepada uang yang masih ada di dompetku.

Aku bisa memesannya kembali, setelah kujelaskan kejadiannya.

Karena , kasir dan barista itu tadinya sempat menggeleng menginginkan aku memakai Kris.

Oke, QRIS, aku tak ingin kau membetulkan penulisannya.

 


Kau tidak meminta maaf sebenarnya, lebih ke menyalahkanku dengan matamu.

Hanya saja teman yang datang bersamamu menyenggol sikumu, dan kau mengangguk meminta maaf.

Singkat, padat, dan angkuh.

Sayang setelah itu, kau lebih sering datang ke kafe ini, beberapa kali kita bertemu.

Dan , kau menjadi pemujaku. Menyebalkan, aku pun setuju.

 


Setelah hari itu, dan setengahnya hariku dan harimu banyak memburu kopi.

Aku dengan kopi susu dan kau dengan kopi hitammu.

Kita memang beda aliran, dan kau menjadi begitu bernapsu menjejaliku dengan ke-akuanmu.

Padahal seharusnya sebagai pemuja, kau harus lebih tahu banyak tentang ke-akuanku.

 


Aku menjadi begitu terbebani, langkah menuju motor bututku terasa menjadi berkilo-kilo ketika ingin menemuimu.

Kau yang menawariku tumpangan selalu terdengar seperti pedagang yang menawariku; Ayo, Kakak, bisa dipilih, ketimbang; Ayo, Sayang kita jalan.

Maka dari itu kita memilih kesepakatan.

Lebih tepatnya aku merencanakan dari awal agar kalau kita putus, kau tak tahu di mana aku bersembunyi dari luka dan berkawan air mata.

Seperti cerita dengan logika tak masuk akal dan diksi yang mbulet, akhirnya aku merasa bosan.

Dan, kau akhirnya menjadi pengkhianat dengan teman kencan baru yang kurasa dia penyelamat dari akhir ceritaku yang tragis.

Setidaknya kau akhirnya pergi menyudahi penderitaanku, dan kau pergi dengan bangga bisa mendapatkan apa yang kaumau.

Perempuan yang menurutku baik untuk egomu dan tempat ternyaman untuk ketidakpedulianmu.

 


TIga bulan kita menjauh.

Kulihat statusmu penuh dengan pamer. Kau begitu bahagia rupanya.

Aku kembali berburu kopi, menikmati wajah-wajah orang yang masuk dan keluar.

Menikmati kesendirian dengan menjadi lebih banyak menelaah.

Lebih sering membaca pesan masuk mereka yang bertanya kabar.

Sederhana.

 


Tiga bulan setelahnya, kau kembali.

Kau datang dengan menumpahkan kopi.

Sepertinya kau punya rencana untuk kita mengulang masa itu lagi.

Kau bercerita bahwa aku perempuan paling baik setelah ibumu.

Aku tertawa dan tertawa. Lalu, aku menggelengkan kepala.

‘’Sorry, kali ini kau harus mengganti kopiku. Ini kopi hitam pertamaku. Terima kasih ceritanya, tapi Anda salah orang!’’

 


Komentar