Image; https://id.pinterest.com/pin/68747881839/
Akhirnya Kau Menyerah
BLOG NURLAELI UMAR- Semua
berawal dari kopi, lebih tepatnya kau menumpahkan kopi yang kupesan.
Aku ingin
mengamuk saat itu, sadang hujan di luar begitu dingin.
Begitu pas
untuk memaafkan orang sepertimu, padahal seharusnya aku tak ingin.
Aku berterima
kasih kepada uang yang masih ada di dompetku.
Aku bisa
memesannya kembali, setelah kujelaskan kejadiannya.
Karena ,
kasir dan barista itu tadinya sempat menggeleng menginginkan aku memakai Kris.
Oke, QRIS,
aku tak ingin kau membetulkan penulisannya.
Kau tidak
meminta maaf sebenarnya, lebih ke menyalahkanku dengan matamu.
Hanya saja
teman yang datang bersamamu menyenggol sikumu, dan kau mengangguk meminta maaf.
Singkat,
padat, dan angkuh.
Sayang
setelah itu, kau lebih sering datang ke kafe ini, beberapa kali kita bertemu.
Dan , kau
menjadi pemujaku. Menyebalkan, aku pun setuju.
Setelah hari itu,
dan setengahnya hariku dan harimu banyak memburu kopi.
Aku dengan
kopi susu dan kau dengan kopi hitammu.
Kita memang
beda aliran, dan kau menjadi begitu bernapsu menjejaliku dengan ke-akuanmu.
Padahal
seharusnya sebagai pemuja, kau harus lebih tahu banyak tentang ke-akuanku.
Aku menjadi
begitu terbebani, langkah menuju motor bututku terasa menjadi berkilo-kilo
ketika ingin menemuimu.
Kau yang
menawariku tumpangan selalu terdengar seperti pedagang yang menawariku; Ayo,
Kakak, bisa dipilih, ketimbang; Ayo, Sayang kita jalan.
Maka dari
itu kita memilih kesepakatan.
Lebih
tepatnya aku merencanakan dari awal agar kalau kita putus, kau tak tahu di mana
aku bersembunyi dari luka dan berkawan air mata.
Seperti
cerita dengan logika tak masuk akal dan diksi yang mbulet, akhirnya aku merasa
bosan.
Dan, kau
akhirnya menjadi pengkhianat dengan teman kencan baru yang kurasa dia
penyelamat dari akhir ceritaku yang tragis.
Setidaknya
kau akhirnya pergi menyudahi penderitaanku, dan kau pergi dengan bangga bisa
mendapatkan apa yang kaumau.
Perempuan
yang menurutku baik untuk egomu dan tempat ternyaman untuk ketidakpedulianmu.
TIga bulan
kita menjauh.
Kulihat
statusmu penuh dengan pamer. Kau begitu bahagia rupanya.
Aku kembali
berburu kopi, menikmati wajah-wajah orang yang masuk dan keluar.
Menikmati kesendirian
dengan menjadi lebih banyak menelaah.
Lebih
sering membaca pesan masuk mereka yang bertanya kabar.
Sederhana.
Tiga bulan
setelahnya, kau kembali.
Kau datang
dengan menumpahkan kopi.
Sepertinya
kau punya rencana untuk kita mengulang masa itu lagi.
Kau bercerita
bahwa aku perempuan paling baik setelah ibumu.
Aku tertawa
dan tertawa. Lalu, aku menggelengkan kepala.
‘’Sorry,
kali ini kau harus mengganti kopiku. Ini kopi hitam pertamaku. Terima kasih
ceritanya, tapi Anda salah orang!’’
Komentar
Posting Komentar