Puisi (68). Lelaki Bernama Sialan

 

Image; https://id.pinterest.com/pin/1124211125745544103/

Lelaki Bernama Sialan

 

BLOG NURLAELI UMAR- Kau pernah datang ke satu hati, tapi kau menginginkan aku di tujuan yang lain.

Apa hatimu dua, terbiasa mendua, atau memang hatimu terbelah dua.

Aku tidak tahu terlalu banyak, tetapi saat itu kau menginginkanku dan menemui dia.

Atau justru skenarionya, kamu ngin menemuiku, tapi kau takut dengan penolakanku.

Bisa iya, bisa tidak dua-duanya.

 


Senja itu kereta mengantarkanmu pulang setelah harga dirimu kau gadaikan dengan semangkuk traktiran.

Mangkuk yang dia ungkit setelah kejadian, karena kau menghabiskan sisa makanan dari mangkuknya.

Dia mengira itu tandamu mencitai, aku menunjuk kau tak punya harga diri.

Lelaki pecundang dan tak punya uang.

 


Setelah sekian perjalanan kau mengumumkan aku adalah pemenang hatimu.

Dua hari sesudahnya kau memilih dia di sampingmu.

Kau itu membosankan, lelaki dengan wajah pas-pasan yang tidak punya perasaan.

Benar kata ibuku, jangan pernah mencintai orang buruk rupa dan buruk adat.

Sudah buruk, menyusahkan juga pada akhirnya.

 


Dulu aku tertawa, karena rupa buruk bisa dipermak, seperti celana jeans milikku.

Ternyata, permak muka tidak memermak isi kepala, juga harga diri.

Sekarang aku juga tertawa, ternyata apa yang kutertawakan kejadian juga.

Setidaknya, seandainya disakiti oleh orang berparas menarik, ada sedikit harga diri, meski sakit.

 


Kau akhirnya pergi dariku, menentukan pilihanmu dengan mantap.

Aku merelakannya di awal, tapi setelahnya aku justru mesti berterima kasih padamu.

Entah apa jadinya, jika aku benar-benar  ada bersamamu.

Hilang harga diriku di depan diriku dan teman-temanku.

 


Cerita berlanjut, kau ternyata akhirnya memutuskan dia.

Mendekat padaku, seolah mengabari angin dan langit, kalau akulah alasan terbaik untuk semuanya.

Kau lupa aku dulu manusia saja, tapi setlah mendapati kebusukanmu aku juga ular.

Kau tak kuizinkan kembali, bahkan meski dalam mimpi.

 


Kau terus saja mengonggong, cosplay menjadi anjing.

Berharap hatiku runtuh, seperti durian matang pohon.

Aku sudah jauh melangkah, aku tak ingin menoleh apalagi kembali.

Yang kutemui sudah lebih banyak, dari sekadar kamu yang merintih.

 


Kau berputus asa dan mengumumkan kepada dunia kini kau telah berdua.

Memajang foto prewedding dengan balutan lagu sedih berharap bahagia.

Kau bahagia atau pura-pura agar aku kalah dan patah sepertinya.

Atau memang dari awal sebenarnya kau telah berdua dan hanya mempermainkan aku dan yang lainnya.

Sama saja, kau bagiku hilang, dan aku tak ingin mencarinya ke mana-mana.

Aku tidak peduli, kau bagiku tak ada. Semua hanya mimpi buruk dari tidur, aku yang lupa baca doa.

 

 


 

Komentar