Image; https://id.pinterest.com/pin/1124211125745544103/
Lelaki
Bernama Sialan
BLOG NURLAELI UMAR- Kau pernah
datang ke satu hati, tapi kau menginginkan aku di tujuan yang lain.
Apa hatimu
dua, terbiasa mendua, atau memang hatimu terbelah dua.
Aku tidak
tahu terlalu banyak, tetapi saat itu kau menginginkanku dan menemui dia.
Atau justru
skenarionya, kamu ngin menemuiku, tapi kau takut dengan penolakanku.
Bisa iya,
bisa tidak dua-duanya.
Senja itu
kereta mengantarkanmu pulang setelah harga dirimu kau gadaikan dengan semangkuk
traktiran.
Mangkuk
yang dia ungkit setelah kejadian, karena kau menghabiskan sisa makanan dari
mangkuknya.
Dia mengira
itu tandamu mencitai, aku menunjuk kau tak punya harga diri.
Lelaki
pecundang dan tak punya uang.
Setelah
sekian perjalanan kau mengumumkan aku adalah pemenang hatimu.
Dua hari
sesudahnya kau memilih dia di sampingmu.
Kau itu
membosankan, lelaki dengan wajah pas-pasan yang tidak punya perasaan.
Benar kata
ibuku, jangan pernah mencintai orang buruk rupa dan buruk adat.
Sudah
buruk, menyusahkan juga pada akhirnya.
Dulu aku
tertawa, karena rupa buruk bisa dipermak, seperti celana jeans milikku.
Ternyata,
permak muka tidak memermak isi kepala, juga harga diri.
Sekarang
aku juga tertawa, ternyata apa yang kutertawakan kejadian juga.
Setidaknya,
seandainya disakiti oleh orang berparas menarik, ada sedikit harga diri, meski
sakit.
Kau
akhirnya pergi dariku, menentukan pilihanmu dengan mantap.
Aku
merelakannya di awal, tapi setelahnya aku justru mesti berterima kasih padamu.
Entah apa
jadinya, jika aku benar-benar ada
bersamamu.
Hilang
harga diriku di depan diriku dan teman-temanku.
Cerita
berlanjut, kau ternyata akhirnya memutuskan dia.
Mendekat
padaku, seolah mengabari angin dan langit, kalau akulah alasan terbaik untuk
semuanya.
Kau lupa
aku dulu manusia saja, tapi setlah mendapati kebusukanmu aku juga ular.
Kau tak
kuizinkan kembali, bahkan meski dalam mimpi.
Kau terus
saja mengonggong, cosplay menjadi anjing.
Berharap
hatiku runtuh, seperti durian matang pohon.
Aku sudah
jauh melangkah, aku tak ingin menoleh apalagi kembali.
Yang kutemui
sudah lebih banyak, dari sekadar kamu yang merintih.
Kau
berputus asa dan mengumumkan kepada dunia kini kau telah berdua.
Memajang
foto prewedding dengan balutan lagu sedih berharap bahagia.
Kau bahagia
atau pura-pura agar aku kalah dan patah sepertinya.
Atau memang
dari awal sebenarnya kau telah berdua dan hanya mempermainkan aku dan yang
lainnya.
Sama saja,
kau bagiku hilang, dan aku tak ingin mencarinya ke mana-mana.
Aku tidak
peduli, kau bagiku tak ada. Semua hanya mimpi buruk dari tidur, aku yang lupa
baca doa.
Komentar
Posting Komentar