Image; https://id.pinterest.com/pin/720998221632383100/
SENDIRI DULU (seratus dua belas)
BLOG NURLAELI UMAR- Mungkin benar ada kalanya Tuhan menurunkan dengan cara meletakkan, menyentuh. Tapi, kadang kala dengan melempar. Melempar kepada permasalahan agar saling belajar, saling memahami, dan merasai manis lebih dari yang terlintas di benak.
“Gimana mama gue,
Kak?”
Tio mengangguk mengakui kehebatan
mama Tifa. Gadis itu tersenyum senang.
“Tif, gue mau kita balikan lagi. Gue
udah berusaha untuk berubah.”
“Kalau gue gak mau, apa itu membuat Kakak
merasa jika perubahan itu sia-sia?”
“Gak, gue berubah karena gue suka dan
mau. Loe ngajarin gue banyak, dari peduli dan berbagi. Kalau loe gak bilang
putus, dulu, gue gak tahu apa itu namanya rindu, cemburu, dan rasa kehilangan.
Jadi kalau sekarang loe gak nerima gue buat kembali, gue akui itu menyakitkan.
Mungkin gue gak pantas buat loe, mungkin ada orang lain yang lebih ngertiin
loe, mungkin ….”
“Stop! Gue nyaman dengan kesendirian
ini, dan gue merasa belum siap untuk berdua lagi. Itu aja.”
“Tapi kita ‘kan cuma pacaran.”
“Kita masih sama-sama anak SMA, meski
sebentar lagi Kakak kuliah. Tapi sungguh gue lebih senang kita bersahabat.”
Tio manggut-manggut, “Buat gue
penolakan ini adalah sakit yang ke dua, Tif. Tapi gue juga gak bisa menolak
untuk mengiyakan kata-kata loe. Mungkin gue butuh waktu sekitar dua atau tiga
hari, dan gue harap loe jangan ngubungin gue dulu.”
Tifa mengangguk menyetujuinya. “Gue
juga udah mikir ini dari lama, Kak. Kejadian karena ulah Liana banyak kasih
masukan.”
“Iya, gue tahu sepak terjang Liana.
Gue mau minta maaf kalau selama ini gue deket sama dia, sebenanya itu bukan mau
gue. Gue sayang sama loe dan belum tergantikan. Maaf … bukan maksud gue ngerayu
biar loe luluh.”
“Gue tahu kok, Kak. Meski gue pernah
kesel sama loe karena terlihat lebih ngebela Liana dengan diam loe. Tapi gue
percaya kalau loe masih sayang gue, Kak. Gue juga masih sayang loe. Tapi bukan
berarti gue mau balik pacaran lagi.”
“Gue pulang dulu, perlu pamit sama
Mama gak?”
“Gak usah, nanti gue sampein.”
Tio meneliti wajah Tifa, cewek cantik
di depannya tampak sedikit malu-malu. Gadis ini telah memberi luka sekaligus
cahaya. Dia juga selama ini merasa jika jarak yang pernah ada membuat dirinya
belajar banyak.
“Ternyata loe selangkah lebih bijak
dari gue, Tif. Lebih mencerna semuanya, meski gue juga merasakan hal yang sama.
Tapi gue gagap.”
“Itu kan biasa, Kak.”
“Maksud loe gue lebih lemot dari
loe?”
“Bukan! Tapi cewek itu pemikirannya lebih
tua lima tahun dari umurnya disbanding cowok dengan umur yang sama.”
“Iya, mungkin gue besok panggil loe
nenek aja.”
Tifa ketawa. Dia senang, suasana
romantis yang hampir saja kembali datang melenggang begitu saja dan cair. Ini
baik buat mereka berdua.
“Boleh gue peluk loe, mungkin ini
pelukan terakhir gue sebagai pacar loe.”
Tifa mengedipkan matanya. Tio
merengkuh tubuh Tifa, hanya sekejap tapi cukup membuat dirinya bisa tegap untuk
melangkah pulang.
Setelah melepaskan pelukan Tio
berpamit diri, dan Tifa mengantarnya sampai ke depan pintu pagar. Dia mengikuti
dengan matanya kepergian Tio sampai menghilang dari pandangan. Gak ada air
mata, hatinya mantap untuk melepaskan. Selarik senyum menghiasi wajah cantik
itu mengantar angin menerbangkan serpihan pita merah antara dirinya dan Tio.
Catatan: Seonbae=senior,
hubae=junior, hyungrye=hormat, dojang= tempat
latihan, sabeum=pelatih/guru, sabeum nim= sabeum kepala.
Biodata:
Penulis bernama pena Nurlaeli Umar,
ibu tiga anak. Saat ini berdomisili di Jakarta. Menulis dengan romance teenlit
memberi tantangan tersendiri, karena masa remaja yang sudah jauh terlewati.
Ini adalah novel pertama yang dibuat setelah
karya- karyanya selama ini yang berupa cerpen, FF, puisi masuk dalam antologi-antologi,
sebelum novel-novel yang lainnya.
Penuli berharap tulisan ini
bermanfaat dan menghibur.
Facebook: @Nurlaeli Umar, @Nurlaeli
(Nurlaeli Umar Dua)
Twitter: @nurlaeliumar
Komentar
Posting Komentar