SENDIRI DULU (seratus enam)

 

Image; https://id.pinterest.com/pin/2533343537826377/


SENDIRI DULU (seratus enam)

BLOG NURLAELI UMAR- Ekor mata Tifa mengikuti langkah Tio. Tio kelihatan serius, beberapa kali bicara dan banyak menganggukan kepala. Dia kembali ke meja tempat Tifa dan Haris duduk.

“Sorry, Tif. Sepertinya loe mesti pulang bareng Haris. Ada telepon dari Mama, dan gue mesti pulang cepat.”

“Penting?”

“Ada saudara dari kampung mendadak datang, tadinya mau bikin surprise gak tahunya salah jalan. Dan gue mesti nemenin Mama buat jemput.”

Tifa mengangguk mempersilakan, dia merasa sudah mengecewakan Tio, setelah kejadian tadi pagi. Meski semua itu bukan salahnya. Dia cuma membayangkan jika dia di posisi Tio.

“Loe gak papa, kan, Ris? Tolong antar Tifa selamat sampai rumah nanti. Kalau sedikit tergores loe mesti ngadepin gue,” canda Tio serius.

“Iya, Kak,” balas Haris.

Tio meninggalkan mereka berdua, untung makanan pesanan milik Tio sudah habis, sayang jika dibuang begitu saja karena gak termakan. Sayang karena enaknya dan uangnya.

Berkelebat ingatan Tifa tentang firasat. Haris dikenalnya lewat photo yang diberikan Randi saat Minggu seperti ini, usai latihan taekwondo. Malamnya dia memerhatikan senyum Haris yang memberikannya firasat buruk yang akan terjadi.

Tifa mengkhawatirkan tentang Haris, meski tentang Liana juga. Kemarin, Liana mengakui jika Haris adalah dalang dari semua rencananya. Dan, yang lebih membuat sempurna saat ini Haris ada di depan matanya. Jadi kesimpulannya firasat itu benar.

Dan, apa yang sekarang mesti dilakukan? Menghukum Haris, atau ….

“Loe nungguin gue dari kapan? Apa ini karena kejuaraannya diundur, terus loe jenuh mau ngapain?”

“Iya, itu ada benernya juga, kangen aja sama loe, Tif. Boleh, kan?”



Komentar