Image; https://id.pinterest.com/pin/256212666296851415/
SENDIRI DULU (seratus sebelas)
BLOG NURLAELI UMAR- Sabtu malam
dengan dua loyang martabak manis, empat bungkus nasi goreng, sepiring sosis
buatan mama, delapan gelas jus jeruk, petikan gitar, dan enam orang undangan.
Suasana beranda rumah Tifa tampak semarak,
tangan-tangan yang bergantian mengambil makanan dan menyuap ke mulut mereka, sesekali
iseng saling menyuapi, lelucon yang membuat Tifa ngakak, dan Anita mesti dua kali
minta izin ke toilet, juga suara Katarina yang merdu bersahutan sama Randi.
Siapa menyangka setelah semuanya
kebahagiaan ini bisa hadir. Mungkin benar ada kalanya Tuhan menurunkan dengan
cara meletakkan, atau menyentuh. Tapi kadang kala dengan melempar. Melempar
kepada permasalahan agar saling belajar, saling memahami, dan merasai manis
lebih dari yang terlintas di benak.
“Tif, ini udah jam sembilan gue
pamit,” kata Katharina.
“Gue udah kenyang, jadi harus
pulang,’ sahut Haris senang.
“Kalau gue takut dimarah Mama, jadi
maaf ya,” celetuk Angga. Semuanya ketawa.
“Makasih makanannya, Tif. Enak,” ujar
Angga.
“Terimakasih sama gue donk, nasi
gorengnya gue yang bawa,” selisih Randi
“Kalau gue … pulangnya sebentar
lagi,” jelas Tio.
Yang lain hanya saling berpandangan.
Mereka ngerti tanpa harus diberi penjelasan lebih.
Setelah keenam yang lain menghilang,
suasana terasa sekali berbeda menjadi sepi. Mama yang tadi sempat dipamiti
sebelum keenamnya menghilang akhirnya bergabung bareng Tifa sama Tio. Tapi itu
pun cuma sebentar, sementara Tifa memasukkan gelas dan piring sisa mereka tadi.
“Mama ke dalam, jangan terlalu malam.
Jam sepuluh tepat Nak Tio harus pulang. Maaf Tante sedikit kejam.”
“Enggak kok. Saya malah lebih suka
begitu. Tifa juga perlu istirahat.“
‘’Iya, Tante tahu itu. Terimakasih
ya, sudah mau memaklumi.”
Tio mengangguk, mempersilakan Mama
Tifa yang masuk. Tifa nyengir saja melihat mama yang gak pernah berubah, dia
menyukai gaya mama santai tapi tegas.
Komentar
Posting Komentar