Image; https://id.pinterest.com/pin/1118229782495186090/
SENDIRI DULU (seratus sembilan)
BLOG NURLAELI UMAR- “Karena loe dekat
sekali sama dia, bahkan gue pernah lihat kalian saling pegangan tangan saat
makan di luar.”
Muka Haris memerah, dia merasa
terjebak dengan pertanyaan Tifa. Itu adalah satu-satunya kejadian dia memegang
tangan Liana, tapi itu buat sebuah kesepakatan tentang satu misi. Dia mendapat
Tifa dan Liana mendapatkan Angga!
“Loe lihat gue? Tapi gak ada loe di
sekitar sana.”
Pernyataan yang bodoh, tanpa dipikir
panjang itu malah akan semakin memojokkan Haris tanpa Tifa dorong. Uhg!
“Ada apa antara loe sama Liana, dan
sekarang loe bilang sayang sama gue?”
Gak mungkin Haris bilang kalau Liana
itu adalah teman berkomplotnya dan dia adalah otak dibalik semuanya. Tapi, rasa
meletup di dadanya adalah benar, sayang itu bukan hanya ada tapi bergeming gak
mau pergi. Dia menjadi subur seiring dirinya makin mengenal Tifa. Haris ingin
menyudahi semuanya dengan berbicara bahwa dia sayang kepada TIfa, menyudahi
semua kelicikan tanpa terbongkar. Dalam otaknya dia akan menghapus pelan-pelan
semua hitam yang dia torehkan.
Tifa meneliti wajah Haris. Anak
lelaki itu mencoba melemparkan pandangan ke luar, mungkin jika bisa tubuhnya
pun ingin berlari terbang pergi dari sini. Semuanya di luar dugaan. Dia hanya
mempunyai dua kemungkinan ditolak atau diterima, tapi kali ini dia ingin semua
keputusan itu didapatnya dengan citra bersih.
“Kita pulang, Tif! Mendung udah
tebal, aku gak mau kita kehujanan.”
“Ris, sebentar. Gue mau bilang, kalau
gue gak mau pacaran dulu untuk saat ini. Gue mau konsentrasi belajar, mungkin
nanti kalau gue udah yakin dengan seseorang, gue akan bilang ke orang itu kalau
gue mau pacaran. Itu juga kalau orang itu punya rasa dan komitmen untuk jalin
hubungan sama gue. Gue harap loe tetap mau berteman baik sama gue.”
“Jadi loe gak sayang sama gue?”
“Sayang sebagai sahabat tentu saja,
loe, Randi, Angga, dan Tio, semua orang- orang terbaik yang Tuhan kirim buat
gue.”
Haris tersenyum pahit mendengar
jawaban itu. Tifa tahu luka itu luka yang sama dengan luka yang dia beri pada
Angga dan Randi kini bersemayam di hati Haris. Tapi dia percaya, seiring waktu
akan sembuh.
“Ayo kita pulang!” ajak Tifa sambil
bangun dari duduknya.
Haris mengekor di belakang Tifa
menuju pintu keluar. Untuk selanjutnya dia mengambil motor dan membawa tubuh
cewek yang membuat jatuh cinta itu ke rumahnya. Dia gak turun dari motornya
ketika sampai di sana, kecuali sebuah anggukan untuk tawaran mampir yang ditolaknya.
***
Komentar
Posting Komentar