Image; https://id.pinterest.com/pin/844493675409083/
SENDIRI DULU (seratus sepuluh)
BLOG NURLAELI UMAR- Lima hari Tifa pulang
sendiri, tawaran Angga, Randi untuk mengantar sampai depan pintu pagar rumah
ditolak. Tifa cuma bareng Anita sama Katarina sampai depan pintu gerbang kampus
saja. Sebab arah yang ditempuh mereka berbeda. Dan meski Tio bergabung dalam
kelompok pembimbing peserta olympiade sains sekalipun. Tifa tetap pulang
sendiri.
Padahal, Tifa ingin Tio bercerita tentang
penjemputan saudaranya yang tiba-tiba waktu mereka ada di kafetaria selepas
kenaikan sabuk dan membuat Tifa harus pulang diantar Haris.
Bukan rindu, hanya ingin tahu saja.
Pasti ceritanya akan sedikit membuatnya terhibur, melipur diri dari tekanan soal-soal
yang butuh konsentrasi penuh.
Mengirim pesan atau mencoba menelpon terlebih dahulu
bukan pantangan bagi Tifa, cuma dia tahu Tio juga sudah cukup lelah untuk mengurusi
hal sepele seperti itu. Belum lagi Tio sekarang lagi fokus untuk untuk menghadapi
tahun-tahun terakhir.
Sebuah panggilan masuk. Tifa
mengangkat telepon genggamnya. Tio?
“Halo!”
“Udah sampai rumah, kok.”
“Gak mau ganggu aja, Kakak kan
sibuk.”
“Hahaha … masih bisa lah, masak
pendekar nangis.”
“Malam Minggu?”
“Emmm … oke, tapi syaratnya bawa
gitar sama martabak ya, dan jangan terlalu
malam.”
“Aku ‘kan harus latihan.”
“Tahu aja, baiklah. Tapi, Randi juga
mau datang. Gimana?”
“Gak jadi? Kok diem?.”
“Oke, gue rasa biar impas Randi juga
harus bawa nasi goreng.”
“Biarin sesekali gak bikin gendut,
kok.”
“Oke, makasih Kak.”
“Oh, salah ya? Oke diralat deh kalau
gitu, sama-sama.”
***
Komentar
Posting Komentar