Image; https://id.pinterest.com/pin/1900024839006406/
SENDIRI DULU (seratus tujuh)
BLOG NURLAELI UMAR- “Sejak kapan gue
ngelarang loe atau orang lain kangen? Gue sih, seneng-seneng aja, berarti loe
care sama gue.”
“Loe tadinya mau pulang sama Randi
atau Tio?”
“Memang kenapa? Mereka datang tadi
pagi barengan, dan Randi ngasih kesempatan buat Tio nganterin gue, soalnya tadi
pagi gue diboncengin Randi.”
“Kok bisa gitu?” tanya Haris sedikit
terbaca cemburu.
“Karena Randi datang beberapa menit
sebelum Tio.”
“Kalau sekarang?”
“Kalau loe mau ya … anterin gue
pulang, kalau kagak ya … gue pulang sendiri.”
“Ya gue anterinlah. Masak gue biarain
loe jalan sendiri, terus apa maksudnya gue nemuin loe kemari?”
“Ya, gue gak tahu, biasanya ‘kan loe
ada janji sama Liana.”
“Gue sayang loe, Tif,” kata Haris
tanpa basa-basi.
Akhirnya dia mengakui perasaannya.
Tifa menunduk sambil memainkan sendok di piringnya. Sudah habis baso dan
temannya, hanya tinggal sedikit kuah yang sekarang sudah dingin.
Haris menunggu, dia memerhatikan
semua dari gadis di depannya itu. Rambutnya yang legam, kulit mukanya yang
halus, dan kebisuannya karena pernyataannya. Tapi Haris enggan menarik
kata-katanya lagi. Dia sudah menunggu saat seperti ini setelah dirinya yakin
bahwa dia benar-benar jatuh cinta.
Komentar
Posting Komentar