Cerpen 21. Pulang

 

Image; https://id.pinterest.com/pin/63191201016346006/

Pulang 

BLOG NURLAELI UMAR- Kematian berarti perpisahan yang panjang. Entah berapa lama kita bisa bertemu lagi dengan mereka yang mendahului pergi. Entah bisa bertemu lagi, entah tidak. Jadi, semasa bersama berikan yang terbaik yang kita bisa. Mungkin, begitu seharusnya.

Isakan dan kabar dari kakak perempuannya semalam di handphone itu membuatnya ada di tanah ini dengan tergesa. Semua itu seperti kilat dari langit yang menyambar pohon, membuatnya tak bisa lagi menahan kekerasan hatinya untuk tak pulang. Jarak yang biasa ditempuh dalam tujuh jam itu tiba-tiba menciut hampir setengahnya. Dia memacu mobilnya entah dengan kecepatan berapa, sehingga dalam empat jam saja bisa membuatnya menyibak kerumunan di depan rumahnya yang berbendera kuning.

Ketiga kakak perempuannya menghambur melihatnya datang. Mereka menuntunnya ke depan sebujur jenazah. Laki-laki itu memucat, dia bahkan tak bisa menangis. Mungkin, karena teramat sedih. Beberapa orang memang tak bisa menangis ketika rasa sedihnya melewati puncak. Hanya dalam hitungan detik tubuhnya jatuh pingsan.

Tetapi, setelah jenazah kakaknya disalatkan dia bersikeras ikut memanggul keranda sampai ke samping liang lahat. Hanya dia dan mendiang kakaknya yang lelaki, tiga saudara yang lain perempuan. Dia dan mendiang kakaknya itu hanya terpaut tiga tahun. Tapi, baginya mendiang kakaknya itu lebih dari sekadar kakak, dia juga adalah ayah, sosok yang menyusul ibunya pergi ketika dia belum genap berusia sepuluh tahun.

Istri mendiang kakaknnya hanya melihatnya sekilas, dia dalam kesedihan yang membuatnya membisu. Laki-laki itu membiarkan semua dan tidak ingin menghiburnya. Membiarkan perempuan itu dikelilingi kerabat perempuan yang tak henti melantunkan doa.

Adakalanya, orang yang dirundung kesedihan itu lebih baik dibiarkan sementara, menghiburnya justru akan membuat kesedihan makin menyayat. Laki-laki itu sangat ahli dan paham untuk hal seperti ini. Bahkan, dia sendiri butuh dua puluh tahun untuk menyendiri.

Dua hari setelahnya dia masih di sini. Di sebuah tempat semula berasal. Dengan semua yang tak sama lagi. Orang-orang baru, anak-anak dengan wajah asing, dan kawan lama yang sudah beranak pinak, tak muda lagi dan beruban. Rumah-rumah tak lagi sama, orang-orang yang dia kenal sebagian sudah tiada, sama seperti kedua orangtuanya yang pergi berpulang jauh sebelum dia meninggalkan tanah ini. Kesedihannya begitu nampak, meski dia mencoba bersikap tegar.

“Kau tidak terburu-buru, bukan?” Laki-laki di seberang meja adalah kawan masa kecil yang sekarang sudah mempunyai tiga anak dan satu menantu. Mungkin setahun lagi dia mempunyai cucu.

“Tidak. Apa aku harus cepat kembali ke kota, agar kau merasa nyaman?”

“Dua puluh tahun kau menghilang. Minum kopimu, biar nyawamu kumpul dan sadar kalau kau pernah menghirup udara dan meminum air dari sini!”

“Aku bukan tak pernah rindu, hanya saja tak pernah ada waktu. Kau bayangkan saja, satu hari hanya dua puluh empat jam, sedang jadwalku bertambah seiring detik. Aku bahkan tak pernah punya waktu sekadar untuk membeli sepatuku sendiri.”

Laki-laki itu tertawa, seolah itu adalah hal lucu. Dia mengambil gelas yang berisi kopi, menyesapnya sedikit, lalu meletakkannya lagi.

“Kau menyebalkan, masih sama ketika kita masih sekolah dulu. Bagaimana mungkin aku memintamu untuk tinggal lebih lama? Kau sudah menjadi orang sukses, tak perlu desa ini lagi. Aku hanya kawanmu, bahkan kakak-kakakmu saja tak bisa merayumu. Apa kau sadar, kau merantau sekian lama dan baru kembali saat kakakmu mati?”

“Aku ....”

“Baiklah, terserah padamu. Aku tak paham sesibuk apa duniamu. Bahkan, dengan penjelasanmu tadi. Aku pernah mendengar dari kakakmu ketika keponakanmu disunat, kau sedang di Eropa, aku juga pernah mendengar kau di China. Saat itu kau datang berupa bingkisan dan amplop tebal yang diantar orang suruhanmu. Tapi, kenapa kau tak pernah ke sini? Tak pernah rindu padaku sekalipun? Apa tanah di sini lebih jauh dari negara-negara yang kausinggahi? Mungkin, sepiring singkong bakar tak pernah memanggilmu, meski sebelum semuanya masuk ke perutku, aku selalu menyelipkan namamu dalam doaku.”

“Kau benar, maafkan aku. Tapi, semua bukan salahku. Seiring waktu semua berubah, bukan? Aku, kau, Waris, Anwar. Mereka tak sama lagi, bukan?”

“Benar apa yang kau katakan. Tapi, mereka ada di pemakaman kakakmu. Sesekali kami saling mengunjungi.”

“Wajar, mereka tinggal dekat sini.”

“Kau bahkan tidak tahu, jika Waris usahanya bangkrut, untuk datang ke kota ini mesti berhutang, dan Anwar adalah laki-laki dengan tongkat yang menyapamu dengan meraba wajahmu sambil menangis.”

“Dia?”

“Kau benar semua berubah. Tapi, aku lebih tahu dari dirimu tentang dirimu sendiri. Kau masih sama seperti dulu, hanya saja kau tak di sini. Kau masih suka mengorbankan dirimu untuk kebahagiaan orang lain, kau masih orang yang peduli dengan keluarga, kudengar kau rajin mengirimi keempat kakakmu.”

“Kau masih saja bermain tokoh cenayang seperti dulu.”

“Tapi, dari semuanya hanya satu yang salah. Kau! Kukira kau akan merindukan kita.”

“Maafkan aku tak sempat memperhatikan kalian.”

“Bukan masalah, kita menjalani takdir masing-masing, dan hidup di sana tidak lebih mudah dari di sini. Cukup bagi kami kau memperhatikan keluargamu. Tapi, setidaknya datanglah, kami rindu. Ada yang tak bisa dibeli dengan uang, begitu kata-katamu dulu.”

Seseorang datang memberitahukan sesuatu. Pembicaraan selesai. Laki-laki itu berpamitan. Kopi di gelas miliknya tadi masih terlihat penuh. Dia tadi menyesapnya pura-pura saja. Mungkin karena masih terlalu panas. Kawan lama itu hanya menatapnya dengan kepala penuh, banyak hal yang ingin dia katakan tapi tertahan.

Semua benar-benar berubah dan asing. Tak ada yang menyapanya seperti dulu, kecuali hanya beberapa saja. Langkahnya dipercepat, ada hal yang ingin dibahas. Kata dibahas itu begitu mengganggunya.

Dua kakak perempuannya sudah menunggu. Istri mendiang kakaknya ikut duduk setelah menuang air putih di tiga gelas yang sekarang ada di meja. Mata mereka masih sembab, kesedihan mereka rasakan masih teramat sangat. Pembicaraan tak lebih mengenai masa depan ketiga anak dari mendiang kakaknya. Laki-laki itu menyanggupi beban yang sekarang berpindah ke pundaknya.

Perempuan itu masih tetap sama. Masih cantik meski menua. Dia tak bicara sepatah kata pun semenjak laki-laki itu datang. Bahkan, dia tidak mengeluh sama sekali, persis ketika dulu dia diminta untuk menjadi kekasih kakaknya dan akhirnya menikah.

“Aku memintamu agar kau mau menikah dengan kakakku. Dia sudah banyak berkorban untukku. Dia tidak pernah meminta apapun kecuali ingin menjadi suamimu. Kau tahu kisah hidup kami lebih banyak dari siapa pun. Kumohon!”

Sehari setelah hari pernikahan kakaknya, laki-laki itu memilih untuk tidak kembali. Ada yang teriris ketika mata mereka beradu. Ada rasa cemburu yang membunuh ketika dia melihat kakaknya menggamit tangan perempuan itu.


“Aku tidak sepertimu yang kerap dikelilingi gadis, yang bisa bicara dan tertawa renyah bersama mereka. Aku tak pernah punya ketertarikan seperti itu sebelumnya. Hanya dengan mendengar suara tawanya saja saat kalian bersenda gurau di beranda, aku merasa bahagia. Jadi kumohon, biarkan dia menjadi istriku!”

Mungkin kakaknya benar, tidak ada perempuan yang tidak jatuh cinta padanya, bahkan sampai hari ini, tetapi bagi laki-laki itu hanya Ningrum yang bisa mengisi relung hatinya setelah ibu. Bersama Ningrum dia tak ingin menjadi siapapun.

Laki-laki itu kembali ke rumah kawannya setelah pembahasan selesai. Dia bahkan meminta izin untuk menginap di sana saja. Awalnya kakaknya keberatan, akan tetapi akhirnya diperbolehkan dengan banyak pertimbangan.

“Jadi, setelah ini kau akan pulang sesekali ke sini, bukan?”

“Kau tuang saja airnya, cepat. Aku tidak sabar menunggu kopi buatanmu.”

“Katakan padaku, agar aku tak menunggu. Menunggu kopi buatanku tak selama menunggu jawabanmu.”

“Kau tahu? Bukan tak ada lagi rindu pada tanah ini. Kerap kali kedatangan lebih baik ditunda daripada melahirkan kesedihan-kesedihan.”

“Bagaimana kau akan sedih? Banyak perempuan cantik yang mengelilingimu, dan kau tak perlu berlumpur agar bisa menanak nasi seperti kami di sini.”

“Tapi, kau lebih kaya dariku.”

“Bagaimana mungkin?”

“Kau punya keluarga yang tidak dijual di mana pun juga.”

Kesedihan-kesedihan itu hinggap dan menetap di hatinya. Luka menyerahkan perempuan itu begitu dalam, bahkan meski kakaknya sudah berpulang. Bagaimana mengatakan kepada perempuan itu bahwa dia sangat-sangat mencintainya, sementara di sisi lain dia tak ingin melukai kakaknya, bagaimana luka itu bahkan bertambah dengan melihat kenyataan perempuan itu menjadi istri dan ibu yang baik bagi ketiga anak kakaknya, sementara warna baju yang perempuan itu kenakan adalah warna favorit miliknya. Dia masih ingat benar, perempuan itu lebih menyukai warna yang soft, sedangkan selama dia pulang, tak satu pun terlihat warna kesukaan perempuan itu, atau bahkan warna kesukaan kakaknya di pakaian yang perempuan itu pakai..

“Apa istri mendiang kakakmu sudah mau berbicara denganmu?”

“Bagaimana kau tahu?”

“Aku melihatnya. Tidak ada orang lain yang tahu hubungan kalian kecuali aku. Setelah kau pergi dia kerap kemari, meminta penguatan. Tidak mudah baginya, tidak mudah juga bagimu. Tidak ada pilihan lain kecuali menjadi istri yang baik, karena kakakmu sangat baik dan mencintainya. Dia bisa membuktikan cintanya padamu dengan menjadi kakak ipar yang baik, begitu aku menguatkan. Meski, dia masih mencintaimu dengan caranya sendiri. Memakai baju warna kesukaanmu.”

“Aku tahu.”

“Tolong, jangan hakimi dia dengan kata tidak mencintai kakakmu sepenuh hati. Dia berjuang keras demi itu. Belum lagi dia terus merasa bersalah karena kau tidak juga menikah. Aku tidak menyalahkanmu. Pengorbananmu bukan sedikit.”

“Aku akan menikah setelah ini. Aku tidak akan menikahi dia, meski kakakku sudah berpulang. Aku tidak ingin mengatur hidupnya lagi.”

“Dia pun. Kurasa dia sudah menutup lukanya dengan menerima takdirnya.”

“Semoga.”

Seperti yang dia inginkan, hari ini dia kembali ke kota. Dia akan kembali dengan agenda- agenda, angka-angka, kesepakatan, neraca rugi-laba, kesibukan yang tak kenal waktu, perempuan-perempuan cantik, dan persaingan. Tiga keponakan dari mendiang kakaknya memeluknya erat. Empat keponakan yang lain, dua kakak perempuan, kawan lama, kakak ipar laki-lakinya, sepupu, dan beberapa tetangga melepasnya pergi.

“Pulanglah sesekali, kami rindu.”

“Ini kopi dari kebunku. Pulanglah sesekali, kita ngopi seperti dulu lagi. Jangan datang hanya ketika aku mati.”

Pelukan demi pelukan menjadi begitu sedih, seperti permintaan yang menghiba. Perempuan itu tidak ada. Mungkin, kesedihan menyayatnya lagi. Mungkin, dia tidak ingin laki-laki itu pergi. Atau bahkan, itu adalah restu jika kali ini laki-laki itu sebaiknya tidak perlu kembali.

Mirip sebuah skenario yang adegannya diatur sutradara, setelah pelukan yang terakhir muncullah dia. Dia memakai baju terusan berwarna hijau muda, sebuah senyum menghiasi wajahnya. Dia bahkan tak lagi membisu. Dengan lirih dia berkata, “Ini nasi untuk di jalan. Pergilah, dan jangan pernah kembali, kecuali bersama istrimu. Aku adalah kakak iparmu, dan kau adikku.”

“Aku akan kembali nanti.”

Laki-laki itu melaksanakan kewajibannya menjamin ketiga keponaknnya, bahkan keponakan dari dua kakak perempuannya di hari-hari setelah itu. Dia juga menikah seperti pinta mantan kekasihnya yang mrnjadi kakak iparnya. Dia tak pernah menikmati kopi bersama ketiga sahabatnya, meski kedai dan bengkel mereka dia yang membantu permodalannya. Dia hanya semakin yakin, jika dia tak perlu menginjakkan kaki di tanah itu lagi. Kecuali, jenazahnya nanti saat mati.



Komentar