Gebing Menu Kearifan Lokal yang Mulai Ditinggalkan

 

Image; https://id.pinterest.com/pin/6896205672625617/

Gebing Menu Kearifan Lokal  yang Mulai Ditinggalkan

BLOG NURLAELU UMAR- Gebing, adakah Anda familiar dengan kata tersebut?S ekilas nama ini lebih terdengar pantas untuk sejenis kumbang. Tapi, sebenarnya ini adalah nama sebuah makanan.

Makanan ini dulu popular di perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah, daerah pinggiran sebelah barat Sungai Citanduy yang mayoritas masyarakatnya berbahasa Jawa, meskipun berada di daerah Priangan yang lebih dikenal dengan Tatar Sunda. Daerah itu termasuk kedalam kecamatan Lakbok, tepatnya Kampung Cikawung – Desa Cintaratu.

Entahah, makanan sejenis ini sekarang masih ada atau justru tergusur dengan menu-menu baru seperti ayam crispy atau menu yang lain, uamh lebih menggoda lidah, dan akhir-akhir ini trend dipakai untuk besek kenduri.

Uniknya dari makanan ini adalah hanya ditemui di besek hasil kenduri orang yang meninggal dunia. Dengan begitu, orang rumah bisa tahu tanpa bertanya kenduri apa, hanya dengan melihat menu ini ada di antara lauk lain dalam besek. Benar, makanan ini digunakan sebagai symbol kematian.

Bagi beberapa orang yang menghindari makanan hasil kenduri dari sedekahan orang meninggal, entah karena paham beragama, atau keperluan tertentu, bisa tidak memakan berkat makanan yang dibawa pulang dengan sendirinya.

Makanan ini sangat sederhana, hanya kelapa yang diiris tipis kecil. Makanan ini tidak diparut seperti serundeng, hanya diiris tipis dipotong lebih kecil, kemudian digoreng,

Ada gebing berarti ada yang meninggal. Waktu penyajiannya biasanya ketika sedekahan tujuh hari, empat puluh hari, seratus hari, bahkan seribu, dua ribu, juga tiga ribu hari. Beberpa yang mengadakan peringatan kematian setiap tahunnya atau khaul juga menaruh gebing dalam menu mereka.

Seperti makanan China yang kaya filosofi, gebing juga mempunya arti. Mungkin lain kali tentang apa yang ada di balik gebing akan dipaparkan penulis. Salam!


Komentar