Bab 2 – Luka yang Tersembunyi
Hari-hari Aluna kini berjalan dengan pola yang sama. Senyum di depan orang, tangis di balik pintu kamar. Rutinitas yang dulu membuatnya merasa nyaman, kini terasa seperti sangkar.
Senyum di depan orang, tangis di balik pintu
kamar. Di pagi hari, ia selalu bangun lebih dulu untuk memastikan sarapan sudah
siap. Damar tidak pernah meminta dengan baik, tetapi tatapan matanya cukup
membuat Aluna mengerti bahwa ia harus selalu tampil sempurna.
Suatu pagi, ketika Aluna sedang menyiapkan kopi di dapur, Damar turun dari lantai dua dengan wajah masam.
Damar: “Kopi ini kenapa terlalu manis? Kamu tahu aku suka yang pahit.”
Aluna: (menelan ludah) “Maaf, aku pikir kamu suka yang manis karena kemarin kamu—”
Damar: (memotong) “Aku nggak pernah bilang begitu. Dengarkan baik-baik kalau aku bicara, Aluna.”
Aluna mengangguk pelan. Di dadanya ada rasa sesak. Ia ingin membalas, mengatakan bahwa ia hanya berusaha menyenangkan Damar, tapi kata-kata itu ia telan bulat-bulat.
Setelah Damar berangkat kerja, Aluna duduk di meja makan, memandangi secangkir kopi yang kini sudah dingin.
"Aku bahkan takut untuk membuat kopi. Apa salahku? Kenapa semua harus terasa salah?"
Ia menunduk, menahan air mata.
Pagi dimulai dengan suara alarm lembut dari jam digital di meja samping tempat tidur. Matahari menembus tirai tipis, menyoroti ruangan yang rapi sempurna—tidak ada bantal berantakan, tidak ada pakaian tercecer. Damar suka keteraturan, dan Aluna memastikan semuanya sesuai keinginannya.
Di meja makan, sarapan selalu disajikan pada waktu yang sama. Damar duduk di kursi kepala meja, membaca berita di tablet, sementara Aluna duduk di seberangnya. Obrolan mereka hampir selalu singkat, sebatas hal-hal praktis: jadwal pertemuan, acara sosial, menu makan malam.
Kadang-kadang, Damar menatap Aluna sambil mengomentari penampilannya.
“Bibir kamu pucat, kenapa nggak pakai lipstik warna yang aku beli?”
Aluna hanya tersenyum tipis, meski hatinya terasa tertusuk. Ia terbiasa menelan kata-kata yang ingin ia lontarkan.
Setelah Damar berangkat ke kantor, rumah itu mendadak sunyi. Hanya terdengar suara jam dinding dan langkah para pembantu rumah. Di saat-saat seperti ini, Aluna sering merasa dirinya seperti hantu—hidup, tetapi tak terlihat.
Ia berjalan ke ruang keluarga, duduk di sofa, dan memandang televisi yang mati. Kepalanya penuh pikiran.
"Apakah aku yang salah? Atau dia yang berubah? Dulu aku percaya cinta bisa menyembuhkan apa saja. Tapi sekarang… cinta justru yang paling melukai."
Ponselnya berdering. Nama “Mama” muncul di layar.
Mama:
“Luna, kamu di rumah? Mama lihat fotomu sama Damar tadi malam, kalian kelihatan
bahagia sekali. Mama senang, Nak.”
Aluna:
(berusaha terdengar riang) “Iya, Ma… kami baik-baik saja.”
Mama: “Baguslah. Mama cuma khawatir kamu terlalu capek urus rumah.”
ALuna menggigit bibir. Ingin rasanya ia bercerita, ingin sekali ia mengatakan bahwa ia tidak baik-baik saja. Tetapi lidahnya kelu.
Aluna: “Aku kuat, Ma. Jangan khawatir.”
Begitu telepon ditutup, ia memeluk dirinya sendiri.
"Kalau
Mama tahu aku menangis setiap malam… apa Mama akan kecewa karena aku gagal menjaga
rumah tanggaku?"
Flashback
Beberapa bulan setelah menikah, Aluna pernah mencoba berbicara dengan Damar tentang perasaannya.
“Damar,
aku merasa kita jarang ngobrol seperti dulu. Kamu sibuk sekali,” ujarnya
hati-hati.
Damar hanya menatapnya sebentar, lalu berkata, “Ini untuk kita, Luna. Aku kerja keras supaya kamu bisa hidup nyaman. Kamu harus mengerti.”
Aluna
mengangguk, merasa bersalah. Sejak itu, ia berhenti mengeluh. Ia belajar
menahan diri, belajar membaca suasana hati Damar sebelum bicara.
Kembali
ke Masa Kini
Sore itu, telepon berdering. Nadya menelepon lagi.
“Luna, kamu ada waktu besok? Aku mau ajak kamu ikut kelas yoga. Kayaknya kamu butuh relaksasi.”
Aluna terdiam sejenak. Yoga terdengar menyenangkan, tapi ia tahu Damar mungkin tidak setuju.
“Aku… coba atur jadwal dulu,” jawab Aluna pelan.
“Kalau kamu nggak bisa, nggak apa-apa. Tapi aku khawatir sama kamu. Kamu kelihatan makin kurus, Luna.”
Aluna tersenyum samar. “Terima kasih, Nad.”
Setelah telepon ditutup, ia menatap cermin di ruang rias. Pipi tirus, mata sedikit cekung. Ia menyentuh wajahnya perlahan.
"Apa aku benar-benar bahagia? Atau aku cuma pandai berpura-pura?"
Malam itu, Damar pulang larut. Jasnya beraroma parfum wanita yang asing bagi Aluna.
“Dari mana?” tanya Aluna dengan hati-hati.
“Rapat dengan klien,” jawab Damar singkat.
Aluna ingin bertanya lebih jauh, tapi ia tahu itu hanya akan memicu pertengkaran. Ia memilih diam, meski dadanya terasa sesak.
Di tempat tidur, ia berpura-pura tidur ketika Damar masuk kamar. Air mata mengalir diam-diam.
Malam itu Damar pulang larut. Wajahnya lelah. Begitu masuk rumah, ia langsung mengeluh.
Damar: “Kenapa rumah ini berantakan begini?”
Aluna: (terkejut) “Berantakan? Aku baru selesai beresin semua.”
Damar: “Kamu tidak lihat meja tamu berdebu? Kamu ini ngapain seharian?”
Aluna berdiri kaku.
Aluna: “Aku… aku masak, aku bersih-bersih, aku—”
Damar: (mendekat, suaranya meninggi) “Kamu selalu punya alasan! Kalau aku bisa kerja seharian dan tetap rapih, kenapa kamu tidak bisa?”
Air mata Aluna jatuh tanpa bisa ditahan.
Aluna: “Aku cuma manusia, Mar. Aku capek.”
Damar: (tertawa sinis) “Capek? Kamu di rumah saja! Kamu nggak tahu rasanya kerja di luar, menghadapi klien yang cerewet. Jangan bikin aku tambah stres.”
Aluna terdiam. Ia ingin berteriak bahwa ia juga punya perasaan, bahwa kesepian yang ia rasakan bisa membunuh perlahan. Tetapi seperti biasa, ia hanya menangis dalam diam.
"Aku
bertahan bukan karena aku butuh dia. Aku bertahan karena aku ingin melihat hari
ketika dia berhenti merasa hebat. Hari ketika dia sadar, aku tidak selemah yang
dia kira."
Keesokan harinya, Aluna benar-benar pergi ke kelas yoga bersama Nadya. Itu adalah salah satu momen langka di mana ia merasa bisa bernapas bebas.
Di akhir sesi, instruktur yoga berkata, “Saat kalian menarik napas, bayangkan kalian menarik energi positif. Saat menghembuskan napas, lepaskan semua beban.”
Aluna menutup mata. Untuk pertama kalinya ia merasa damai.
Mungkin ini langkah kecil, pikirnya. Tapi langkah ini milikku.
Sepulang dari yoga, ia merasa sedikit lebih kuat. Ia mulai menulis di buku catatan kecil—tentang perasaannya, tentang hal-hal yang membuatnya sedih, dan tentang harapan yang ingin ia wujudkan.
Di halaman pertama ia menulis:
"Aku tidak akan menyerah. Luka ini akan menjadi saksi. Suatu hari, aku akan berdiri di atas semua ini dan melihatnya menyesal."
Beberapa hari setelah kelas yoga pertamanya, Aluna merasa sedikit lebih ringan. Walau hanya satu jam, momen itu memberinya ruang bernapas yang selama ini terasa mewah. Ia mulai rutin mengikuti kelas yoga setiap dua kali seminggu, meskipun ia harus menyembunyikan hal itu dari Damar.
Setiap kali ia menggulung matras yoga, ia merasa seperti sedang menggulung sebagian dari ketakutannya.
Namun ketenangan itu tak bertahan lama.
Malam minggu itu mereka menghadiri makan malam bisnis. Aluna mengenakan gaun biru gelap, rambut disanggul rapi. Damar tampak puas melihatnya ketika mereka hendak berangkat. Tapi di acara itu, sesuatu terjadi.
Saat salah satu tamu pria memuji presentasi Aluna tentang program charity yang ia kelola, Damar tiba-tiba menyela.
“Ah, itu cuma hobi istri saya. Dia sebenarnya nggak terlalu paham dunia bisnis,” ujar Damar dengan nada bercanda, tapi suaranya cukup keras untuk membuat semua orang tertawa.
Aluna tersenyum kaku. Dadanya seperti diremas. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi ia hanya mengangkat gelas dan pura-pura ikut tertawa.
Sepulang acara, suasana mobil hening.
“Kenapa kamu diam?” tanya Damar.
Aluna menoleh pelan. “Kamu tidak perlu merendahkan aku di depan tamu.”
Damar menatapnya cepat, lalu tertawa kecil. “Kamu terlalu sensitif, Luna. Itu cuma bercandaan.”
“Tapi aku merasa dipermalukan.”
“Ya Tuhan…” Damar menggeleng sambil mendecak. “Kamu memang tidak bisa diajak santai.”
Aluna memandang ke luar jendela. Lampu jalan berkelebatan seperti garis-garis cahaya. Di dalam hatinya, sebuah dinding perlahan terbentuk—dinding yang memisahkan hatinya dari suaminya.
Beberapa hari kemudian, Aluna mengunjungi rumah orang tuanya. Ibunya, yang selalu peka, langsung melihat putrinya tampak lebih kurus.
“Luna,
kamu sakit? Kamu tampak pucat,” tanya ibunya sambil meraih tangan Aluna.
“Aku baik-baik saja, Bu. Hanya lelah.”
Ibunya tidak langsung percaya. “Kamu jarang cerita tentang Damar akhir-akhir ini.”
Aluna tersenyum tipis. “Damar sibuk, Bu. Aku juga sibuk dengan kegiatanku.”
Di kamar lamanya, Aluna termenung. Dulu kamar ini tempat ia menyimpan semua mimpi—tentang cinta, kebahagiaan, dan kehidupan yang indah. Kini ia merasa seperti orang asing di rumah sendiri.
"Kalau aku bilang yang sebenarnya, apa mereka akan mengerti? Atau mereka hanya akan menyuruhku bertahan karena perceraian akan mempermalukan keluarga?"
Ia memilih diam.
Malam itu di rumah, setelah semua orang tidur, Aluna duduk di lantai kamarnya. Buku catatannya terbuka, pena di tangan. Ia mulai menulis:
"Aku lelah. Aku lelah harus selalu menjadi versi terbaik diriku hanya untuk menyenangkan orang lain. Aku lelah menahan kata-kata. Aku lelah pura-pura bahagia. Tapi aku juga tidak mau menjadi korban selamanya. Ada api kecil di dalam diriku yang belum padam. Api itu membuatku bertahan. Bukan untuk Damar, bukan untuk orang lain, tapi untuk diriku sendiri."
Air mata jatuh ke halaman buku, membasahi tinta.
Keesokan harinya, Aluna memutuskan sesuatu. Ia akan ikut kursus singkat manajemen event yang diadakan di sebuah pusat pelatihan.
Ketika Damar pulang malamnya, ia memberitahu:
“Aku daftar kursus, Damar. Hanya dua bulan, seminggu dua kali.”
Damar menatapnya, keningnya berkerut. “Untuk apa? Kamu sudah punya semua yang kamu butuhkan di rumah.”
“Aku ingin mengembangkan diri.”
Damar terdiam beberapa saat, lalu akhirnya berkata, “Terserah. Tapi jangan sampai mengganggu jadwal kita.”
Aluna mengangguk. Dalam hatinya ia merasa menang sedikit. Ini langkah kecil, tapi penting.
Namun, ketenangan itu kembali terguncang ketika suatu malam Damar pulang dalam keadaan marah.
“Kamu tahu nggak, aku malu tadi siang. Ibuku bilang kamu terlalu kurus, kamu harus lebih jaga penampilan!”
Aluna terdiam. “Aku sehat, Damar. Aku cuma… banyak pikiran.”
“Ya sudah, jangan bikin orang lain ikut mikir. Kamu harus jaga imej kita.”
Aluna menatapnya tajam. “Imej kita? Apa kamu peduli sama aku sebagai istrimu, atau cuma sebagai pajangan?”
Pertanyaan itu membuat Damar terdiam sejenak. Lalu ia tertawa dingin. “Kamu mulai berani, ya?”
Aluna tidak menjawab. Tapi dalam hatinya, ia tahu—hari itu adalah titik kecil di mana ia mulai melawan.
Setelah Damar tertidur. Aluna meringkuk di sisi lain ranjang.
"Aku bukan boneka. Aku bukan barang yang bisa dia atur sesuka hati. Tapi kenapa aku tetap di sini? Karena aku takut? Karena aku cinta? Atau karena aku tidak punya tempat lain untuk pergi?"
Kenangan masa lalu datang menghampiri. Malam sebelum pernikahannya, Mama pernah berkata:
“Pernikahan itu bukan hanya tentang bahagia, Luna. Ada masa-masa sulit, dan kamu harus sabar.”
Kata-kata itu terus terngiang. Haruskah aku sabar sampai aku kehilangan diriku sendiri?
Aluna kembali menulis di diarynya; Hari ini aku menatap matanya tanpa takut. Mungkin dia tidak sadar, tapi sedikit demi sedikit, aku sedang merebut diriku kembali.”
Hari-hari berikutnya, pola yang sama terus berulang. Senyum di depan dunia, air mata di balik pintu kamar. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda.
Aluna tidak hanya bertahan. Ia mulai merencanakan sesuatu. Ia mulai memupuk keberanian, perlahan-lahan, diam-diam.
Luka yang tersembunyi di dalam hatinya kini menjadi bahan bakar. Setiap kata yang menyakitkan, setiap tatapan merendahkan, menjadi api yang membuat tekadnya semakin besar.
Ia tidak tahu kapan tepatnya hari itu akan datang, tetapi ia tahu—suatu hari nanti, Damar akan melihatnya berdiri di hadapannya tanpa rasa takut, dan ia akan menyesal telah meremehkan perempuan yang kini duduk di ranjangnya setiap malam.
Dan malam itu, sebelum tidur, Aluna berbisik pada dirinya sendiri:
"Bertahanlah sedikit lagi. Hari itu akan datang."
Senin menjelang siang, Aluna bertemu dengan sahabat lamanya, Sinta, di sebuah kafe.
Sinta: “Kamu kelihatan pucat, Lun. Kamu oke?”
Aluna: (tersenyum hambar) “Aku baik.”
Sinta: “Jangan bohong. Kamu bisa cerita sama aku.”
Aluna menatap sahabatnya lama.
Aluna: “Sinta, kalau… kalau suamimu marah terus, kamu bakal apa?”
Sinta: (terkejut) “Maksudmu Damar?”
Aluna: (menghela napas) “Dia baik di depan orang. Tapi di rumah… dia bisa marah hanya karena hal kecil.”
Sinta menggenggam tangan Aluna.
Sinta: “Lun, kamu nggak bisa terus-terusan begini. Kamu harus jaga dirimu juga.”
Aluna menatap ke luar jendela.
Aluna: “Aku cuma… belum siap ambil keputusan besar. Aku ingin lihat… apa dia bisa berubah. Tapi kalau tidak, aku harus kuat.”
Malam itu, Aluna menatap cermin lagi. Tapi kali ini, ia tidak hanya melihat perempuan yang lelah. Ia melihat seseorang yang mulai sadar akan kekuatannya sendiri.
"Aku harus jaga diriku. Kalau bukan aku, siapa lagi?"
Dan untuk pertama kalinya, ia menulis di buku hariannya:
"Hari
ini aku mulai belajar untuk tidak menangis hanya karena Damar marah. Aku ingin
tetap waras. Aku ingin tetap menjadi Aluna."
Komentar
Posting Komentar