LALUNA (bab 5)- NOVEL AI -Damar Teralu Tinggi

 

Bab 5 – Damar Terlalu Tinggi


 

BLOG NURLAEI UMAR- Keberhasilan bisnis Damar membuatnya semakin percaya diri, bahkan terlalu percaya diri. Beberapa orang di sekitarnya menyebutnya karismatik, namun bagi Aluna, ia mulai tampak sombong. Setiap minggu, rumah mereka yang megah selalu dipenuhi cahaya lampu, musik jazz, dan gelas-gelas kristal berisi champagne.

 

Damar mengadakan pesta mewah hampir setiap bulan — merayakan kontrak baru, investor baru, bahkan sekadar penandatanganan MoU kecil. Undangan selalu mencakup investor, pejabat, rekan bisnis, dan influencer.

 

Aluna selalu diposisikan di sisi Damar, dengan gaun terbaik, perhiasan paling mencolok. Namun ia tahu, ia ada di sana bukan sebagai pasangan hidup, melainkan pajangan.

 

“Duduk saja dan tersenyum. Biar aku yang bicara soal bisnis,” bisik Damar, meraih pinggang Aluna sebelum mereka memasuki ruangan malam itu.

 

Aluna menahan napas sejenak. “Baik,” jawabnya lirih.

 

Begitu pintu dibuka, tepuk tangan dan sorakan sambutan terdengar. Damar melangkah dengan percaya diri, seolah seluruh ruangan adalah miliknya. Aluna berjalan setengah langkah di belakang, menyunggingkan senyum tipis.

 

“Damar! Luar biasa seperti biasa!” seru salah satu investor, menyalami Damar dengan antusias.

 

“Terima kasih, Pak Arif. Ini semua berkat kerja sama kita,” balas Damar sambil tertawa kecil.

 

“Dan ini pasti istri cantikmu?” Investor itu mengulurkan tangan.

 

Aluna menjabat tangan dengan sopan. “Aluna, senang bertemu,” ucapnya pelan.

 

Namun Damar segera menarik perhatian investor itu kembali. “Ayo, saya ingin tunjukkan progress proyek terbaru kita.”

 

Aluna berdiri di sisi ruangan, memandangi punggung Damar yang dikerumuni orang-orang penting. Ia merasa seperti penonton dalam hidupnya sendiri.

 

Tak lama, sahabat lama Aluna, Lila, datang menghampiri.

 

“Luna?” Lila menepuk bahunya pelan. “Kamu kelihatan... berbeda. Kamu baik-baik saja?”

 

Aluna tersenyum kecil. “Aku baik. Hanya lelah. Pesta begini kan selalu melelahkan.”

 

Lila menghela napas. “Kamu tahu kamu nggak harus selalu ikut, kan? Kamu bisa menolak.”

 

Aluna memandang Damar di seberang ruangan. “Aku harus ada di sini. Damar butuh aku.”

 

“Dia butuh kamu... atau dia butuh kamu terlihat ada?” tanya Lila hati-hati.

 

Pertanyaan itu membuat dada Aluna sesak. Namun ia tak menjawab.

 

Beberapa jam kemudian, setelah tamu mulai berpamitan, Damar mendekati Aluna.

 

“Kamu terlihat murung. Ada apa?” tanyanya, sedikit kesal.

 

“Aku hanya lelah. Terlalu banyak orang,” jawab Aluna.

 

“Lelah? Kamu cuma duduk dan tersenyum. Itu pun kelihatan dipaksakan. Apa susahnya sih?” Damar menghela napas, menuangkan wine untuk dirinya sendiri.

 

Aluna menatapnya. “Aku manusia, Damar. Aku juga punya perasaan.”

 

“Dan aku juga manusia yang lagi bangun masa depan kita! Kamu seharusnya mendukung, bukan cemberut di depan tamu!” suara Damar meninggi.

 

“Aku tidak cemberut. Aku hanya... merasa seperti pajangan. Kamu bahkan tidak mengajakku bicara. Kamu hanya...” Aluna terhenti, menahan emosi.

 

“Cukup, Aluna.” Damar menaruh gelas dengan keras di meja. “Kamu tidak mengerti apa yang aku lakukan. Semua ini untuk kita. Kamu harusnya bersyukur.”

 

“Bersyukur?” Aluna menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Bersyukur karena aku diabaikan? Bersyukur karena kamu hanya ingat aku saat kamu butuh aku tampil cantik?”

 

Damar mengusap wajahnya dengan frustrasi. “Aku lelah membahas ini. Aku tidak mau ribut malam ini. Besok aku ada meeting pagi-pagi. Kita bicarakan lain kali.”

 

“Selalu lain kali, ya?” suara Aluna lirih. “Kapan kamu benar-benar mendengarkanku?”

 

Damar terdiam, lalu berbalik meninggalkan ruangan.

 

Aluna duduk sendirian di sofa, mendengarkan suara langkah kaki suaminya menjauh. Hatinya seperti diiris. 

 


Tak lama, Lila kembali ke ruangan setelah membantu pelayan membereskan gelas.

 

“Kamu nangis?” Lila duduk di sampingnya.

 

“Tidak,” Aluna menghapus air mata. “Aku cuma... capek.”

 

“Luna, kamu berhak didengar. Kamu berhak bahagia,” kata Lila dengan lembut.

 

Aluna menunduk. “Kadang aku lupa bagaimana rasanya bahagia.”

 

Lila menggenggam tangan sahabatnya. “Kamu harus ingat. Kamu harus menemukan caranya lagi, meskipun tanpa Damar.”

 

Ucapan itu menghantam dada Aluna. Ia menatap lantai lama sekali. Malam itu, untuk pertama kalinya, ia mulai bertanya-tanya: apakah keberhasilan Damar benar-benar untuk mereka berdua, atau hanya untuk egonya sendiri?

Minggu berikutnya, Damar kembali mengadakan pesta, kali ini lebih besar dari biasanya. Lampu-lampu gantung kristal berkilauan, musik live terdengar lebih meriah, dan tamu undangan dua kali lipat lebih banyak.

 

Aluna berdiri di depan cermin kamarnya, mengenakan gaun merah yang dipilihkan Damar. Gaun itu cantik, tapi terlalu mencolok untuk seleranya.

 

“Cepat sedikit, Luna. Tamu sudah mulai datang,” suara Damar terdengar dari luar pintu.

 

“Aku hampir selesai,” jawab Aluna. Ia menarik napas panjang sebelum keluar kamar.

 

Damar tersenyum puas melihatnya. “Perfect. Kamu cantik sekali. Semua mata pasti akan tertuju padamu malam ini.”

 

“Damar…” Aluna ragu. “Apa aku boleh tidak ikut berdiri di depan semua orang terus-menerus? Mungkin aku bisa duduk di pojok, ngobrol dengan Lila atau teman-teman lain?”

 

Wajah Damar langsung berubah. “Luna, kamu tahu peranmu penting. Kamu istriku. Kamu bagian dari citra yang sedang aku bangun. Kalau kamu menghilang, orang akan bertanya-tanya.”

 

“Aku hanya ingin merasa jadi diriku sendiri, bukan aksesori,” kata Aluna pelan.

 

“Bukan saatnya bicara soal perasaanmu,” potong Damar, suaranya tajam. “Malam ini penting. Tolong jangan merusaknya.”

 

Aluna terdiam. Ia mengikuti Damar keluar kamar, meski hatinya berat.

 

Di pesta, Damar seperti biasa jadi pusat perhatian. Ia berdiri di tengah kerumunan, tertawa, menjabat tangan semua orang.

 

“Ini dia wanita paling beruntung!” seru salah satu tamu, menunjuk Aluna.

 

Aluna tersenyum sopan. “Saya rasa sayalah yang beruntung,” jawabnya diplomatis.

 

Tapi beberapa tamu memperhatikan ekspresinya yang terlihat kaku. Salah satu di antara mereka berbisik, “Kayaknya dia nggak terlalu menikmati pestanya, ya?”

 

Bisikan itu sampai ke telinga Damar. Ia langsung mendekati Aluna dan menarik lengannya pelan.

 

“Ayo ikut aku,” katanya dengan senyum palsu, lalu menyeretnya ke sudut ruangan.

 

“Apa kamu sadar orang-orang melihat kamu seperti itu?” bisik Damar tajam.

 

“Seperti apa?”

 


“Seperti kamu tidak bahagia. Kamu bikin aku kelihatan buruk!”

 

“Damar, aku memang tidak bahagia!” suara Aluna pecah. “Aku lelah berpura-pura hanya demi citramu.”

 

Beberapa tamu mulai melirik ke arah mereka, merasakan ketegangan.

 

“Jaga suaramu!” Damar menahan senyum, meski rahangnya mengeras. “Jangan bikin drama di depan semua orang.”

 

“Kenapa? Kamu takut mereka lihat kenyataan? Bahwa pernikahan kita tidak sesempurna yang kamu pamerkan?”

 

Ucapan itu membuat Damar membeku sejenak.

 

“Cukup.” Suaranya dingin. “Kalau kamu mau bertengkar, kita pulang.”

 

“Akhirnya kamu ingat pulang?” Aluna tersenyum miris. “Biasanya kamu hanya ingat aku kalau butuh aku berdiri manis.”

 

Damar menahan emosi, menarik napas panjang. “Luna, aku tidak akan biarkan kamu menghancurkan malam ini. Ayo pulang sekarang.”

 

Aluna menatap sekeliling, lalu menegakkan tubuhnya. “Tidak. Aku akan tetap di sini. Tapi kali ini aku tidak akan pura-pura tersenyum.”

 

Damar memandangnya dengan tatapan marah, namun ia sadar terlalu banyak mata yang memperhatikan. Ia kembali ke tengah kerumunan, berusaha melanjutkan pestanya.

 

Aluna duduk di sudut ruangan, wajahnya datar. Lila menghampirinya dengan wajah cemas.

 

“Luna, kamu oke?”

 

“Aku baru saja bilang pada Damar kalau aku tidak akan berpura-pura lagi,” bisik Aluna.

 

“Bagus. Sudah waktunya dia tahu kamu bukan boneka,” Lila menggenggam tangannya.

 

Malam itu, pesta berjalan dengan suasana aneh. Damar berusaha tetap tersenyum, tetapi beberapa tamu bisa merasakan ketegangan.

 

Ketika tamu terakhir pulang, Damar menutup pintu dengan keras.

 

“Apa maksudmu mempermalukan aku seperti itu?” suaranya menggema di ruang tamu.

 

“Aku tidak mempermalukanmu. Aku hanya berhenti berpura-pura.”

 

“Ini rumah kita! Hidup kita! Kamu harus mendukungku!”

 

“Damar, mendukung bukan berarti kehilangan diriku sendiri!” teriak Aluna.

 

Damar terdiam, terkejut mendengar nada suara Aluna yang jarang sekali setinggi itu.

 


“Aku sudah terlalu lama menahan diri. Kamu terus sibuk membangun kerajaanmu, tapi kamu lupa aku ada di sini. Kamu lupa aku bukan hanya bagian dari dekorasi hidupmu.”

 

Damar menatapnya lama, lalu berbalik. “Aku butuh waktu. Aku… tidak tahu harus bilang apa.”

 

“Ambil waktu sebanyak yang kamu mau,” kata Aluna dengan dingin. “Tapi aku tidak akan lagi duduk diam dan tersenyum hanya karena kamu menyuruhku.”

 

Malam itu mereka tidur di kamar terpisah. Untuk pertama kalinya sejak menikah, rumah yang besar itu terasa sangat sepi bagi keduanya.

 

Dan di dalam keheningan itu, Aluna merasakan sesuatu yang berbeda: keberanian.

Aluna selalu memperhatikan siapa saja yang mendekati Damar. Ia tahu mana yang tulus, mana yang hanya datang karena mencium bau uang. Ia hafal wajah-wajah yang selalu memuji Damar, menyebutnya jenius bisnis, memintanya jadi pembicara di seminar, lalu diam-diam menunggu kesempatan untuk ikut menikmati keuntungan.

 

Kadang Aluna merasa seperti pengamat dalam dunia yang bukan miliknya. Ia duduk di kursi sudut, tersenyum seperlunya, sementara Damar sibuk berkeliling, menjabat tangan, membicarakan proyek-proyek masa depan.

 

Suatu malam, Damar mengumumkan sebuah keputusan besar.

 

“Aku akan investasikan sebagian besar aset kita di proyek baru ini,” kata Damar di ruang makan, sambil menatap layar laptopnya. “Proyek properti terbesar yang pernah aku tangani. Keuntungannya bisa lipat sepuluh kali.”

 

Aluna yang sedang menyendok sup terhenti. “Sebagian besar aset? Maksudmu… hampir semuanya?”

 

“Ya. Ini langkah berani. Tapi aku yakin,” jawab Damar tanpa ragu.

 

“Berani… atau nekat?” Aluna bertanya hati-hati.

 

Damar mendongak, menatapnya. “Aku tahu apa yang aku lakukan. Aku tidak pernah salah soal bisnis.”

 

“Tidak ada yang selalu benar, Damar. Risiko tetap ada.”

 

“Luna, kamu terlalu khawatir. Kamu istri pengusaha sukses. Kamu harus percaya padaku,” suaranya mulai terdengar meremehkan.

 

Aluna terdiam. Ia ingin mendukung suaminya, tapi hatinya gelisah.

 

Malam itu, Damar mengadakan pesta khusus untuk mengumumkan investasinya pada para kolega. Rumah mereka dipenuhi tamu penting.

 


“Bapak-ibu sekalian,” suara Damar menggema, “malam ini saya ingin berbagi langkah besar saya. Proyek properti yang akan mengubah peta bisnis kota ini!”

 

Tamu-tamu bertepuk tangan.

 

“Luar biasa, Damar!” seru salah satu investor.

 

“Kamu memang visioner,” kata yang lain.

 

Namun seorang pengusaha senior, Pak Wirya, mengangkat tangan. “Damar, proyek ini memang menjanjikan. Tapi kamu menginvestasikan terlalu banyak. Risiko tinggi bisa menjatuhkanmu kalau ada sedikit saja kesalahan.”

 

Semua mata menoleh pada Damar.

 

Damar tertawa kecil. “Pak Wirya, saya menghargai pendapat Anda. Tapi saya berbeda. Saya tidak pernah salah soal bisnis.”

 

Ruangan hening sejenak, lalu kembali riuh oleh tawa dan tepuk tangan, seolah mereka semua memihak Damar.

 

Aluna berdiri di sisi ruangan, dadanya sesak. Ia melihat wajah-wajah yang pura-pura kagum, padahal sebagian hanya menunggu Damar jatuh.

 

Setelah tamu bubar, Aluna memberanikan diri bicara.

 

“Damar, kamu yakin? Bahkan Pak Wirya pun bilang ini berisiko.”

 

“Luna, kamu harus berhenti mendengarkan orang yang tidak sejalan denganku,” jawab Damar, suaranya datar.

 

“Aku hanya takut kalau semuanya tidak berjalan sesuai rencana.”

 

“Kenapa kamu tidak bisa percaya padaku?”

 

“Aku percaya padamu, tapi bukan berarti aku tidak boleh mengingatkanmu.”

 

Damar menghela napas panjang, lalu duduk di sofa. “Kamu ini terlalu dramatis. Lihat sekelilingmu, semua orang mendukungku.”

 

“Semua orang mendukungmu… atau hanya ingin ikut menikmati keuntunganmu?” suara Aluna lirih.

 

Damar menatapnya tajam. “Luna, kamu terdengar seperti orang luar. Bukannya mendukung, kamu malah meragukan. Aku lelah mendengar ini.”

 

Aluna terdiam, menahan air mata.

 

Beberapa hari kemudian, mereka menghadiri pesta lain bersama para investor. Kali ini suasana lebih tegang. Beberapa rumor tentang proyek Damar mulai beredar — harga tanah melonjak, izin pemerintah dipertanyakan.

 

Seorang kolega mendekati Damar. “Saya dengar ada masalah dengan lahan proyek. Kamu yakin tetap jalan?”

 

“Tentu saja. Semua sudah aku atur,” jawab Damar cepat.

 

Aluna yang berdiri di sampingnya bisa melihat sorot mata suaminya — bukan hanya percaya diri, tapi keras kepala.

 

Saat mereka berdua pulang malam itu, Aluna tak bisa menahan diri.

 

“Damar, kalau rumor itu benar, kita bisa kehilangan banyak. Mungkin sebaiknya kamu tunda dulu.”

 

Damar menghentikan langkahnya di teras, menatap Aluna. “Luna, kamu tidak mengerti. Dunia bisnis bukan tempat untuk ragu-ragu. Kalau aku mundur sekarang, aku akan terlihat lemah.”

 

“Jadi kamu memilih mempertaruhkan segalanya hanya untuk terlihat kuat?”

 

“Itu harga yang harus dibayar untuk jadi yang terdepan!” suara Damar meninggi.

 

Aluna merasakan hatinya diremas. “Bagaimana dengan kita, Damar? Bagaimana kalau semua ini hancur? Kamu pernah memikirkan itu?”

 

“Aku memikirkan masa depan kita setiap hari! Itulah kenapa aku lakukan ini!”

 

“Tidak, Damar. Kamu lakukan ini untuk egomu. Kamu tidak lagi mendengar aku.”

 

Ucapan itu membuat Damar terdiam sejenak.

 

Ia lalu berkata dingin, “Kalau kamu tidak bisa mendukungku, lebih baik kamu diam.”

 

Aluna menatapnya lama, lalu melangkah masuk ke rumah tanpa sepatah kata.

 

Malam itu ia duduk sendirian di kamar, mendengarkan suara langkah Damar di lantai bawah. Hatinya diliputi rasa cemas. Ia tidak tahu apa yang lebih menakutkan: kemungkinan Damar kehilangan segalanya, atau kemungkinan Damar benar-benar tidak peduli pada perasaannya.

 

Ia memandang keluar jendela, melihat lampu kota berkelap-kelip. Dalam hati ia berbisik, Kalau badai datang, apakah aku masih sanggup berdiri di sisinya?

Aluna tidak berkomentar. Ia hanya mengamati, lalu mencatat dalam buku harian: “Kesombongannya semakin tinggi. Semakin tinggi ia naik, semakin keras ia akan jatuh.”

Di rumah, sikap Damar semakin buruk. Ia sering pulang larut, membawa beban pekerjaan, dan melampiaskan emosinya kepada Aluna. Namun, kali ini Aluna tidak lagi menangis. Ia menatap Damar dengan mata dingin, membuat suaminya bingung.




 

Komentar