LALUNA Bab 6 – Retakan Pertama- Novel AI

 

Bab 6 – Retakan Pertama

BLOG NURLAELI UMAR- Beberapa bulan berlalu sejak Damar memulai proyek besarnya. Awalnya semua terlihat berjalan lancar. Media menulis tentang kesuksesan awal proyek itu, memuji Damar sebagai pengusaha muda visioner yang berani mengambil risiko. Foto-fotonya terpampang di majalah bisnis, senyumnya lebar, matanya memancarkan percaya diri.

 

Damar semakin besar kepala. Ia jarang pulang tepat waktu, lebih sering menghabiskan malam di kantor atau rapat dengan para investor. Ketika pulang pun, ia membawa suasana kantor ke rumah—membicarakan angka, target, dan rencana ekspansi, seolah dunia hanya berputar pada proyeknya. Aluna mendengarkan dengan sabar, meski ia tahu suaminya hampir tak lagi memperhatikan keberadaannya sebagai istri.

 

Namun, perlahan kabar buruk mulai datang. Salah satu investor utama tiba-tiba menarik diri. Alasan mereka jelas: laporan keuangan menunjukkan biaya proyek sudah membengkak dua kali lipat dari rencana awal. Pasokan bahan terhambat karena masalah impor, menyebabkan jadwal produksi mundur berbulan-bulan.

 

Damar mulai terlihat gelisah. Senyum percaya dirinya menghilang, digantikan wajah tegang dan lingkaran hitam di bawah mata. Ia marah-marah di kantor, memecat manajer proyeknya, dan menyalahkan semua orang kecuali dirinya sendiri.

 

Di rumah, ketegangannya semakin terasa. Piring kembali pecah, suara bentakan kembali memenuhi ruang makan.

 

Namun, berbeda dari sebelumnya, Aluna tetap tenang. Ia hanya duduk di kursi makannya, memandang suaminya tanpa kata-kata.

 

“Kenapa kamu diam saja?!” teriak Damar suatu malam, suaranya menggema di dinding ruang makan yang sunyi.

 

Aluna menarik napas pelan. “Apa yang kamu mau aku katakan, Damar?” suaranya lembut, tapi ada ketegasan yang jarang ia tunjukkan.

 

“Apa pun! Jangan cuma duduk diam seperti patung!” Damar menghentakkan tangannya ke meja. Gelas hampir jatuh.

 

“Aku tidak ingin menambah amarahmu,” jawab Aluna tenang. “Aku hanya… tidak ingin memicu pertengkaran lagi.”

 

Damar terdiam sesaat, matanya tajam menatap istrinya. “Kamu pikir aku gila?!”

 

“Aku tidak bilang begitu,” ucap Aluna. Ia menatap lurus mata suaminya. “Aku hanya tidak ingin rumah ini terus dipenuhi teriakan. Itu melelahkan, Dam.”

 

Suasana hening beberapa detik. Damar berjalan mondar-mandir, menarik rambutnya dengan frustasi.

 

“Kamu tidak mengerti betapa beratnya ini! Semua orang menuntut aku! Investor, media, karyawan—semua! Dan sekarang kamu duduk di sini, seolah-olah masalah ini bukan apa-apa!”

 

“Aku mengerti kamu tertekan,” jawab Aluna, suaranya sedikit bergetar. “Tapi kamu tidak bisa terus melampiaskannya padaku. Aku juga punya perasaan. Kamu tahu kan?”

 

Kata-kata itu seperti pukulan telak. Damar terdiam, dadanya naik turun. Ia ingin membantah, tapi tidak ada kata yang keluar.

 

Malam itu, Damar keluar rumah. Aluna mendengar suara mobilnya melaju kencang. Ia duduk sendirian di ruang makan, memandangi meja yang masih berantakan.

 

Beberapa hari berikutnya, suasana semakin dingin. Damar jarang berbicara kecuali soal proyek. Aluna mencoba mencairkan suasana, menyiapkan makanan favorit suaminya, tapi Damar hanya makan sedikit lalu kembali mengurung diri di ruang kerja.

 

Suatu malam, ketika Damar baru pulang dengan wajah kusut, Aluna memberanikan diri bicara lagi.

 

“Dam,” panggilnya hati-hati.

 

“Apa lagi?” suara Damar lelah.

 

“Aku pikir kamu butuh bantuan profesional,” kata Aluna pelan. “Mungkin konsultan bisnis… atau psikolog. Kamu tidak bisa memikul ini sendirian.”

 

Damar menatapnya sejenak, lalu tertawa kecil—tawa yang terdengar getir. “Psikolog? Kamu pikir aku gila?”

 

“Aku tidak bilang begitu,” jawab Aluna lembut. “Aku hanya ingin kamu punya tempat untuk meluapkan semua bebanmu. Kamu selalu marah di rumah, dan itu membuat kita berdua sengsara.”

 

Damar menatap istrinya lama. Wajahnya tegang, tapi matanya mulai terlihat lelah. “Kamu benar-benar berubah ya, Lu. Dulu kamu selalu nurut. Sekarang kamu berani menyuruh-nyuruh aku.”

 

“Aku tidak menyuruh,” ucap Aluna tenang. “Aku hanya… tidak ingin kita hancur.”

 

Keheningan kembali memenuhi ruangan. Kali ini Damar tidak marah. Ia hanya duduk di sofa, menutup wajah dengan kedua tangannya.

 

Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, Aluna melihat suaminya tampak rapuh. Dan meskipun hatinya masih terluka, ia duduk di samping Damar, menyentuh bahunya pelan.

 

“Dam,” bisiknya, “kita bisa melewati ini. Tapi kamu harus berhenti berperang dengan semua orang, termasuk dirimu sendiri.”

 

Damar tidak menjawab. Tapi ia tidak menepis tangan Aluna. Itu sudah cukup bagi Aluna malam itu—sebuah tanda kecil bahwa suaminya masih mau berjuang, meski hanya diam-diam.

 

 “Karena ini bukan akhir. Ini baru retakan pertama. Masih banyak yang akan jatuh,” jawab Aluna dengan suara lembut, hampir seperti bisikan.

 

Jawaban itu membuat Damar terdiam. Untuk pertama kalinya, ia merasa ada sesuatu yang berbeda dari istrinya — seolah Aluna bukan lagi istri penurut yang selalu diam ketika ia marah, melainkan saksi yang tenang, menunggu saat kejatuhannya. Tatapan Aluna malam itu dingin, namun ada ketenangan yang menakutkan bagi Damar.

 

Ia tidak membalas kata-kata itu. Hanya berdiri lama di hadapan istrinya sebelum akhirnya berjalan ke kamar kerja dan menutup pintu dengan keras.

 

Beberapa minggu kemudian, masalah semakin parah. Rumor tentang kerugian besar dalam proyek Damar mulai memenuhi media. Judul berita di portal-portal ekonomi terasa seperti tamparan:

"Proyek Ambisius Damar Pratama Terancam Gagal."

"Investor Tarik Dana, Masa Depan Perusahaan Dipertanyakan."

 

Saham perusahaannya turun, rekan bisnisnya menjauh, teleponnya terus berdering dengan kabar buruk. Setiap kali telepon berdering, wajah Damar semakin pucat. Terkadang ia membanting ponselnya ke meja, terkadang ia hanya duduk menatap kosong, seolah semua suara hilang dari telinganya.

 

Aluna memperhatikan semua ini dengan hati yang berdebar, bukan karena takut, melainkan karena inilah awal yang diam-diam ia tunggu. Bertahun-tahun ia menelan kata-kata pedas, menahan amarah, menyembunyikan luka. Kini, ia melihat sisi lain dari Damar — sisi yang rapuh, yang selama ini tertutup oleh kesombongan dan arogansi.

 

Namun, Aluna tidak bersorak. Ia hanya mengamati dengan tenang.

 

Di siang hari, ia tetap menjalankan bisnis keluarganya. Bahkan ia semakin aktif di dunia sosial, menghadiri acara-acara amal, menerima undangan seminar, hingga namanya mulai dikenal sebagai perempuan mandiri yang berwibawa. Orang-orang mulai melihatnya bukan hanya sebagai “istri Damar,” melainkan sebagai pribadi yang berdiri sendiri.

 

Kadang Damar memperhatikan hal itu dengan tatapan aneh. Ada rasa iri di matanya.

 

Suatu malam, setelah sebuah rapat darurat yang melelahkan, ia pulang dalam keadaan marah.

“Kamu kelihatan bahagia sekali ya, Lu,” katanya dingin, melepas jasnya dan melemparkannya ke sofa.

 

Aluna menatapnya sebentar lalu kembali menata vas bunga di meja. “Kenapa aku tidak boleh bahagia?”

 

“Karena hidupku berantakan, Lu!” Damar menghentakkan kakinya. “Kamu tahu betapa sulitnya aku berjuang di luar sana?”

 

“Aku tahu,” jawab Aluna tenang. “Dan kamu tahu betapa sulitnya aku bertahan di sini, kan?”

 

Ucapan itu membuat Damar terdiam. Untuk sesaat, ia seperti lupa bagaimana caranya marah.

 

Hari-hari berikutnya, keadaan semakin memburuk. Beberapa karyawan senior mengundurkan diri, proyek yang sudah berjalan setengah jalan harus dihentikan. Damar lebih sering mengurung diri di ruang kerja rumah. Kadang Aluna mendengar suaminya berbicara sendiri di telepon dengan nada putus asa.

 

Di sisi lain, Aluna semakin mantap dengan pilihannya untuk tidak lagi menjadi korban. Ia mulai menulis jurnal setiap malam, menuangkan perasaannya yang selama ini terkunci. Ia sadar, meski hatinya masih terluka, ia punya kesempatan untuk memutus lingkaran kekerasan emosional ini.

 

Suatu malam hujan deras, Damar pulang larut. Bajunya basah, rambutnya berantakan, wajahnya pucat. Ia duduk di ruang tamu, membuka kancing kerah kemejanya dengan tangan gemetar.

 

Aluna yang baru saja selesai membaca buku menutupnya perlahan. “Kamu baik-baik saja?” tanyanya tanpa mendekat.

 

Damar mendongak. Matanya merah, suaranya serak. “Aku… kehilangan semuanya, Lu.”

 

Aluna terdiam sejenak sebelum bangkit dan berjalan mendekat. “Kehilangan apa?”

 

“Investor terakhir mundur. Bank menolak perpanjangan kredit. Aku harus menjual aset perusahaan untuk bayar utang.” Suaranya pecah di akhir kalimat.

 

Aluna menarik kursi dan duduk di depannya. “Jadi ini… akhir dari proyekmu?”

 

Damar menatap kosong. “Bukan cuma proyek. Ini akhir dari semuanya. Semua orang akan melihatku sebagai pecundang. Semua orang akan bilang aku gagal.”

 

“Apa yang membuatmu paling takut? Mereka bilang kamu gagal, atau kamu akhirnya sadar kamu memang salah?” tanya Aluna lembut.

 

Damar menatapnya, marah sekaligus tersentuh. “Kamu… kamu senang, ya? Kamu senang melihat aku seperti ini?”

 

Aluna menggeleng. “Aku tidak senang. Tapi aku lega kamu akhirnya bisa duduk di sini, jujur pada dirimu sendiri. Ini bukan akhir, Dam. Ini kesempatan untuk mulai lagi — kalau kamu mau.”

 

“Mulai lagi?” Damar tertawa hambar. “Dengan apa? Uangku habis. Namaku rusak. Tidak ada yang percaya padaku lagi.”

 

“Kalau begitu mulai dengan sesuatu yang lebih penting,” balas Aluna. “Mulai dengan meminta maaf. Pada dirimu sendiri. Pada orang-orang yang kamu sakiti. Termasuk aku.”

 

Damar menatap Aluna lama. Hening menggantung di antara mereka. Lalu, perlahan, ia menunduk.

 

“Aku minta maaf, Lu.”

 

Kata-kata itu keluar lirih, nyaris tenggelam oleh suara hujan. Tapi bagi Aluna, itu seperti gempa yang mengguncang seluruh hatinya.

 

Ia menahan napas, lalu mengangguk. “Terima kasih.”

 

Malam itu mereka tidak bicara banyak lagi. Damar duduk lama di ruang tamu, menatap lantai. Aluna hanya duduk di kursinya, menemaninya dalam diam. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, rumah itu terasa sunyi — tapi bukan sunyi yang menakutkan, melainkan sunyi yang membawa awal baru.

 

Keesokan harinya, Damar mulai mengambil keputusan besar. Ia menjual sebagian asetnya, membubarkan proyek yang gagal, dan menulis surat terbuka kepada investor serta karyawannya, mengakui kesalahan dan berjanji untuk memperbaiki diri.

 

Dan di rumah, ia mulai perlahan memperbaiki hubungannya dengan Aluna.

 

“Beri aku kesempatan,” katanya suatu malam.

 

Aluna menatapnya lama, sebelum menjawab, “Kesempatan bukan sesuatu yang kau minta sekali lalu selesai. Itu harus kau perjuangkan setiap hari.”

 

Damar mengangguk. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa ingin membantah.

 

Dan di balik semua luka, Aluna merasakan sesuatu yang hampir ia lupakan: harapan.

Pagi berikutnya, rumah terasa sunyi. Udara di dalam rumah seperti lebih dingin dari biasanya.

Damar tidak tidur di kamar semalam, dan Aluna tahu ia menghabiskan malam di ruang kerja. Suara ketikan komputer terdengar sampai dini hari, lalu hening.

 

Saat Aluna turun ke dapur, ia menemukan Damar sudah duduk di meja makan dengan wajah serius, secangkir kopi di tangannya. Lingkaran hitam di bawah matanya semakin pekat, rambutnya sedikit berantakan.

 

“Duduk,” katanya tanpa menatap.

 

Aluna menahan napas sejenak sebelum menarik kursi dan duduk di seberangnya.

 

“Aku sudah pikirkan apa yang kamu bilang tadi malam,” suara Damar terdengar datar. “Kamu lelah? Baik. Kita bisa atur liburan. Kita ke luar negeri beberapa minggu. Kamu akan merasa lebih baik.”

 

Aluna menggeleng perlahan. “Ini bukan soal liburan, Dam. Ini tentang kita.”

 

Damar mendongak, sorot matanya tajam. “Jadi kamu benar-benar mau cerai?”

 

Aluna terdiam. Dadanya terasa sesak. Lalu ia mengangguk. “Ya.”

 

Kata itu jatuh seperti bom. Sunyi mendadak membungkam ruangan.

 

Damar menatapnya lama, seperti berusaha memastikan ia mendengar dengan benar. “Kamu bilang… apa?” suaranya rendah, hampir berbisik.

 

“Aku mau cerai,” ulang Aluna, kali ini lebih tegas.

 

Damar tertawa kecil, getir. “Lucu sekali. Setelah semua yang aku lakukan, kamu pilih keluar? Kamu pikir perceraian ini akan menyelesaikan apa?”

 

“Bukan soal menyelesaikan,” jawab Aluna, suaranya gemetar. “Ini soal bertahan hidup. Aku sudah terlalu lama merasa mati di rumah ini, Dam. Aku tidak bisa terus begini.”

 

Damar berdiri, mendorong kursinya ke belakang hingga menimbulkan suara berderit keras. “Jadi selama ini kamu diam, kamu sebenarnya sudah rencanakan ini?”

 

“Aku tidak merencanakan apa pun,” balas Aluna cepat. “Aku hanya… tidak kuat lagi. Setiap hari aku merasa aku kehilangan diriku sendiri. Kamu marah, kamu bentak, kamu pecahkan piring, dan aku diam. Tapi diamku bukan berarti aku tidak terluka.”

 

Damar mengepalkan tangan, napasnya memburu. “Aku tahu aku salah. Aku tahu aku sudah hancurkan banyak hal. Tapi aku sedang berusaha memperbaiki semuanya, Lu! Kenapa kamu tidak bisa memberi aku waktu?”

 

Aluna menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Aku sudah memberi kamu waktu. Bertahun-tahun. Kamu tidak pernah mau mendengar sampai kamu kehilangan segalanya. Dan bahkan sekarang, yang pertama kamu tawarkan padaku hanya… liburan. Kamu pikir semua ini bisa hilang dengan tiket pesawat?”

 

Damar menunduk, terdiam. Ujung jarinya mengetuk meja pelan. “Aku takut kehilangan kamu,” suaranya lirih.

 

“Kalau kamu takut, kamu seharusnya memperlakukanku seperti seseorang yang kamu sayangi. Bukan hanya ketika aku mau pergi.”

 

Kata-kata itu menusuk Damar. Ia menarik kursi kembali dan duduk, kedua tangannya menutupi wajah.

 

“Aku tidak pernah bayangkan kamu akan pergi,” katanya akhirnya. “Rumah ini… akan kosong tanpamu.”

 

“Rumah ini sudah lama kosong,” jawab Aluna pelan. “Kita hanya tinggal di sini, bukan hidup di sini.”

 

Tangisan kecil terdengar dari balik tangan Damar. Aluna memejamkan mata, berusaha menahan air mata sendiri.

 

“Kalau aku berubah?” tanya Damar tiba-tiba. “Kalau aku benar-benar berubah? Kamu akan tetap pergi?”

 

Aluna menghela napas panjang. “Aku tidak tahu. Aku sudah terlalu lelah untuk berharap lagi. Tapi aku tahu aku tidak bisa sembuh kalau tetap tinggal di sini, melihatmu marah setiap hari, mendengar teriakanmu, merasakan ketakutanku sendiri. Aku butuh ruang.”

 

“Ruang…” Damar mengulang kata itu seperti mengecap rasa pahit di mulut. “Ruang untuk menjauh dariku.”

 

“Ruang untuk menemukan diriku lagi,” koreksi Aluna.

 

Damar terdiam lama, hanya terdengar suara jarum jam berdetak di dapur.

 

“Aku tidak akan menahanmu,” katanya akhirnya. Suaranya pelan, hampir patah. “Tapi jangan pikir aku akan berhenti mencoba.”

 

Aluna menatapnya lama. “Aku tidak minta kamu berhenti mencoba. Aku hanya minta kamu berhenti menyakitiku.”

 

Hening lagi. Kali ini hening yang berat, seperti menandai awal sesuatu yang tak bisa ditarik kembali.

 

Damar berdiri perlahan. “Baiklah. Kalau ini keputusanmu, aku akan hormati. Tapi beri aku satu hal saja.”

 

“Apa?”

 

“Beri aku kesempatan terakhir untuk menunjukkan kalau aku bisa berubah. Satu bulan. Kalau setelah itu kamu masih ingin pergi… aku tidak akan menghalangi.”

 

Aluna menggigit bibir. Ia tahu keputusannya sudah bulat, tapi ada bagian kecil dalam hatinya yang ingin percaya.

 

“Satu bulan,” katanya akhirnya.

 

Damar mengangguk, lalu meninggalkan dapur tanpa berkata apa-apa lagi.

 

Aluna duduk sendiri, menatap cangkir kopinya yang sudah dingin. Hatinya berdebar. Keputusan itu seharusnya membuatnya lega, tapi yang ia rasakan justru campuran takut dan harapan.

 

Ia tahu jalan di depan tidak akan mudah. Tapi untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia merasa ia memilih untuk dirinya sendiri.

Wajah Damar memucat, lalu rahangnya mengeras. “Kamu sadar apa yang kamu katakan? Kamu ingin mempermalukan aku di depan semua orang?”

 

“Aku tidak peduli lagi tentang omongan orang,” jawab Aluna dengan suara bergetar. Tangan di pangkuannya menggenggam erat, seakan menahan seluruh getaran tubuhnya. “Aku hanya ingin bebas dari rasa takut.”

 

Damar tertawa dingin, suara tawanya terdengar seperti ejekan. “Bebas? Kamu pikir perceraian akan membuatmu bahagia? Dunia luar tidak seindah yang kamu bayangkan, Luna. Semua orang akan menilai kamu. Kamu akan jadi bahan gosip.”

 

Aluna mengangkat dagunya, kali ini tatapannya tegas. “Aku sudah jadi bahan gosip setiap kali kamu merendahkanku di depan teman-temanmu. Setiap kali kamu bentak aku di depan keluargamu. Setidaknya kalau aku keluar, aku bisa berdiri atas kakiku sendiri.”

 

Damar meletakkan cangkir kopinya dengan keras hingga bunyinya memecah keheningan. Kopi tumpah sedikit di atas meja. “Kalau kamu nekat, aku pastikan kamu tidak akan dapat apa pun. Rumah ini, mobil ini, semuanya akan tetap jadi milikku.”

 

Aluna menarik napas panjang, menahan air mata yang hampir jatuh. “Aku tidak butuh semua itu, Dam. Aku hanya butuh kebebasan. Aku bisa kerja, aku bisa bangun hidupku sendiri. Yang tidak bisa aku lakukan adalah terus hidup seperti ini—dengan ketakutan setiap hari.”

 

“Kamu ingat siapa yang membuatmu hidup nyaman selama ini?” Damar mencondongkan tubuhnya, matanya merah karena amarah. “Siapa yang bayar semua tagihanmu, siapa yang memastikan kamu punya semuanya?”

 

Aluna menatapnya balik, tidak bergeming. “Dan kamu ingat siapa yang selalu ada untukmu? Siapa yang menahan tangis setiap kali kamu pulang marah-marah? Siapa yang membersihkan pecahan piring setelah kamu meledak? Aku sudah bayar mahal untuk semua kenyamanan ini, Dam—dengan diriku sendiri.”

 

Ucapan itu membuat Damar terdiam sesaat. Napasnya memburu, tetapi tidak ada kata yang keluar dari mulutnya.

 

Aluna berdiri perlahan, kursi berderit di lantai. “Aku tidak akan lari, Dam. Tapi aku juga tidak akan terus tinggal di sini hanya karena takut. Kalau kamu tidak bisa berubah, maka aku akan pergi. Bukan karena aku benci kamu, tapi karena aku mencintai diriku sendiri.”

 

Kata-kata itu membuat dada Damar terasa sesak. Ia bangkit, berjalan mondar-mandir, berusaha mencari kata. “Jadi semua yang kita bangun selama ini—rumah ini, kehidupan ini—kamu tinggalkan begitu saja?”

 

“Rumah ini hanya dinding, Dam. Kehidupan ini hanya topeng. Kita terlihat sempurna di luar, tapi kamu tahu betapa hancurnya kita di dalam.”

 

Damar menghentikan langkahnya, menatap istrinya lekat-lekat. “Apa kamu sudah tidak cinta aku?”

 

Pertanyaan itu menusuk hati Aluna. Ia memejamkan mata sejenak sebelum menjawab. “Aku masih cinta. Tapi cinta tidak cukup kalau yang tersisa hanya sakit.”

 

Keheningan panjang jatuh di antara mereka. Hanya suara jam di dinding yang terdengar, berdetak pelan seolah menghitung waktu.

 

“Kalau aku berubah?” tanya Damar tiba-tiba, suaranya lebih pelan. “Kalau aku buang semua egoku, kalau aku belajar mengendalikan amarahku… kamu akan tetap pergi?”

 

Air mata akhirnya jatuh di pipi Aluna. “Aku tidak tahu. Aku sudah terlalu sering berharap. Terlalu sering kecewa. Tapi kalau kamu sungguh-sungguh ingin berubah, kamu harus melakukannya untuk dirimu sendiri, bukan untuk menahanku.”

 

Damar menarik napas panjang, dadanya terasa sesak. “Aku tidak bisa bayangkan rumah ini tanpa kamu.”

 

“Rumah ini sudah lama kehilangan kita,” jawab Aluna lirih.

 

Damar duduk kembali, kedua tangannya menutupi wajahnya. Untuk pertama kalinya, ia tampak benar-benar kalah. “Aku takut, Lu.”

 

Aluna mendekat, berdiri di belakang kursinya. “Aku juga takut. Tapi lebih takut lagi kalau aku terus hidup seperti ini. Kita berdua hancur, Dam. Dan aku tidak ingin terus hancur.”

 

Tangis Damar pecah pelan, bahunya bergetar. Aluna hanya berdiri diam, membiarkan suaminya mengeluarkan semua yang selama ini ia pendam.

 

Setelah beberapa lama, Damar berkata dengan suara serak, “Berikan aku waktu. Satu bulan. Biarkan aku buktikan kalau aku bisa berubah.”

 

Aluna menatapnya lama. Bagian dari dirinya ingin menolak, ingin segera pergi agar semua ini selesai. Tapi ada bagian lain yang masih ingin percaya.

 

“Satu bulan,” katanya akhirnya, suaranya nyaris berbisik. “Tapi kalau setelah itu tidak ada yang berubah, aku akan tetap pergi.”

 

Damar mengangguk pelan. “Baik.”

 

Mereka berdua diam. Tidak ada pelukan, tidak ada senyum. Hanya dua hati yang sama-sama lelah, berdiri di persimpangan.

 

Malam itu Aluna kembali ke kamarnya, duduk di tepi ranjang dengan tatapan kosong. Keputusan itu seharusnya membuatnya lega, tapi yang ia rasakan justru campuran harapan dan ketakutan.

 

Sementara di ruang makan, Damar masih duduk di kursinya, menatap cangkir kopi yang sudah dingin. Untuk pertama kalinya, ia merasa kehilangan sesuatu yang tidak bisa ia beli kembali—kepercayaan Aluna.

 

Dan di antara rasa takut itu, ia tahu satu hal: jika ia tidak berubah, satu bulan dari sekarang, ia benar-benar akan kehilangan segalanya.

Damar berdiri, mendekatinya dengan langkah berat. Mata pria itu menyala penuh amarah. “Kamu pikir kamu kuat? Kamu pikir kamu bisa hidup tanpa aku?”

 

Aluna mendongak, menatap suaminya lurus-lurus tanpa gentar. “Ya. Dan aku akan membuktikannya.”

 

Ucapan itu menghantam dada Damar seperti pukulan. Sesaat ia hanya berdiri diam, seolah tak percaya mendengar nada mantap dari istrinya. Dulu, Aluna selalu merendah, selalu menunduk jika ia bicara. Tapi kali ini, sorot mata Aluna tajam, seolah ada dinding tak terlihat yang memisahkan mereka.

 

Tanpa berkata apa-apa lagi, Damar meraih kunci mobil di meja, gerakannya cepat dan kasar. Pintu dibanting dengan suara keras yang menggema di seluruh rumah, membuat bingkai foto di dinding bergetar. Foto pernikahan mereka hampir jatuh, miring di gantungannya—seakan ikut terguncang oleh pertengkaran itu.

 

Aluna terduduk sendirian di dapur, kedua tangannya bertumpu di meja. Napasnya terengah-engah seperti habis berlari. Tangannya gemetar, tapi hatinya mantap. Ada rasa takut, ya—tapi juga rasa lega yang aneh, seperti beban besar baru saja terangkat dari dadanya.

 

Ia duduk cukup lama, mendengar suara detak jam dinding yang terasa begitu keras di telinganya. Rumah itu sunyi, tapi bukan sunyi yang menenangkan—lebih seperti sunyi yang memberi ruang bagi pikirannya untuk bicara.

 

Akhirnya, dengan gerakan pelan namun pasti, Aluna bangkit. Ia mengambil ponselnya dari meja dan mengetik pesan. Jempolnya sempat berhenti di atas layar, ragu beberapa detik, sebelum ia menekan tombol kirim.

 

Aluna: Tolong siapkan dokumen perceraian secepatnya. Saya siap menandatangani.

 

Begitu pesan terkirim, ia menutup mata. Ada rasa sesak di dada, tapi juga kelegaan yang menyeruak. Tak ada jalan kembali sekarang.

 

Malam itu, rumah terasa semakin dingin. Aluna naik ke kamar, menyalakan lampu meja, dan membuka lemari pakaiannya. Tangannya bergerak hati-hati saat menarik koper kecil dari atas lemari. Ia mulai mengemas barang-barang pribadinya: pakaian secukupnya, dokumen penting, perhiasan pemberian orang tuanya, dan foto-foto lama yang berarti baginya—foto masa kecil, foto bersama orang tuanya, foto kenangan saat ia masih merasa bahagia.

 

Setiap benda yang ia masukkan ke dalam koper seperti membawa potongan hidupnya sendiri. Ada momen ketika ia menemukan gaun yang dulu Damar belikan saat ulang tahunnya. Tangannya berhenti melipat, matanya berkaca-kaca.

 

“Dulu kamu sayang sama aku…” bisiknya lirih, hampir tak terdengar. “Tapi sekarang kita hanya saling melukai.”

 

Ia melipat gaun itu dengan hati-hati dan memasukkannya ke koper—bukan karena ingin membuang kenangan, tapi karena ia tahu itu bagian dari perjalanannya.

 

Sambil duduk di tepi ranjang, Aluna memeluk dirinya sendiri. Di cermin di seberang, ia melihat bayangan seorang perempuan yang tampak lelah tapi tidak kalah. Rambutnya sedikit berantakan, matanya merah karena menahan tangis, namun ada sesuatu yang baru di sorot matanya—keteguhan.

 

“Ini hidupku,” ia berbisik pada dirinya sendiri. “Aku harus mengambilnya kembali.”

 

Ia teringat malam-malam panjang yang ia habiskan dengan menangis sendirian di kamar mandi agar tidak terdengar Damar. Terbayang piring-piring yang pecah, suara bentakan yang membuat jantungnya berdebar panik, dan hari-hari di mana ia merasa seperti berjalan di atas kulit telur, takut membuat kesalahan sekecil apa pun.

 

Tapi kini, di malam itu, ia merasa berbeda. Ada api kecil yang menyala di dalam dirinya, api yang selama ini hampir padam.

 

Ia mengambil buku catatan yang dulu ia gunakan untuk menulis rencana-rencana hidup sebelum menikah. Di halaman pertama tertulis mimpinya—membangun galeri seni, bepergian ke kota-kota yang ia impikan, hidup mandiri tanpa ketergantungan pada siapa pun.

 

Aluna menulis satu kalimat baru di halaman terakhir buku itu:

 

“Langkah pertama: Bebas.”

 

Air mata jatuh di pipinya, tapi kali ini bukan hanya air mata sedih. Ada rasa haru, rasa takut, dan rasa berani yang bercampur jadi satu.

 

Beberapa jam kemudian, suara mobil terdengar di luar. Damar pulang. Langkahnya berat, pintu dibuka tanpa suara bantingan seperti sebelumnya. Tapi Aluna tidak keluar untuk menyambut. Ia sudah berbaring di tempat tidur, memejamkan mata meski belum tidur.

 

Damar berdiri di ambang pintu, melihat punggung istrinya. Ada jeda panjang sebelum ia akhirnya melangkah masuk.

 

“Luna…” suaranya serak, berbeda dari nada marahnya tadi.

 

Aluna tetap diam, pura-pura tidur. Ia tahu kalau ia menoleh sekarang, ia akan tergoda untuk kembali lembut, untuk memaafkan begitu saja. Dan ia tidak mau itu terjadi—setidaknya tidak malam ini.

 

Damar menghela napas panjang, lalu pergi. Suara langkahnya menjauh ke ruang kerja.

 

Aluna membuka mata, menatap langit-langit. Malam itu ia merasa takut, tapi untuk pertama kalinya sejak lama, ia juga merasa kuat.

 

Ia tahu jalannya tidak akan mudah. Besok, ia harus menghadapi banyak pertanyaan—dari Damar, dari keluarganya, dari orang-orang yang akan menghakimi. Tapi keputusan sudah diambil.

 

Dan ia bersumpah pada dirinya sendiri, apa pun yang terjadi, ia tidak akan mundur.

Komentar