LALUNA (bab.1) - NOVEL AI

 

Aluna

Bab 1 – Pernikahan yang Terlihat Sempurna

 

Rumah besar bergaya modern di kawasan elit itu berdiri anggun, seakan menjadi simbol kemewahan dan kesempurnaan. Dinding kaca yang menjulang tinggi memantulkan cahaya sore, memancarkan kilau elegan yang sering membuat orang yang lewat berhenti sejenak hanya untuk menatapnya. Garis-garis arsitekturnya tegas namun mewah, dikelilingi taman yang terawat sempurna dengan bunga mawar putih mekar di setiap sudut. Di halaman depan, air mancur kecil berdiri, memercikkan air jernih yang menimbulkan suara menenangkan. Dari luar, rumah itu seperti istana impian—tempat di mana kebahagiaan seharusnya berdiam.

 

Bagi orang luar, rumah itu bukan sekadar tempat tinggal, melainkan simbol kisah cinta yang diimpikan banyak orang. Foto-foto Aluna dan Damar saat pesta pernikahan mereka masih tersimpan rapi di akun media sosial, sering menjadi inspirasi bagi pasangan lain. Aluna—perempuan muda, cantik, pintar, dan berasal dari keluarga terpandang—selalu tampil anggun dalam balutan busana rancangan desainer terkenal. Damar, suaminya, dikenal sebagai pebisnis sukses, karismatik, dan berwibawa. Di mata masyarakat, mereka pasangan sempurna.

 

Setiap kali menghadiri acara sosial, mereka seperti sepasang tokoh utama dalam drama romantis. Damar selalu menggenggam tangan Aluna, menuntunnya ke meja tamu dengan senyum menawan. Aluna akan membalas senyum itu, meski sering kali hatinya terasa berat. Kamera para tamu menangkap momen itu, lalu mengunggahnya ke media sosial dengan caption: #CoupleGoals.

 

Namun, dunia tidak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi di balik pintu rumah itu.

 

Begitu pintu tertutup, wajah Damar berubah. Senyum yang tadi dipamerkan lenyap begitu saja, digantikan tatapan dingin yang membuat udara di sekitar mereka ikut membeku. Nada suaranya berubah tegas, dingin, dan sering kali menusuk.

 

“Kamu ini istri pengusaha,” ujar Damar suatu malam, melepas jasnya dengan gerakan kasar. “Jangan kelihatan bodoh di depan orang. Besok pakai gaun yang aku pilih. Jangan gaya kamu yang aneh-aneh itu.”

 

Aluna berdiri membisu di sudut ruang, jemarinya menggenggam erat gaun yang dipakainya. Kata-kata itu menusuk, tetapi ia sudah terlalu lelah untuk membalas. Ia hanya menunduk.

 

"Apakah ini pernikahan yang aku impikan dulu?" batinnya lirih.

 

Malam itu, setelah tamu-tamu pergi, Damar kembali marah. Hanya karena hidangan penutup tidak sesuai seleranya.

 

“Aku sudah bilang aku nggak suka kue ini!”

 

Piring itu melayang dan pecah di lantai, suara pecahannya memantul di dinding ruang makan yang mewah. Aluna bergidik. Bukan karena takut pada pecahan kaca, tetapi karena sadar bahwa hatinya ikut retak sedikit demi sedikit.

 

Di kamar, Aluna duduk di tepi ranjang, menatap bayangannya di cermin besar. Dari luar ia masih tampak anggun—makeup-nya belum luntur, gaunnya masih sempurna—tapi matanya sembab.

 

Ia menghela napas panjang. Tangannya mengepal pelan.

 

"Aku akan bertahan, tapi tidak untuk selamanya. Aku ingin melihat hari ketika Damar berhenti merasa lebih tinggi dariku."

 

Keesokan paginya, rumah itu kembali tampak sempurna. Aroma kopi segar memenuhi ruang makan. Para pembantu rumah lalu-lalang dengan sigap. Damar sudah duduk di meja, membaca koran.

 

“Selamat pagi,” sapa Aluna dengan suara yang ia buat selembut mungkin.

 

Damar hanya mengangguk, tidak menatap.

 

Di hadapan mereka, meja sarapan dipenuhi roti panggang, buah segar, dan omelet yang dimasak sempurna. Seolah malam tadi tidak pernah terjadi apa-apa.

 

Namun bagi Aluna, luka itu tetap ada.

 

Sepanjang pagi ia teringat masa-masa awal pernikahan mereka. Hari ketika Damar melamarnya di sebuah restoran mewah, dengan cincin berlian yang membuat semua orang iri. Janji-janji manis yang diucapkan, tatapan penuh cinta yang dulu membuatnya yakin.

 

"Ke mana perginya Damar yang dulu? Atau mungkin dia memang tidak pernah ada, dan aku yang terlalu buta oleh cinta?"

 

Hari itu, Aluna harus menghadiri acara arisan keluarga. Di depan saudara-saudaranya, ia kembali mengenakan senyum terbaik.

 

“Luna, kamu makin cantik saja!” puji salah satu sepupunya.

 

Aluna hanya tersenyum, padahal hatinya terasa kosong. Damar duduk di sebelahnya, tangannya melingkar di pinggang Aluna seolah ingin menunjukkan kepemilikan. Semua orang memuji kemesraan mereka.

 

Tapi di telinga Aluna, suara pujian itu terdengar seperti ejekan.

 

Sepulang acara, Damar kembali dingin.

 

“Kamu terlalu banyak bicara tadi. Kamu bikin aku terlihat lemah di depan keluarga.”

 

Aluna terdiam.

 

Di kamar, ia berbaring sendirian. Air mata mengalir tanpa suara.

 

"Aku bertahan bukan karena aku lemah. Tapi karena aku ingin melihat dia suatu hari jatuh. Aku ingin melihat dia datang padaku, meminta maaf, mengemis cinta yang pernah ia hancurkan."

 

Malam semakin larut. Aluna menatap langit-langit kamar. Tekadnya semakin menguat.

 

"Aku akan bertahan. Tapi bukan untuk selamanya. Akan ada hari di mana aku berdiri di atas luka ini, dan Damar akan tahu bagaimana rasanya kehilangan."

Pagi itu, setelah sarapan, Aluna melangkah ke taman belakang. Taman itu adalah satu-satunya tempat di rumah yang membuatnya merasa sedikit tenang. Ada kolam ikan kecil di sudut, dikelilingi tanaman hijau yang rimbun. Udara masih segar, embun pagi belum sepenuhnya mengering.

 

Ia duduk di bangku taman, meraih secangkir teh hangat yang tadi dibawakan Sari, pembantu rumah tangga yang sudah bekerja di keluarga itu sejak lama.

 

“Bu, tadi malam saya dengar ada piring pecah,” ujar Sari hati-hati. “Apa Ibu baik-baik saja?”

 

Aluna menoleh, sedikit terkejut. Sari jarang bertanya hal-hal pribadi.

 

“Tidak apa-apa, Sar. Hanya salah paham kecil,” jawabnya singkat.

 

Sari mengangguk pelan, tapi wajahnya menyimpan cemas. Ia sudah lama tahu kalau rumah itu tidak seharmonis yang terlihat. Tapi sebagai pembantu, ia tidak punya hak untuk ikut campur.

 

Aluna menghela napas panjang. Ia menatap permukaan teh, lalu berkata pelan, seolah bicara pada dirinya sendiri.

 

“Dulu aku kira menikah dengan Damar adalah akhir dari pencarian. Aku kira dia rumahku. Tapi sekarang… rumahku justru terasa seperti penjara.”

 

Flashback

 

Beberapa tahun lalu, Aluna dan Damar bertemu di sebuah acara gala charity. Saat itu Aluna baru pulang dari studi di luar negeri, sedang meniti karier di sebuah firma hukum. Damar hadir sebagai salah satu donatur utama acara tersebut.

 

“Nama kamu Aluna?” tanya Damar malam itu, suaranya lembut namun percaya diri.

 

Aluna mengangguk, sedikit gugup. Damar mengenakan jas rapi, senyumnya menawan. Malam itu mereka berbincang cukup lama. Damar bercerita tentang perusahaannya, visinya membangun bisnis, dan mimpinya di masa depan.

 

Aluna terpesona. Ia melihat sosok pria dewasa yang tahu apa yang diinginkan, seseorang yang tampak bisa memberi rasa aman.

 

Hubungan mereka berkembang cepat. Damar selalu tahu cara membuatnya tersenyum. Bunga dikirim setiap pagi, pesan manis sebelum tidur, makan malam romantis di restoran mewah.

 

“Aku ingin kita selalu seperti ini, Luna,” kata Damar suatu malam saat mereka makan malam di tepi pantai. “Aku ingin membangun masa depan bersama kamu.”

 

Dan Aluna percaya.

 

Saat Damar melamarnya di hadapan keluarga besar, semua orang bersorak gembira. Pernikahan mereka dirayakan dengan megah. Gaun pengantin Aluna menjadi pembicaraan banyak orang, dan foto pernikahan mereka masuk di majalah gaya hidup.

 

Hari itu, Aluna merasa menjadi perempuan paling beruntung di dunia.

 

Namun kebahagiaan itu perlahan pudar setelah bulan madu berakhir.

 

Damar mulai sering pulang larut malam, alasannya rapat atau urusan bisnis. Ia mulai mengatur banyak hal—cara Aluna berpakaian, cara ia berbicara, bahkan siapa saja yang boleh ia temui.

 

“Luna, teman-teman kuliahmu itu terlalu banyak drama,” ujar Damar suatu malam. “Kamu sekarang istri pengusaha, kamu harus jaga reputasi. Jangan terlalu sering ketemu mereka.”

 

Awalnya Aluna mencoba memahami. Ia berpikir Damar hanya ingin melindunginya. Tapi lama-kelamaan ia merasa terkekang.

 

Kembali ke Masa Kini

 

Hari itu, setelah duduk lama di taman, Aluna memutuskan menghubungi sahabat lamanya, Nadya. Mereka sudah lama tidak bertemu karena jadwal Aluna yang padat dan larangan halus dari Damar.

 

“Nad, kamu sibuk nggak sore ini?” suara Aluna bergetar.

 

“Luna! Ya Tuhan, akhirnya kamu telepon juga. Aku kira kamu sudah lupa sama aku,” jawab Nadya dengan nada bercanda.

 

Aluna tersenyum kecil. “Aku… cuma kangen ngobrol.”

 

“Datang ke kafe biasa jam empat, ya. Aku tunggu.”

 

Sore itu, Aluna mengenakan gaun sederhana, bukan gaun pilihan Damar. Untuk pertama kalinya ia merasa memberontak, walau kecil.

 

Kafe itu tidak banyak berubah. Aroma kopi, suara musik akustik, dan tawa pengunjung membuat suasana terasa hangat.

 

Nadya sudah menunggunya di sudut, melambaikan tangan.

 

“Luna! Kamu kelihatan… lelah,” ujar Nadya pelan setelah mereka saling berpelukan.

 

Aluna menunduk. “Aku baik-baik saja.”

 

“Jangan bohong sama aku. Mata kamu sembab. Kamu sering nangis, ya?”

 

Air mata Aluna nyaris jatuh. Nadya adalah satu-satunya orang yang masih bisa ia percayai.

 

“Aku cuma… capek, Nad. Pernikahan ini… tidak seperti yang aku bayangkan.”

 

Nadya menggenggam tangan Aluna. “Kalau kamu nggak bahagia, kenapa kamu bertahan?”

 

Aluna terdiam lama.

 

“Aku ingin melihat dia jatuh, Nad. Aku ingin melihat dia suatu hari sadar, datang padaku, dan menyesal. Kalau aku pergi sekarang, dia akan terus merasa menang.”

 

Nadya menatapnya dengan iba. “Luna, kamu nggak harus terluka untuk membuktikan sesuatu.”

 

“Tapi ini pilihanku,” jawab Aluna lirih.

 

Malam itu, Aluna pulang dengan hati campur aduk. Damar sudah di rumah.

 

“Kamu dari mana?” tanyanya dengan nada datar.

 

“Ketemu teman lama,” jawab Aluna jujur.

 

Damar mendecak. “Aku sudah bilang, jangan terlalu sering keluar tanpa aku.”

 

Aluna menggigit bibir. “Aku butuh udara, Damar.”

 

Damar menatapnya tajam, lalu berjalan pergi tanpa berkata apa-apa lagi.

 

Aluna masuk kamar, melepaskan sepatunya pelan. Di depan cermin, ia menatap dirinya lama.

 

"Aku tidak akan hancur. Aku akan tetap berdiri. Sampai hari itu datang—hari di mana dia sadar aku bukan bonekanya."

Komentar