Aluna
Bab
3 – Retakan yang Semakin Lebar
Udara pagi itu terasa lebih berat dari biasanya. Langit mendung, hujan turun gerimis sejak subuh, membuat seluruh rumah terasa dingin. Aluna duduk di meja makan, mengenakan sweater tipis, memandangi jendela yang dipenuhi titik-titik air.
Damar turun dari lantai atas, sudah rapi dengan setelan jas. Ia duduk tanpa banyak bicara, membuka tablet, membaca berita.
“Sarapanmu?” tanya Aluna lembut.
“Telur setengah matang,” jawabnya singkat tanpa menoleh.
Aluna memberi isyarat pada Sari, lalu menatap kembali ke jendela. Hatinya berat. Ada sesuatu di udara pagi itu yang membuatnya gelisah.
Ketika sarapan selesai, Damar mendadak berkata, “Nanti sore ikut aku ke acara gala. Pakai gaun hitam yang aku belikan minggu lalu.”
Aluna menahan napas sejenak. Ia sudah berjanji pada Nadya untuk menemani ke kelas yoga.
“Aku… sudah ada janji sore ini,” jawab Aluna hati-hati.
Damar meletakkan tablet. Tatapannya tajam. “Janji apa?”
“Yoga dengan Nadya.”
Damar tertawa dingin. “Kamu pilih yoga daripada menemaniku? Luna, kamu itu istriku. Acara ini penting.”
Aluna menggigit bibir. Ada suara kecil di dalam dirinya yang ingin berteriak, kenapa selalu kamu yang menentukan semua hal dalam hidupku?
Namun ia hanya berkata, “Baik. Aku ikut.”
Di kamar, setelah Damar pergi, Aluna terduduk di tepi ranjang. Rasa kesal bercampur pasrah membuat dadanya sesak. Ia menatap gaun hitam yang tergantung di lemari.
"Sampai kapan aku harus memakai apa yang dia pilih? Bicara seperti yang dia mau? Jadi istri yang hanya terlihat cantik di foto?"
Acara Gala
Sore itu, Aluna berdiri di depan cermin, mengenakan gaun hitam yang dipilih Damar. Gaun itu indah, menjuntai elegan, tapi baginya terasa seperti rantai yang melingkari tubuh.
Di acara gala, Damar tampil seperti biasa—ramah, penuh pesona. Orang-orang datang menyapa, memuji pasangan ini.
“Kalian pasangan sempurna,” kata seorang tamu.
Aluna tersenyum sopan, tapi di dalam hatinya ada perasaan getir.
Saat sesi foto, Damar merangkul pinggangnya erat, seolah-olah ingin menandai kepemilikan. Kamera berkilat, menahan momen itu selamanya.
Di sudut ruangan, Aluna mendengar bisikan dua wanita.
“Lihat Luna. Cantik sekali ya. Tapi dia jarang kelihatan senyum akhir-akhir ini.
“Iya, kayaknya dia makin kurus. Semoga nggak ada masalah.”
Aluna menegakkan punggungnya, berusaha tetap tenang. Tapi kata-kata itu menusuk. Mereka melihat sesuatu. Retakan itu mulai terlihat di mata orang lain.
Konfrontasi Kecil
Di mobil sepulang acara, Damar memuji dirinya sendiri. “Acara tadi sukses besar. Banyak yang kagum sama kita.”
“Kagum sama kita?” Aluna menoleh. “Atau kagum sama kamu?”
Damar meliriknya. “Apa maksudmu?”
“Aku merasa cuma pajangan, Damar. Kamu bawa aku ke acara seperti ini supaya orang melihat kamu pria sukses yang punya istri cantik. Tapi kamu nggak pernah benar-benar mendengar aku.”
Mobil mendadak hening. Damar memutar stir lebih keras dari biasanya.
“Luna, kamu berubah.”
“Ya,” jawab Aluna pelan. “Mungkin aku memang berubah.”
Monolog Panjang
Malam itu, setelah Damar tertidur, Aluna duduk di sudut kamar.
"Apa aku egois? Atau ini satu-satunya cara aku bisa menyelamatkan diriku sendiri? Aku tidak mau menghabiskan hidupku hanya menjadi figuran dalam cerita orang lain. Aku ingin menjadi tokoh utama dalam hidupku."
Ia membuka buku catatannya dan menulis lagi.
"Hari ini aku mengatakan sesuatu yang selama ini kutahan. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok, tapi aku merasa sedikit lega. Mungkin ini awal dari sesuatu yang baru."'
Beberapa hari kemudian, ibunya mengajak Aluna makan siang.
“Luna, Mama bisa tanya sesuatu?”
“Tentu, Ma.”
“Pernikahanmu… baik-baik saja, kan?”
Pertanyaan itu membuat Aluna terdiam. Ia menatap piringnya, lalu berkata, “Baik-baik saja.”
Ibunya menghela napas. “Luna, Mama bisa lihat dari matamu. Kamu tidak bahagia.”
Air mata menggenang di pelupuk mata Aluna. Tapi ia menahan. “Mama jangan khawatir. Aku baik-baik saja.”
Namun di dalam hatinya, ia berjanji. Suatu hari, Mama akan melihat aku berdiri lebih kuat daripada sekarang.
Langkah Berani
Hari itu, Aluna nekat. Ia pergi ke toko buku dan membeli buku-buku tentang psikologi hubungan, tentang trauma, tentang cara memulihkan diri.
Di rumah, ia menyembunyikan buku-buku itu di laci meja rias.
Setiap malam, saat Damar tidur, ia membacanya diam-diam.
Ia belajar tentang batasan diri, tentang gaslighting, tentang bagaimana orang bisa kehilangan rasa percaya diri dalam hubungan yang salah.
Dan setiap halaman yang ia baca, Aluna merasa seolah cermin di depan matanya semakin jernih. Ia melihat siapa dirinya. Ia melihat siapa Damar sebenarnya.
Retakan yang Nyata
Konflik memuncak ketika suatu malam Damar menemukan catatan kecil di meja rias.
“Apa ini?” suaranya tajam.
“Itu… catatan pribadi.”
Damar membaca beberapa baris, lalu membanting buku itu ke meja.
“Kamu menulis ini? Kamu menulis tentang aku?”
Aluna berdiri tegak. “Itu perasaanku. Kamu tidak berhak marah karena aku jujur pada diriku sendiri.”
Damar mendekat, wajahnya merah. “Kamu mulai keterlaluan, Luna.”
Untuk pertama kalinya, Aluna menatap balik tanpa takut. “Mungkin memang sudah waktunya.”
Malam itu, Damar keluar rumah, menyalakan mobil, dan pergi tanpa berkata apa-apa.
Aluna duduk di lantai, jantungnya berdegup kencang.
"Aku takut… tapi aku juga lega. Retakan itu sudah terlalu besar untuk ditutupi. Tidak ada jalan kembali."
Di luar, hujan turun lagi. Aluna membuka jendela kamar, membiarkan udara dingin masuk. Ia memeluk dirinya sendiri, lalu menatap langit.
"Ini mungkin awal dari akhir. Tapi untuk pertama kalinya, aku merasa aku punya kendali."
Dan malam itu, ia tidur dengan senyum kecil di wajahnya.
Hari ini Aluna bertemu dengan sahabat lamanya, Rani, di sebuah kafe mewah yang terletak di pusat kota. Interior kafe itu hangat dengan aroma kopi yang menenangkan, tapi hati Aluna justru terasa semakin sesak. Rani menatapnya dengan tatapan yang penuh perhatian, seolah berusaha menembus dinding pertahanan yang sudah lama Aluna bangun.
“Lun, kamu sebenarnya bahagia nggak sama Damar?” tanya Rani pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh musik lembut yang mengalun.
Pertanyaan itu membuat Aluna terdiam. Bibirnya ingin menjawab “bahagia,” seperti biasanya. Jawaban yang selalu ia berikan pada siapa pun yang bertanya. Tapi kali ini, ada sesuatu di dalam dirinya yang pecah. Matanya berkaca-kaca, dadanya terasa sesak. Rani menatapnya tanpa berkata-kata, memberi ruang bagi Aluna untuk jujur.
Untuk pertama kalinya, Aluna
membuka semua luka yang selama ini ia pendam. Dengan suara bergetar, ia
menceritakan bagaimana Damar sering merendahkannya, bagaimana setiap kesalahan
kecil menjadi alasan untuk berteriak. Ia bahkan bercerita tentang malam-malam
ketika ia menangis diam-diam di kamar mandi agar tidak terdengar oleh siapa
pun.
Rani menggenggam tangannya erat.
“Lun, kamu nggak harus hidup kayak gini. Kamu punya harta, kamu bisa hidup
tanpa dia. Gugatin aja. Kamu masih muda, kamu berhak bahagia.”
Kata-kata itu menancap di kepala
Aluna. Sepanjang perjalanan pulang, ia seperti mendengar suara Rani
berulang-ulang di telinganya. Kamu berhak bahagia.
Sesampainya di rumah, Aluna
berjalan perlahan menuju ruang kerja. Rumah itu terasa terlalu besar dan terlalu
sunyi. Ia duduk di kursi, memandangi buku catatannya yang penuh dengan rencana
hidup yang dulu ia tulis bersama Damar—impian memiliki anak, membangun bisnis
bersama, liburan ke tempat-tempat indah. Semua itu kini terasa seperti cerita
dari kehidupan orang lain.
Tangannya meraih ponsel.
Jantungnya berdetak kencang, seakan setiap detak terdengar jelas di telinganya.
Layar ponsel memantulkan wajahnya yang pucat dan mata sembab yang belum sempat
ia hapus air matanya. Dengan jemari gemetar, ia membuka daftar kontak dan
menggulir perlahan sampai menemukan nama pengacara keluarga yang sudah lama ia
simpan.
Jari-jarinya berhenti tepat di
atas tombol panggil. Namun, ia tidak segera menekannya. Ponsel itu terasa berat
di tangannya, seperti menuntut sebuah keberanian yang belum sepenuhnya ia
miliki.
Bagaimana kalau Damar marah?
Bagaimana kalau keluargaku kecewa? pikir Aluna. Ketakutan itu menyerbu, membuat
dadanya sesak. Ia membayangkan wajah ibunya yang selalu berkata bahwa rumah
tangga harus dipertahankan, seburuk apa pun keadaannya. Ia juga membayangkan
tatapan dingin Damar ketika tahu ia berniat pergi. Semua itu membuat tangannya
kembali lemas.
Namun, di balik rasa takut itu,
ada perasaan lain yang perlahan muncul—rasa lega. Seolah hanya dengan memegang
ponsel ini, ia sudah mengambil langkah kecil untuk merebut kembali hidupnya.
Aku masih bisa memilih. Hidupku bukan hanya tentang bertahan dan pura-pura
bahagia, batinnya.
Aluna menarik napas panjang,
menahan isak yang hampir pecah. Air matanya mengalir lagi, tapi kali ini
berbeda. Tangis itu bukan sekadar duka, melainkan pelepasan. Ada sedikit
keberanian di dalamnya, seperti api kecil yang baru mulai menyala.
Ia menutup mata, membiarkan
pikirannya melayang membayangkan masa depan yang lebih tenang. Ia melihat
dirinya duduk di ruang tamu rumah kecil yang hangat, tanpa teriakan, tanpa
ketakutan. Ia bisa mendengar tawa kecilnya sendiri, sesuatu yang sudah lama
hilang dari hidupnya.
Malam itu, Aluna tidak langsung
menekan tombol panggil. Ponselnya ia letakkan di meja, lalu ia duduk bersandar
sambil memeluk dirinya sendiri. Kamar terasa hening, tapi hening yang
menenangkan, bukan yang menakutkan.
Sebelum tidur, ia menulis satu
kalimat di buku catatannya:
"Aku berhak bahagia."
Tulisan itu terlihat sederhana,
tapi bagi Aluna, itu seperti janji pada dirinya sendiri. Ia memejamkan mata
dengan perasaan yang lebih ringan. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia
tidak menangis karena takut, melainkan karena mulai berani.
Malam itu, ia tertidur dengan
senyum kecil di bibirnya. Meski langkah pertama belum sepenuhnya ia ambil, ia
tahu arah yang akan ia tuju. Dan itu cukup membuatnya merasa lebih hidup
daripada sebelumnya.
Besok, mungkin ia akan menekan
tombol itu. Besok, mungkin ia akan benar-benar memulai perjalanan panjang
menuju kebebasan. Tapi malam ini, ia memberi dirinya waktu untuk merasakan
harapan.
Tangannya meraih ponsel.
Jantungnya berdetak kencang, seolah setiap detak bergema di seluruh ruangan.
Layar ponsel memantulkan wajahnya yang pucat, mata sembab karena menangis
terlalu lama. Dengan tangan bergetar, ia membuka daftar kontak dan berhenti
pada nama pengacara keluarga.
“Telepon sekarang atau besok?”
gumamnya pelan, seperti bertanya pada dirinya sendiri.
Ia mengangkat ponsel itu
setinggi dada, jempolnya hampir menyentuh tombol panggil. Namun, ia berhenti.
“Kalau aku telepon sekarang…
berarti semuanya benar-benar akan berubah,” bisiknya. Napasnya tersengal.
Bayangan wajah ibunya terlintas
di benaknya. ‘Aluna, rumah tangga itu harus dipertahankan. Kamu harus sabar.’
Kata-kata itu terasa berat, seakan menjadi rantai yang menahan langkahnya.
Aluna meletakkan ponsel di
pangkuannya. “Tapi sampai kapan aku harus sabar, Bu?” ucapnya lirih, seolah
ibunya ada di sana mendengarnya. “Sampai aku hancur? Sampai aku berhenti
mengenali diriku sendiri?”
Air mata kembali mengalir. Ia
menghapusnya dengan kasar, mencoba menguatkan diri.
Di kepalanya, terdengar suara
Rani, sahabatnya. ‘Lun, kamu berhak bahagia. Hidupmu nggak berhenti di sini.’
Ia menghela napas panjang. “Iya,
Ran… kamu benar. Aku berhak bahagia.”
Tangannya kembali memegang
ponsel. Kali ini ia menatap layar lama-lama, seakan mencari jawaban di sana.
“Pak Bram…” ia menyebut nama
pengacara itu pelan. “Kalau aku telepon dia, berarti aku sudah memilih jalanku
sendiri.”
Ia berdiri, berjalan
mondar-mandir di kamar. “Damar pasti akan marah besar. Dia nggak akan terima.
Tapi… kalau aku tetap diam, aku akan terus terluka.”
Suara isakannya terdengar di
antara gumaman. Namun kali ini ada ketegasan yang mulai muncul.
Ia kembali duduk, memeluk ponsel
di dadanya. “Besok. Aku akan telepon besok,” ucapnya mantap.
Lalu ia meraih buku catatan di
meja, membuka halaman kosong, dan menulis pelan:
"Aku berhak bahagia."
Membaca kalimat itu membuatnya
menutup mata. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia merasa sedikit lega.
“Terima kasih, Ran,” bisiknya. “Kamu
yang membuat aku sadar kalau aku masih punya pilihan.”
Aluna berbaring di tempat tidur.
Matanya masih basah, tetapi bibirnya membentuk senyum kecil.
“Mungkin besok segalanya akan
lebih sulit,” katanya pada dirinya sendiri. “Tapi malam ini, aku izinkan diriku
merasa tenang.”
Lampu kamar ia matikan. Dalam
kegelapan, ia memeluk bantal, membiarkan tubuhnya rileks. Jantungnya masih
berdebar, tapi ada keberanian kecil yang tumbuh.
Malam itu, ia tertidur lebih
cepat dari biasanya, tanpa rasa takut. Ponsel itu tetap ada di sampingnya,
seperti pengingat bahwa ia sudah siap melangkah.
Besok, semuanya akan dimulai.
Komentar
Posting Komentar