Bab 4 – Langkah Kecil yang Keren
Keesokan paginya, Aluna bangun lebih awal
dari biasanya. Matanya bengkak, sisa air mata semalam masih terasa di pipinya.
Suara Rani terus terngiang di kepalanya: “Kamu berhak bahagia.” Kalimat itu
seperti mantra yang menguatkan sekaligus menakutinya.
Ia berjalan pelan menuju dapur. Aroma kopi
yang baru diseduh memenuhi ruangan, tetapi meja makan yang biasanya dipakai
sarapan bersama Damar terasa dingin dan sepi. Di atas meja tergeletak ponselnya
dengan pesan singkat dari Damar:
“Ada meeting pagi. Jangan lupa datang ke
acara malam ini.”
Aluna menatap pesan itu lama-lama, dadanya
terasa sesak. Lagi-lagi pesta, lagi-lagi ia harus tersenyum seolah semua
baik-baik saja.
“Cukup,” bisiknya pada diri sendiri. Kata itu
nyaris tak terdengar, tetapi cukup kuat untuk membuatnya meraih ponsel.
Tangannya bergetar saat mencari nomor pengacara keluarga yang sudah lama ia
simpan.
“Selamat pagi, Bu Aluna,” suara ramah
terdengar di seberang begitu panggilan tersambung.
“Halo, Pak Bram.” Suara Aluna bergetar, tapi
tegas. “Saya… saya butuh janji temu. Tentang perceraian.”
Hening sejenak. Lalu suara Pak Bram terdengar
lebih lembut. “Baik, Bu. Saya bisa luangkan waktu siang ini. Apakah Ibu bisa
datang ke kantor saya?”
Aluna menarik napas panjang. “Ya. Tolong atur
jamnya.”
Begitu panggilan berakhir, ia bersandar di
kursinya. Tangannya masih dingin, tapi ada rasa lega yang samar di dadanya. Ini
adalah langkah pertama.
Siang itu, Aluna mengenakan pakaian sederhana
namun rapi. Perjalanan menuju kantor terasa panjang. Dari balik jendela mobil,
ia memandangi jalanan kota yang begitu akrab. Di kepalanya, kenangan
berkelebatan—senyum pertama Damar, lamaran romantis di tepi pantai, bulan madu
penuh tawa. Semua itu kini terasa jauh, seperti mimpi yang pudar.
Di kantor, Pak Bram menyambutnya dengan
senyum hangat. “Ibu tidak perlu khawatir. Saya akan membantu Ibu melalui proses
ini.”
“Saya hanya ingin tenang, Pak,” suara Aluna
lirih. “Saya tidak mau perang terbuka. Saya hanya… ingin hidup tanpa rasa
takut.”
Pak Bram mencatat beberapa hal. “Kita bisa
ajukan gugatan dengan cara yang paling damai. Hak-hak Ibu akan tetap
terlindungi.”
Aluna mengangguk. Beban di pundaknya sedikit
terangkat, meski rasa takut masih membayangi. Bagaimana Damar akan bereaksi?
Bagaimana keluarganya?
Sore itu, ia pulang dengan pikiran yang
campur aduk. Menatap pantulan wajahnya di kaca mobil, ia berbisik, “Ini awalnya.
Aku harus kuat. Kalau bukan sekarang, kapan lagi?”
Malamnya, Aluna hadir di acara yang dimaksud
Damar. Gaun yang ia kenakan berkilauan, senyumnya tampak sempurna, tetapi di
balik semua itu, hatinya berdegup cepat. Malam itu, ia berdiri di samping Damar
seperti biasa, menyapa tamu-tamu yang datang. Namun ada sesuatu yang berbeda.
Di balik senyum itu, ia menyimpan rahasia:
keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Hari-hari berikutnya, Aluna mulai menjalani
hidup dengan cara yang berbeda.
Ia tidak lagi hanya menunggu Damar pulang
untuk mendapatkan perhatian, tidak lagi meratapi nasib setiap kali dimarahi.
Aluna kini bangun pagi lebih awal dari
biasanya. Sinar matahari baru saja masuk lewat jendela ketika ia membuka
laptopnya. Buku-buku bisnis yang dulu hanya ia pandangi di rak kini ada di
mejanya, penuh tanda stabilo dan catatan kecil.
Pagi ini ada yang berbeda, Aluna menelepon ayahnya.
“Ayah,” suaranya hati-hati, “aku ingin
belajar. Ajari aku cara mengurus bisnis keluarga. Aku tidak mau hanya menjadi
istri yang diam di rumah.”
Di seberang telepon, ayahnya terdiam sejenak
sebelum menjawab, “Luna… kamu serius?”
“Ya, Yah. Aku ingin bisa berdiri sendiri.”
Nada suara ayahnya melembut. “Baiklah. Kalau
itu yang kamu inginkan, kita mulai dari dasar. Besok datang ke kantor. Kita
baca laporan keuangan bersama.”
“Terima kasih, Yah,” suara Aluna terdengar
lega. “Aku siap.”
Keesokan harinya, Aluna duduk di ruang kerja
ayahnya, sebuah meja besar penuh dokumen.
“Ini neraca keuangan,” kata ayahnya sambil
menunjuk angka-angka. “Kita lihat dulu aset dan liabilitas. Kamu harus bisa
membaca ini sebelum mengambil keputusan apa pun.”
Aluna mengangguk, mencatat cepat. “Jadi ini
artinya perusahaan sedang sehat?”
“Ya, karena rasio hutang masih terkendali.
Tapi jangan hanya lihat angka, lihat juga risiko,” jawab ayahnya sabar.
Hari-hari berikutnya, pelajaran makin intens.
Suatu sore, ayahnya bertanya, “Luna, bagaimana kalau mitra bisnismu mencoba
memanipulasi kontrak?”
Aluna berpikir sejenak. “Aku harus baca
setiap detail perjanjian. Dan kalau ada yang mencurigakan, aku bicarakan dengan
tim hukum.”
Ayahnya tersenyum. “Bagus. Kamu belajar
cepat.”
Di sela-sela belajar, Aluna mulai mengikuti
seminar dan kursus daring. Rani sering menemaninya.
“Luna, kamu serius banget sekarang,” kata
Rani sambil tersenyum.
Aluna tertawa kecil. “Aku harus serius, Ran.
Aku ingin punya masa depan yang aku tentukan sendiri.”
Dalam sebuah acara networking, seseorang
menyapanya. “Anda Aluna, putri Tuan Haris, ya?”
Aluna mengangguk. “Ya. Saya sedang belajar
tentang bisnis keluarga kami.”
Pria itu mengangguk kagum. “Wah, bagus
sekali. Jarang ada yang mau turun langsung.”
Malam itu, Aluna pulang dengan hati hangat.
Ia merasa hidupnya mulai punya arah.
Sementara itu, Damar sibuk dengan proyeknya.
Saat mereka makan malam bersama suatu malam, ia bertanya singkat, “Kamu sering
keluar sekarang. Apa yang kamu lakukan?”
Aluna tersenyum samar. “Belajar.”
“Belajar apa?”
“Belajar hidup,” jawabnya tenang.
Damar mengangkat alis, tapi tidak menanggapi
lebih jauh. Ia mengira Aluna hanya sibuk bersosialisasi seperti biasanya.
Namun di dalam hati, Aluna tahu sesuatu telah
berubah. Ia tidak lagi hanya menjadi bayangan di belakang Damar. Ia mulai
menemukan suaranya sendiri.
Dan ia berjanji, kali ini ia tidak akan
pernah membiarkan siapa pun meredamnya lagi.
Hari-hari berikutnya, sikap Aluna berubah. Ia
tidak lagi mudah menangis setiap kali Damar memarahinya. Bahkan ketika Damar
membentaknya, ia hanya menatap dengan ekspresi tenang.
Suatu malam, Damar pulang dengan wajah masam.
Ia melempar jasnya ke sofa.
“Kenapa rumah sepi begini? Kamu nggak masak?”
suaranya meninggi.
Aluna hanya duduk di meja makan, menutup buku
catatannya pelan. “Makan malam sudah di meja. Kalau dingin, kamu bisa panaskan
sendiri.”
Damar menatapnya tajam. “Kamu jawab begitu ke
aku?”
Aluna berdiri perlahan. “Aku hanya bilang
fakta.”
Damar mendekat. “Kamu berubah. Biasanya kamu
nangis kalau aku marah.”
Aluna menatap matanya, tidak gentar. “Mungkin
aku sudah tidak punya air mata untuk kamu lagi.”
Hening menggantung di antara mereka. Damar
terdiam, tidak terbiasa dengan ketenangan itu.
“Jangan bikin aku naik darah, Luna,” suaranya
lebih pelan, tapi penuh ancaman.
Aluna tersenyum tipis. “Kamu boleh marah.
Tapi aku tidak akan ikut hancur karena kemarahanmu lagi.”
Ia mengambil buku dan catatannya, lalu
berjalan ke kamarnya tanpa menoleh. Damar berdiri mematung, dadanya sesak tanpa
alasan yang jelas.
Keesokan paginya, Aluna kembali bangun lebih
awal. Ia duduk di meja kerja, membuka laptop, lalu menulis sesuatu di halaman
terakhir bukunya: Ini permulaan. Suatu hari, aku akan berdiri di atas, dan dia
akan tahu siapa yang sebenarnya lebih kuat.
Rani datang siang itu. “Luna, kamu kelihatan
beda. Tenang, tapi… kok kayak ada bara di mata kamu?”
Aluna tersenyum. “Mungkin karena aku sudah
berhenti jadi korban. Sekarang aku cuma pengamat.”
“Pengamat?” Rani mengangkat alis.
“Ya,” Aluna menutup bukunya. “Aku perhatikan
cara dia bicara, cara dia marah. Dan aku belajar… dia cuma kuat kalau aku
takut.”
Rani menghela napas. “Dan sekarang kamu nggak
takut lagi?”
“Tidak.” Aluna menatap sahabatnya dengan
mantap. “Rasanya seperti menemukan diri sendiri lagi.”
Malam itu, Damar mengajaknya bicara di ruang
tamu.
“Luna, kamu kenapa? Kamu dingin akhir-akhir
ini,” suara Damar terdengar ragu, berbeda dari biasanya.
“Aku nggak dingin,” jawab Aluna. “Aku cuma
berhenti bereaksi. Aku lelah selalu jadi sasaran.”
Damar terdiam. “Jadi sekarang kamu mau
melawan aku?”
“Tidak.” Aluna duduk santai. “Aku tidak perlu
melawan. Aku hanya tidak akan membiarkan kamu mengatur perasaanku lagi.”
Tatapan mereka saling mengunci. Untuk pertama
kalinya, Damar merasa kehilangan kendali.
Dan di dalam hati, Aluna tahu—permainan baru
saja dimulai.
Komentar
Posting Komentar