LALUNA - BAB 10. Badai Balasan - NOVELET AI

 

BAB 10. Badai Balasan

BLOG NURLAELI UMAR- Pagi pertama di apartemen Rani terasa aneh bagi Aluna. Matahari menembus tirai tipis, menebarkan cahaya hangat ke seluruh ruangan mungil itu. Aluna membuka mata perlahan, merasakan dinginnya lantai kayu di bawah kakinya ketika ia melangkah keluar dari kamar. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia tidak merasa tergesa-gesa. Tidak ada suara Damar yang memanggil dari ruang tamu, tidak ada langkah kaki berat yang menandakan kemarahan, dan tidak ada bayangan ketakutan yang menunggu di balik setiap gerakan kecilnya.

 

Ia menatap dirinya di cermin kecil yang tergantung di dinding ruang tamu. Mata sembab, rambut berantakan, tapi di balik wajah lelah itu, ada sesuatu yang baru—ketenangan. Mungkin belum sepenuhnya bebas, tapi cukup untuk membuatnya menarik napas dalam-dalam tanpa rasa takut.

 

Namun ketenangan itu tidak bertahan lama. Ponselnya bergetar di meja. Sekali, dua kali, lalu bertubi-tubi. Belasan notifikasi memenuhi layar. Dengan tangan bergetar, Aluna mengambil ponselnya.

 

Nama “Damar” terpampang di layar.

Pesan pertama: “Pulang sekarang juga.”

Pesan kedua: “Kamu bikin aku malu.”

Pesan ketiga: “Kalau kamu tidak pulang, kamu akan menyesal.”

 

Jantung Aluna berdetak cepat. Ia menatap layar lama-lama, matanya bergerak mengikuti deretan pesan yang penuh dengan amarah dan ancaman terselubung. Dulu, pesan seperti itu akan membuatnya panik. Ia akan buru-buru menelepon balik, meminta maaf bahkan tanpa tahu apa salahnya. Tapi kali ini berbeda.

 

Tangannya sempat gemetar, tapi ia menutup layar ponsel dan meletakkannya menghadap ke bawah. Ia menarik napas panjang dan berbisik pelan pada dirinya sendiri, “Tidak lagi.”

 

Suara pintu kamar Rani terbuka memecah keheningan. Rani keluar sambil membawa dua cangkir teh hangat. Aroma melati mengisi ruangan, lembut dan menenangkan. “Dia kirim pesan lagi?” tanya Rani, meletakkan cangkir di meja kecil di depan mereka.

 

Aluna mengangguk pelan. “Dia marah. Aku tahu ini belum selesai.”

 

Rani duduk di sebelahnya, menatap wajah sahabatnya dengan iba. “Biar dia marah. Kamu nggak salah, Luna. Kadang orang seperti dia cuma takut kehilangan kendali.”

 

Aluna mengusap matanya. “Tapi aku masih takut, Ran. Aku tahu Damar. Kalau dia bilang aku akan menyesal, dia bisa melakukan apa saja.”

 

Rani menghela napas panjang. “Dengar, kamu nggak sendirian. Aku di sini. Kalau dia datang ke sini, aku nggak akan diam aja. Dan kamu juga harus mulai mikir ke depan—bukan cuma soal kabur dari dia, tapi soal hidup kamu setelah ini.”

 

Aluna menatap teh di tangannya. Uapnya mengepul pelan, seolah ikut menenangkan pikirannya yang kusut. “Aku belum tahu, Ran. Rasanya kosong. Rumah itu dulu segalanya buatku. Sekarang… aku cuma ingin bisa tidur tanpa mimpi buruk.”

 

“Dan kamu akan bisa,” jawab Rani mantap. “Cuma butuh waktu. Kamu udah berani melangkah keluar, dan itu langkah paling besar.”

 

Hening sejenak. Di luar, suara kendaraan dari jalan besar terdengar samar. Aluna menatap jendela, memperhatikan langit yang perlahan berubah dari abu-abu ke biru muda. Ada rasa asing tapi juga lega.

 

“Ran,” katanya pelan, “kadang aku masih merasa bersalah. Aku tahu Damar pernah baik. Aku tahu dia sayang aku, dulu. Tapi semua berubah. Aku nggak tahu kapan mulai rusak.”

 

Rani menatapnya penuh empati. “Sayang yang menyakiti bukan sayang, Luna. Damar mencintai rasa berkuasa, bukan kamu.”

 

Kata-kata itu menampar lembut, tapi jujur. Air mata menggenang lagi di mata Aluna. Ia menunduk, membiarkan setetes air mata jatuh ke punggung tangannya. “Aku pengin berhenti mikirin dia. Tapi kayak ada bagian dari diriku yang masih terikat.”

 

“Itu wajar,” ujar Rani sambil menggenggam tangan Aluna. “Kamu hidup bertahun-tahun bareng dia. Tapi ikatan itu pelan-pelan bakal putus. Asal kamu nggak balik lagi.”

 

Aluna mengangguk, meski hatinya masih berat. Ia tahu ini baru permulaan dari perjalanan panjang menuju kebebasan. Ia belum tahu bagaimana nanti membayar sewa, bagaimana menghadapi keluarga Damar yang pasti akan menekan, atau bagaimana menjelaskan semuanya kepada ibunya yang masih menganggap Damar menantu sempurna. Tapi satu hal sudah pasti—ia tidak akan kembali.

 

Beberapa jam kemudian, ponselnya kembali bergetar. Kali ini bukan pesan, tapi panggilan. Nama Damar kembali muncul di layar, membuat napas Aluna tercekat. Rani segera meraih ponsel itu dan menatap Aluna seolah meminta izin.

 

“Angkat atau blokir?” tanya Rani datar.

 

Aluna menatap layar lama, lalu berkata lirih, “Blokir.”

 

Rani mengangguk, menekan beberapa tombol, dan nomor Damar resmi hilang dari daftar kontak. “Sudah. Sekarang kamu bebas dari satu rantai.”

 

Aluna menatap layar kosong, perasaannya campur aduk antara lega dan takut. Tapi di balik semua itu, ada secercah keberanian baru. “Terima kasih, Ran.”

 

“Jangan makasih dulu,” sahut Rani sambil tersenyum tipis. “Perjalanan kamu baru mulai. Dan aku janji, kamu nggak akan jalan sendirian.”

 

Sore itu, mereka berdua duduk di balkon kecil apartemen, menatap langit yang mulai memerah. Angin sore membawa aroma hujan yang belum turun, lembut tapi menenangkan. Rani bercerita tentang pekerjaannya, tentang rencana akhir pekan, mencoba mengalihkan pikiran Aluna.

 

Dan Aluna mendengarkan—kadang menjawab, kadang hanya tersenyum kecil. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia merasa tidak perlu menjaga sikap, tidak perlu takut salah bicara. Ia bisa menjadi dirinya sendiri, meski masih luka.

 

Malam tiba dengan tenang. Ketika lampu-lampu kota menyala, Aluna berbaring di sofa dan menatap langit-langit. Bayangan Damar masih ada di kepalanya, tapi suaranya mulai memudar. Yang tersisa hanyalah janji kecil di dalam hati: ia akan bangkit, perlahan, setahap demi setahap.

 

Dan di tengah kesunyian malam itu, ia berbisik pada dirinya sendiri, seolah meneguhkan niat, “Besok, aku mulai lagi. Dari awal. Untuk diriku sendiri.”

 

Pagi pertama yang aneh itu akhirnya berubah menjadi awal yang baru. Bukan lagi tentang pelarian, tapi tentang kebangkitan. Aluna tahu, jalan di depannya mungkin masih panjang dan berliku. Tapi untuk pertama kalinya, ia tidak takut lagi berjalan sendirian. Ia sudah memilih—dan kali ini, ia akan tetap pada pilihannya.

Siang itu, udara di apartemen Rani terasa pengap meski jendela sudah terbuka lebar. Aluna duduk di sofa, menatap ponselnya yang terus bergetar di atas meja. Nama Damar muncul berkali-kali di layar, lalu berhenti, lalu muncul lagi. Ia tidak mengangkat. Setiap nada dering terasa seperti pisau yang menusuk perasaannya—tajam dan tak henti-henti.

 

Sudah tiga hari sejak ia meninggalkan rumah. Tiga hari sejak ia memutuskan berhenti jadi bayangan dari dirinya sendiri. Namun rupanya, Damar belum juga menyerah. Pesan, telepon, bahkan ancaman halus—semuanya terus datang, seakan Damar tidak bisa menerima kenyataan bahwa Aluna benar-benar pergi.

 

Aluna menutup wajah dengan kedua tangannya. Ada rasa takut yang menekan dada, tapi juga sedikit keberanian yang terus tumbuh di dalam hatinya. Ia tahu, jika sekali saja ia menjawab panggilan itu, semua kekuatan yang ia bangun akan runtuh.

 

Namun tak lama, ponselnya kembali berdering. Kali ini bukan nama Damar yang muncul di layar, melainkan “Mama”.

 

Aluna menelan ludah. Ia tahu cepat atau lambat ibunya akan tahu. Dengan tangan gemetar, ia menekan tombol hijau.

“Assalamu’alaikum, Ma,” suaranya lirih.

 

“Wa’alaikumussalam, Luna,” jawab ibunya, terdengar cemas dan sedikit tergesa. “Kamu di mana sekarang? Damar datang ke rumah tadi malam. Dia bilang kamu pergi tanpa bicara baik-baik. Kamu benar mau bercerai?”

 

Aluna menutup matanya rapat-rapat. Suara ibunya membuat hatinya semakin berat. Ia tahu ibunya tidak bermaksud menyalahkan, tapi pertanyaan itu menusuk ke tempat yang paling sensitif.

“Ma,” katanya pelan, “aku sudah bicara baik-baik. Berkali-kali. Tapi Damar tidak mau mendengar.”

 

Hening sejenak di seberang. Hanya terdengar napas berat ibunya.

“Tapi Luna…” lanjut ibunya dengan suara lirih, “ini bukan keputusan kecil. Mama takut orang-orang akan membicarakan kita. Kamu tahu, tetangga kita itu suka gosip.”

 

Aluna tersenyum miris meski air mata menetes di pipinya. “Aku tahu, Ma. Tapi aku lebih takut kehilangan diriku sendiri.”

 

Kata-kata itu membuat keheningan panjang. Lalu terdengar suara ibunya yang bergetar, seperti menahan isak.

“Mama cuma ingin kamu bahagia, Luna. Tapi kalau selama ini kamu nggak bahagia, kalau kamu merasa tersakiti, Mama nggak akan paksa kamu bertahan. Kalau ini yang terbaik untukmu… Mama akan dukung.”

 

Air mata Aluna jatuh deras kali ini. Ia menatap langit-langit, berusaha menenangkan diri.

“Terima kasih, Ma,” katanya lirih. “Doain aku kuat, ya.”

 

“Tentu, Nak,” jawab ibunya lembut. “Kamu anak Mama yang paling kuat. Jangan takut, ya.”

 

Telepon ditutup, tapi suara ibunya masih terngiang di kepala. Ada rasa hangat sekaligus sedih. Selama ini ia takut orang tuanya akan kecewa, tapi ternyata yang ia dapat adalah dukungan. Mungkin memang benar—kadang kita terlalu sibuk takut pada penilaian orang, padahal yang mencintai kita hanya ingin kita selamat.

 

Menjelang sore, langit di luar mulai mendung. Angin berembus kencang, menggoyangkan tirai putih di jendela. Aluna baru saja hendak menyiapkan teh ketika suara ponselnya kembali berbunyi—bukan dari Damar, tapi dari satpam di lobi.

 

“Selamat sore, Bu Aluna,” suara satpam terdengar sopan namun tegang. “Ada tamu atas nama Tuan Damar ingin bertemu. Katanya mendesak.”

 

Darah Aluna seolah berhenti mengalir. Ia menatap Rani yang sedang membaca di meja makan. “Damar,” bisiknya. “Dia datang ke sini.”

 

Rani langsung meletakkan bukunya. “Apa? Serius? Gila, dia nekat banget.”

 

“Aku belum siap, Ran. Aku nggak mau ketemu dia,” ujar Aluna dengan suara gemetar.

 

Rani berdiri, menatap Aluna dengan tatapan tegas. “Kamu nggak harus. Ini tempat aman. Aku yang akan urus.”

 

Satpam di telepon masih menunggu jawaban. Rani mengambil alih ponsel dan berkata dengan nada tegas, “Tolong sampaikan ke Tuan Damar, Bu Aluna tidak bisa ditemui saat ini. Kalau dia keberatan, suruh dia pulang dengan baik-baik.”

 

“Baik, Bu. Akan saya sampaikan,” jawab satpam cepat.

 

Rani menutup telepon dan meletakkannya di meja. “Sudah. Sekarang kita tunggu aja. Kamu nggak perlu takut, ya? Di sini ada aku. Kalau dia maksa naik, kita bisa panggil polisi.”

 

Aluna mengangguk pelan. Ia berusaha menarik napas dalam, tapi jantungnya berdetak terlalu cepat. Ia tahu Damar bisa meledak kapan saja. Ia pernah melihat kemarahan itu—wajah merah, mata tajam, kata-kata yang bisa melukai lebih dalam dari pukulan.

 

Lima belas menit kemudian, telepon dari satpam kembali masuk. Rani segera mengangkat.

“Iya, Pak?”

“Bu, Tuan Damar sudah meninggalkan lobi. Tapi dia tampak sangat marah. Katanya ‘ini belum selesai.’”

 

Rani menatap Aluna dan mengangguk pelan. “Baik, terima kasih, Pak.”

 

Telepon ditutup. Keheningan kembali memenuhi ruangan.

 

Aluna duduk di sofa, memeluk bantal erat-erat. “Dia marah besar, Ran. Aku tahu gaya marahnya. Biasanya setelah itu dia akan kirim orang, atau nyari aku lewat teman-teman.”

 

Rani mendekat, duduk di sampingnya. “Denger ya, Luna. Kamu nggak perlu hidup dalam ketakutan lagi. Kalau dia berani macam-macam, kita bisa lapor. Sekarang yang penting kamu tenang dulu.”

 

Aluna menatap sahabatnya dengan mata berkaca-kaca. “Kamu nggak capek bantu aku?”

 

Rani tersenyum kecil. “Capek sih, tapi lebih capek lihat kamu terus disakiti. Lagian, ini bukan cuma bantu. Aku cuma nemenin kamu sampai bisa berdiri sendiri lagi.”

 

Ucapan itu membuat dada Aluna hangat. Ia menatap keluar jendela. Hujan mulai turun pelan-pelan, menetes di kaca dan membentuk garis tipis. Ada sesuatu yang menenangkan dalam suara hujan itu—seolah dunia sedang mencucikan luka-luka yang lama tertimbun.

 

“Aku pikir,” ujar Aluna pelan, “aku akan menyesal ninggalin dia. Tapi ternyata, yang aku rasakan cuma… lega.”

 

Rani menatapnya dan tersenyum. “Ya, itu artinya kamu sudah di jalan yang benar.”

 

Malam menjelang. Setelah makan malam sederhana, Rani mengajak Aluna menonton film lawas yang dulu mereka sukai semasa kuliah. Tapi Aluna lebih banyak diam, pikirannya melayang jauh. Tentang masa lalunya, tentang bagaimana ia pernah percaya bahwa cinta bisa mengubah seseorang. Sekarang ia tahu—cinta tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan dirinya sendiri.

 

Sebelum tidur, ia mematikan ponsel sepenuhnya. Tidak ingin ada lagi pesan atau panggilan yang mengusik. Ia berbaring di sofa, menarik selimut hingga ke dada, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia bisa menutup mata tanpa rasa takut.

 

Malam itu, suara hujan di luar menjadi musik lembut yang meninabobokan. Di antara kantuknya, Aluna berbisik lirih, “Aku akan baik-baik saja.”

 

Dan mungkin, untuk pertama kalinya, ia benar-benar percaya pada kata-kata itu.

. Malam itu, udara terasa lembab setelah hujan turun sebentar sore tadi. Apartemen Rani sudah sepi, hanya terdengar suara jam dinding berdetak pelan di ruang tamu. Aluna duduk di depan laptopnya, matanya menatap layar yang memancarkan cahaya biru redup. Notifikasi email baru muncul di pojok kanan bawah, membuat dadanya tiba-tiba berdegup lebih cepat.

 

Dari: Bram Santoso, S.H.

Subjek: Dokumen Perceraian – Aluna & Damar

 

Jari-jarinya sedikit bergetar ketika membuka pesan itu. Tulisan di layar terasa tegas dan formal, tapi bagi Aluna, setiap kata mengandung beban yang berat.

 

“Selamat malam, Bu Aluna.

Sesuai dengan pembicaraan sebelumnya, dokumen perceraian sudah lengkap dan siap untuk ditandatangani. Mohon konfirmasi waktu yang sesuai agar kita bisa menjadwalkan penandatanganan besok di kantor.”

 

Ia membaca email itu berulang-ulang, mungkin sepuluh kali. Setiap kali membaca, jantungnya berdebar seperti baru mendengarnya untuk pertama kali. Selama bertahun-tahun ia hidup dalam bayang-bayang seseorang yang dulu ia cintai, dan kini, satu klik balasan bisa mengakhiri semuanya. Tapi berakhir bukan berarti selesai—ia tahu itu.

 

Setelah beberapa menit menatap layar kosong, ia akhirnya menulis balasan pendek:

 

“Terima kasih, Pak Bram. Saya akan datang besok pagi.”

 

Tombol Send diklik. Begitu email terkirim, Aluna memejamkan mata. Ada rasa lega, tapi juga getir. Ia meneguk napas panjang lalu bangkit, berjalan ke balkon kecil yang menghadap ke arah langit kota.

 

Malam itu cerah. Bintang-bintang bertaburan di langit, seperti serpihan harapan kecil yang mencoba bertahan di kegelapan. Angin malam berhembus lembut, meniup rambut Aluna. Ia menyandarkan tubuhnya pada pagar balkon dan menatap jauh ke atas.

 

Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar sendirian—tapi bukan dalam arti yang menakutkan. Sendirian kali ini terasa jujur, terasa miliknya sendiri. Tidak ada suara keras, tidak ada bayangan amarah, tidak ada ketakutan yang mengekang langkah. Hanya dirinya, malam, dan keheningan yang menenangkan.

 

Rani sudah tertidur di kamarnya, jadi hanya suara kota dari kejauhan yang menemani. Aluna memikirkan apa yang akan ia katakan besok di hadapan pengacara. Apakah ia akan menangis? Apakah ia akan goyah ketika mendengar nama Damar disebut secara resmi dalam dokumen hukum? Ia tak tahu. Tapi yang pasti, ia sudah siap untuk mengakhiri bab itu.

 

Ia menatap langit lagi, kali ini sambil berbisik, “Aku akan baik-baik saja.”

 

Namun di sisi lain kota, suasana berbeda sama sekali.

 

Damar duduk di ruang kerjanya, lampu kuning temaram menerangi meja besar dari kayu jati. Di depannya, foto pernikahan mereka masih terpajang di bingkai perak, tapi posisinya kini miring, hampir jatuh. Dalam foto itu, Damar dan Aluna tampak tersenyum—senyum yang dulu tampak tulus, tapi kini hanya terasa seperti kepalsuan yang pahit.

 

Damar menatap foto itu lama, ekspresinya datar tapi matanya tajam. Jemarinya menggenggam pena di tangan, mengetuk-ngetuk meja dengan ritme gelisah. Di dadanya, amarah dan ego bercampur menjadi satu.

 

“Jadi kamu benar-benar mau pisah, ya, Luna?” gumamnya pelan, seolah berbicara pada bayangan di dalam foto. “Kamu pikir kamu bisa hidup tanpa aku?”

 

Ia berdiri, berjalan ke jendela besar di belakang meja kerjanya. Dari sana, ia bisa melihat lampu-lampu kota yang berkelip di kejauhan. Dunia di luar terlihat tenang, tapi pikirannya bergejolak. Ia bukan hanya marah—ia tersinggung. Baginya, kepergian Aluna bukan sekadar penolakan cinta, tapi penghinaan terhadap harga dirinya.

 

Ia mengingat hari-hari terakhir mereka bersama: tatapan Aluna yang dingin, kata-kata yang tegas tapi tenang, keberanian yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Semua itu membuatnya gila. Ia terbiasa mengatur segalanya, tapi kali ini, kendali itu hilang dari tangannya.

 

Damar meraih gelas di meja, meneguk sisa wiski yang tinggal separuh. Cairan itu membakar tenggorokannya, tapi ia tidak peduli. Ia mengambil ponselnya, membuka daftar kontak, lalu berhenti di nama “Aluna.” Ia ingin menelepon, ingin berteriak, ingin memaksanya pulang—tapi jari-jarinya hanya berhenti di atas layar. Nomornya sudah tidak bisa dihubungi.

 

Ia tertawa pendek, sinis. “Kamu pikir kamu bisa kabur dari aku semudah itu?”

 

Di mejanya, tergeletak beberapa dokumen bisnis yang belum ia sentuh sejak kemarin. Tapi pikirannya bukan pada pekerjaan, melainkan pada bagaimana ia akan “mengambil kembali” kendali yang hilang. Ia tahu Aluna pasti sudah menggandeng pengacara—dan ia juga tahu cara melawan.

 

Ia menekan bel di meja. Tak lama kemudian, asisten pribadinya, Riko, masuk dengan wajah hati-hati.

“Ya, Pak?”

 

Damar tidak langsung menjawab. Ia memutar kursinya menghadap jendela, lalu berkata dingin, “Hubungi pengacara kita. Besok pagi aku ingin semua dokumen disiapkan. Aku nggak mau terlihat kalah di depan siapa pun, apalagi dia.”

 

Riko menelan ludah, lalu mengangguk cepat. “Baik, Pak.”

 

Setelah Riko keluar, Damar kembali duduk. Ia menatap foto pernikahan mereka lagi. Perlahan, ia mengambilnya dan menegakkan bingkainya. Tapi bukannya mengembalikan ke tempat semula, ia justru meletakkannya di dalam laci, menutupnya dengan cepat.

 

“Baiklah, Luna,” katanya dengan suara pelan tapi penuh ancaman. “Kalau itu perang yang kamu mau, kita lihat siapa yang menang.”

 

Di luar, petir menyambar jauh di langit barat, meski hujan belum turun. Suara itu menggema di dalam ruangan, menciptakan bayangan panjang di wajah Damar. Ia bersandar di kursinya, matanya gelap, pikirannya mulai menyusun langkah-langkah berikutnya.

 

Dan malam itu, badai sesungguhnya mulai terbentuk—bukan di langit, tapi di hati dua manusia yang dulu saling mencinta.

 

Aluna, yang akhirnya berani memperjuangkan kebebasan.

Dan Damar, yang menolak melepaskan kekuasaan atas cinta yang telah lama mati.

 

Mereka berdua memandangi langit yang sama dari dua sisi kota, tanpa tahu bahwa esok hari akan membawa mereka ke pertemuan terakhir—pertemuan yang akan menentukan apakah cinta bisa benar-benar berakhir, atau justru berubah menjadi medan perang yang menguji batas keteguhan hati.

 

Malam itu berakhir dengan dua napas yang berbeda: satu napas lega di balkon kecil, dan satu napas berat di ruang kerja yang penuh dendam.

Dan di antara keduanya, bintang-bintang tetap berkelip, seolah menjadi saksi sunyi dari dua jiwa yang bersiap menghadapi fajar yang tidak akan sama lagi.

Komentar