Bab 11 – Awal yang Baru
BLOG NURLAELI UMAR- Sudah seminggu sejak Aluna menandatangani dokumen
perceraian. Hidupnya perlahan terasa berbeda. Bangun pagi tidak lagi diiringi
rasa takut, tidak ada lagi detak langkah berat yang membuat jantungnya berdegup
cemas, tidak ada lagi suara pintu dibanting atau nada tinggi yang membuat
tubuhnya menegang. Kini, setiap pagi terasa seperti halaman baru yang
bersih—masih kosong, tapi penuh kemungkinan.
Ia mulai membangun rutinitas sederhana, sesuatu yang selama
ini nyaris mustahil dilakukan. Setiap pagi ia sarapan bersama Rani, lalu
berjalan santai di taman dekat apartemen. Kadang mereka hanya duduk di bangku
panjang sambil minum jus jeruk, menertawakan hal-hal kecil, atau sekadar
menikmati udara segar yang beraroma tanah basah. Setelah itu, Aluna menyalakan
laptop dan mulai mengerjakan proyek desain interior kecil yang dulu sempat ia
tinggalkan karena Damar tidak pernah menyukai “pekerjaan tidak tetap”.
Kini, di apartemen mungil berwarna lembut itu, ia merasa
seperti kembali menjadi dirinya sendiri—versi yang lama ia rindukan.
Suatu pagi, Aluna duduk di balkon dengan secangkir kopi
hangat. Langit begitu biru, dan angin membawa aroma hujan yang entah kenapa
membuat hatinya tenang. Ia menatap daun-daun bergerak pelan, seperti menari di
udara.
“Luna!” suara Rani memecah keheningan dari dalam. “Hari ini
kamu udah ada janji sama psikolog, kan?”
Aluna menoleh, senyum kecil terbit di wajahnya. “Iya. Aku
pikir udah waktunya aku bicara dengan profesional. Aku ingin sembuh, Ran. Bukan
cuma pergi dari Damar, tapi benar-benar sembuh.”
Rani muncul di ambang pintu balkon, mengenakan piyama dan
membawa dua potong roti panggang. “Aku bangga banget sama kamu, tahu nggak?”
katanya sambil duduk di sebelah Aluna.
Aluna menatap temannya itu dengan mata lembut. “Aku dulu
takut banget sendirian. Tapi sekarang aku sadar, sendirian itu nggak seburuk
yang kupikirkan. Malah... rasanya menenangkan.”
Rani tersenyum. “Itu tandanya kamu mulai pulih.”
Kantor psikolog itu terletak di sebuah bangunan tenang di
daerah Menteng. Ruangannya hangat, dengan aroma lavender dan cahaya lembut dari
jendela besar yang menghadap taman kecil. Saat duduk di sana, Aluna merasa
seolah berada di tempat yang aman—tempat di mana ia tidak perlu pura-pura kuat.
“Selamat pagi, Aluna,” sapa dr. Maya, seorang perempuan
paruh baya dengan rambut abu-abu pendek dan mata penuh empati. “Bagaimana
kabarmu hari ini?”
“Sedikit gugup,” jawab Aluna jujur. “Ini pertama kalinya aku
bicara dengan psikolog.”
Dr. Maya tersenyum lembut. “Tidak apa-apa. Kamu bisa mulai
dari mana pun yang kamu mau. Kita di sini bukan untuk menghakimi, tapi untuk
membantu kamu memahami diri sendiri.”
Aluna mengangguk pelan. Ia menatap jari-jarinya yang saling
menggenggam, lalu mulai bercerita—tentang awal pernikahannya dengan Damar yang
dulu penuh cinta, tentang perubahan sikap suaminya yang perlahan-lahan
mengekangnya, tentang malam-malam panjang penuh ketegangan, dan bagaimana
dirinya kehilangan keberanian sedikit demi sedikit.
Saat kata-kata itu keluar, air mata mulai menetes.
“Aku dulu nggak sadar kalau aku hidup dalam ketakutan,”
katanya dengan suara bergetar. “Setiap kali dia marah, aku selalu berpikir itu
salahku. Aku terlalu sensitif, terlalu cerewet, terlalu… tidak cukup baik. Aku
bahkan berhenti menggambar, berhenti menulis, karena dia bilang itu buang-buang
waktu.”
Dr. Maya menunduk sedikit. “Dan kamu menanggung itu
sendirian?”
Aluna mengangguk. “Selama bertahun-tahun.”
Hening sejenak. Hanya suara detik jam yang terdengar di
ruangan itu.
“Aluna,” ucap dr. Maya lembut, “kamu sudah melewati banyak
hal berat. Tapi aku ingin kamu tahu, rasa takut yang kamu bawa bukan kelemahan.
Itu tanda bahwa kamu pernah bertahan di tempat yang berbahaya, dan kamu berhasil
keluar.”
Aluna menatapnya, matanya berkilat karena air mata. “Aku
masih sering merasa bersalah, Dok. Seolah aku yang menghancurkan rumah tangga
itu.”
Dr. Maya tersenyum hangat. “Kamu tidak menghancurkan apa
pun. Kamu hanya menyelamatkan dirimu sendiri. Itu tindakan yang paling berani
yang bisa dilakukan siapa pun.”
Tangis Aluna pecah. Tapi kali ini bukan tangis
ketakutan—melainkan tangis pelepasan. Untuk pertama kalinya, ia menangis tanpa
rasa malu.
Sepulang dari sesi itu, Aluna berjalan pelan di taman kota.
Langit berwarna abu muda, tanda hujan sebentar lagi turun. Anak-anak berlarian
sambil tertawa, dan seorang ibu muda menuntun balita di trotoar. Ia
memperhatikan pemandangan itu lama, merasa aneh tapi juga hangat di dada.
Ponselnya bergetar.
“Gimana, sesi pertamanya?” suara Rani ceria di seberang.
“Capek… tapi entah kenapa aku merasa lebih ringan,” jawab
Aluna jujur.
“Itu bagus! Kamu mau aku jemput?”
“Nggak usah. Aku mau jalan sedikit. Rasanya pengin menikmati
udara.”
Ia duduk di bangku taman, menatap langit yang mulai
meneteskan hujan. Butir-butirnya kecil, tapi cukup untuk membuat rambutnya
lembap. Ia tidak berlari. Dulu, Damar pasti akan marah kalau melihatnya
begini—“Perempuan kok nggak bisa jaga diri, nanti masuk angin,” katanya dulu
dengan nada sinis. Tapi kini Aluna hanya tersenyum kecil, membiarkan hujan
menyapa wajahnya.
Itu terasa seperti baptisan baru.
Malamnya, ia tiba di apartemen dengan langkah pelan.
Lampu-lampu kota berkilauan dari jendela. Ia menyalakan lilin aromaterapi, lalu
membuka kotak kecil yang dibawanya dari rumah Damar. Di dalamnya ada foto-foto
lama: hari pernikahan mereka, liburan pertama ke Bali, dan beberapa surat cinta
dari masa ketika Damar masih hangat dan perhatian.
Tangannya berhenti di sebuah benda kecil — cincin
pernikahannya. Ia menatap cincin itu lama-lama. Dulu, benda itu adalah simbol
kebahagiaan, janji selamanya. Kini, hanya kenangan dari masa yang tidak ingin
ia ulangi.
Ia menatap pantulan dirinya di permukaan logam itu. Ada
bayangan perempuan yang berbeda — bukan lagi Aluna yang menahan tangis di sudut
rumah, tapi Aluna yang baru, yang sedang belajar berdiri sendiri. Dengan
lembut, ia meletakkan cincin itu kembali ke dalam kotak, lalu menutupnya
perlahan.
“Selamat tinggal,” bisiknya pelan.
Rani muncul di ambang pintu kamar, membawa dua cangkir teh.
“Kamu baik-baik aja?”
Aluna mengangguk, tersenyum samar. “Aku cuma… belajar
melepaskan.”
Rani duduk di sebelahnya, menatap kotak itu. “Kamu udah jauh
lebih kuat dari dulu, Luna. Aku lihat sendiri.”
Aluna menatap temannya itu. “Mungkin. Tapi aku masih harus
belajar menerima kalau kekuatan juga berarti berani rapuh.”
Rani tersenyum hangat. “Dan kamu sedang melakukannya.”
Hari-hari berikutnya berjalan tenang tapi penuh makna. Aluna
mulai kembali menata hidupnya. Ia membeli tanaman kecil untuk balkon, menghias
dinding apartemen dengan hasil desainnya sendiri, dan mulai menulis jurnal
setiap malam. Dalam jurnal itu, ia menulis hal-hal kecil yang membuatnya
bersyukur: aroma kopi pagi, sinar matahari di jendela, tawa Rani saat menonton
film, bahkan keheningan malam yang dulu terasa menakutkan tapi kini justru
menenangkan.
Suatu sore, Rani pulang membawa brosur. “Luna, lihat deh!
Ada kursus desain interior baru di deket sini. Pengajarnya katanya top banget.”
Aluna membaca brosur itu perlahan. “Kursus tiga bulan,
proyek portofolio, pameran akhir…” Ia terdiam sejenak, matanya berbinar. “Aku
pernah pengin ikut yang begini.”
“Ya udah, daftar aja. Ini waktunya kamu mulai lagi, kan?”
Hati Aluna berdebar. Dulu, setiap ia ingin melakukan
sesuatu, ia selalu berpikir, bagaimana kalau Damar tidak suka? Sekarang,
pertanyaan itu sudah tidak relevan lagi.
Keesokan harinya, ia datang ke gedung kursus itu. Ruangannya
terang dan penuh energi. Beberapa anak muda sibuk dengan laptop dan sketsa di
meja besar. Ada yang tertawa, ada yang serius menggambar. Aluna berjalan ke
meja pendaftaran dengan senyum ragu tapi tulus.
“Saya mau mendaftar,” katanya pada petugas resepsionis.
Petugas itu menatapnya dengan ramah. “Tentu. Nama, Mbak?”
“Aluna Prameswari.”
Saat menulis namanya di formulir, Aluna merasakan sesuatu
yang aneh — perasaan bangga. Dulu ia selalu menulis “Aluna Damar Prameswari”.
Kini, untuk pertama kalinya, ia menulis namanya sendiri tanpa embel-embel siapa
pun.
Setelah selesai, ia keluar dari gedung itu. Langit sore
berwarna keemasan, dan angin bertiup lembut. Ia berhenti sejenak, memandangi
langit, lalu tersenyum. Bukan karena harus tersenyum, tapi karena hatinya
benar-benar ringan.
Namun, dari kejauhan, sebuah mobil hitam berhenti di
seberang jalan. Kacanya sedikit terbuka. Dari balik jendela, sepasang mata
mengamati setiap gerak Aluna.
Damar.
Ia tidak turun, tidak memanggil, tidak menyalakan mesin.
Hanya menatap. Ada sesuatu di tatapannya—mungkin penyesalan, mungkin kemarahan
yang belum padam.
Aluna sempat merasakan desiran dingin di punggungnya. Untuk
sepersekian detik, semua kenangan lama menyeruak kembali: suara bentakan, pintu
dibanting, rasa takut yang mencekik. Tapi kali ini, ia tidak membiarkan dirinya
tenggelam.
Ia menarik napas dalam-dalam, menegakkan bahu, dan berjalan
menjauh tanpa menoleh.
Mobil itu akhirnya bergerak pelan, lalu menghilang di
tikungan.
Aluna berdiri di trotoar, menatap langit yang berubah
jingga. Ia berbisik pelan pada dirinya sendiri,
“Aku siap menghadapi apa pun.”
Dan untuk pertama kalinya sejak semua dimulai, Aluna sungguh
percaya pada kata-kata itu.
Malam itu, sebelum tidur, ia menulis satu kalimat baru di
jurnalnya:
“Hari ini aku bertemu bayangan masa lalu. Tapi aku tidak
lagi takut.”
Ia menutup buku itu, mematikan lampu, dan membiarkan dirinya
tertidur dengan hati tenang. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun,
mimpinya tidak dipenuhi ketakutan—melainkan cahaya.
-------------
Pagi itu, udara di sekitar gedung kursus terasa hangat dan penuh semangat. Dari luar, terdengar suara tawa dan percakapan riuh para peserta yang baru tiba. Aluna berdiri di depan pintu kaca besar bertuliskan Creative Design Studio, menatap pantulannya sendiri. Rambutnya diikat rapi, dan di pundaknya tergantung tas berisi sketsa dan laptop.
“Ini langkah pertama,” gumamnya pada diri sendiri sebelum membuka pintu.
Ruangannya terang, dengan dinding putih dan aroma cat serta kertas baru. Di setiap meja, ada peserta yang sedang menyiapkan peralatan menggambar. Seorang perempuan muda dengan rambut keriting menyapanya dengan ramah.
“Hai! Kamu peserta baru juga?”
“Iya,” jawab Aluna sambil tersenyum. “Aku Aluna.”
“Senang kenal kamu. Aku Siska,” katanya sambil menjabat tangan. “Kamu ambil kelas desain interior juga?”
“Iya.”
Siska menepuk bahunya. “Bagus. Pengajarnya keren banget, Mas Arka. Orangnya santai tapi tegas. Katanya dulu kerja di firma arsitektur luar negeri.”
Sebelum Aluna sempat menanggapi, suara laki-laki terdengar dari depan ruangan.
“Oke, selamat pagi semuanya. Kita mulai, ya.”
Aluna menoleh. Seorang pria berjaket denim dan berwajah teduh berdiri di depan papan tulis. Rambutnya agak berantakan tapi gaya bicaranya percaya diri.
“Aku Arka, pengajar kalian untuk tiga bulan ke depan. Kita bakal belajar banyak hal — bukan cuma soal teknik desain, tapi juga cara berpikir sebagai desainer.”
Nada suaranya dalam dan menenangkan. Sesekali ia tersenyum, dan entah kenapa, senyum itu terasa jujur.
Aluna duduk di barisan tengah. Saat Arka mulai menjelaskan tentang konsep ruang dan keseimbangan visual, ia mencatat dengan serius. Namun sesekali pikirannya melayang: sudah lama ia tidak merasakan semangat seperti ini — perasaan bahwa dirinya sedang tumbuh.
Setelah kelas selesai, para peserta berkumpul di kafetaria kecil di lantai bawah. Siska langsung menarik Aluna ikut. “Kamu harus coba kopi di sini, enak banget!”
Di meja panjang, beberapa peserta lain bergabung. Mereka berbincang santai, menertawakan tugas-tugas yang menantang. Arka datang menyusul, membawa laptop dan duduk tak jauh dari mereka.
Siska berbisik pelan, “Duh, lihat deh. Kalau dia serius kayak gitu, siapa yang nggak terpesona?”
Aluna hanya tersenyum, meneguk kopinya perlahan. “Dia tampak profesional.”
“Profesional, iya. Tapi juga ramah. Kemarin dia bantuin peserta lain sampai malam. Katanya desain yang bagus itu hasil empati, bukan ego.”
Ucapan itu membuat Aluna menatap ke arah Arka lagi. Ada sesuatu dalam caranya bicara—tenang tapi berisi. Ia menunduk, sedikit malu karena menyadari bahwa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Hari-hari berikutnya, Aluna semakin terbiasa dengan rutinitas barunya. Pagi ia belajar, siang mengerjakan proyek, dan malam menulis jurnal atau ngobrol dengan Rani.
“Kamu sekarang sibuk banget, ya,” kata Rani suatu malam sambil menonton TV.
“Lumayan,” jawab Aluna sambil tersenyum. “Tapi aku senang. Rasanya aku punya arah.”
“Arka itu yang ngajarin kamu, kan?”
“Iya.”
Rani melirik curiga. “Hm… kamu ngomongnya agak beda waktu nyebut nama dia.”
Aluna tertawa kecil. “Nggak, Ran. Aku cuma kagum sama caranya ngajar. Itu aja.”
Rani menyeringai. “Kagum dulu, nanti siapa tahu jadi sayang.”
Aluna mencubit lengannya pelan. “Jangan mulai, deh.”
Namun setelah Rani tertawa dan berpindah topik, Aluna diam-diam menatap ke jendela. Kata-kata sahabatnya itu menimbulkan sesuatu di dadanya — sesuatu yang belum berani ia beri nama.
Beberapa minggu kemudian, kursus memasuki tahap proyek tim. Arka membagi peserta menjadi kelompok-kelompok kecil untuk merancang ulang ruang publik. Aluna satu tim dengan Siska dan dua peserta lain. Saat mereka berdiskusi, Arka sesekali menghampiri memberi masukan.
“Aluna, ide tata letak kamu menarik,” katanya sambil menunjuk sketsa di mejanya. “Tapi coba pikirkan alur cahaya alami. Kadang desain yang bagus justru berasal dari cara kita memahami ruang, bukan sekadar menatanya.”
Aluna menatapnya, sedikit gugup. “Jadi... aku harus revisi bagian jendela?”
“Bukan revisi, lebih ke menyempurnakan. Aku bantu, ya?”
Ia menarik kursi, duduk di samping Aluna, dan mulai menggambar ulang beberapa garis di atas kertas. Tangan mereka nyaris bersentuhan. Aluna bisa mencium aroma sabun lembut dari pergelangan tangannya.
Saat Arka menjelaskan, suaranya terdengar dekat sekali. “Begini… kalau cahaya datang dari arah ini, maka ruangnya akan terasa lebih hidup.”
Aluna mengangguk pelan, berusaha fokus pada kertas, bukan pada degup jantungnya.
Siska, yang duduk di seberang meja, menatap mereka sambil menahan senyum. “Wah, intens banget nih diskusinya.”
Arka hanya tertawa kecil. “Namanya juga belajar. Harus serius.”
Setelah ia beranjak, Siska langsung berbisik. “Luna, kamu tuh ditatap terus loh barusan.”
Aluna memutar mata. “Ah, kamu aja yang lebay.” Tapi dalam hatinya, ia tahu Siska tidak sepenuhnya salah.
Suatu malam, setelah kelas, Aluna menerima pesan dari nomor tak dikenal.
“Selamat malam. Ini Damar.”
Tangannya langsung kaku. Ia memandangi layar ponsel lama, menunggu napasnya stabil. Pesan berikutnya masuk:
“Aku cuma pengin tahu kamu baik-baik aja. Aku nyesel atas semua yang udah terjadi.”
Aluna menutup ponsel sejenak. Perutnya terasa mual, tapi bukan karena takut—melainkan karena jijik pada perasaan iba yang tiba-tiba muncul.
Rani, yang duduk di sofa, melihat wajahnya berubah. “Kenapa, Luna?”
“Damar,” jawabnya singkat.
Rani langsung berdiri. “Apa dia ganggu kamu lagi?”
“Belum. Cuma kirim pesan. Katanya nyesel.”
Rani meraih ponselnya. “Jangan dibales.”
Aluna menggeleng pelan. “Aku tahu. Tapi aku juga nggak mau benci terus. Aku cuma pengin… selesai.”
Ia menulis balasan singkat:
“Aku baik-baik saja. Tolong jangan hubungi aku lagi.”
Lalu ia tekan send dan mematikan ponsel. Untuk pertama kalinya, hatinya tidak bergetar oleh ketakutan, tapi oleh rasa lega yang tegas.
Beberapa hari kemudian, hujan turun deras saat kelas hampir selesai. Sebagian peserta menunggu hujan reda di teras gedung. Arka datang sambil membawa dua payung.
“Luna, kamu arah pulangnya bareng aku, kan? Aku lewat depan apartemenmu.”
Aluna terkejut. “Oh… iya, kalau nggak merepotkan.”
“Bukan merepotkan, justru senang ada teman ngobrol.”
Mereka berjalan di bawah payung yang sama, melewati trotoar yang basah. Lampu jalan memantulkan cahaya kuning di permukaan air.
“Udah lama aku nggak jalan kaki pas hujan,” kata Aluna sambil tertawa kecil.
Arka menoleh. “Serius? Biasanya kamu naik mobil terus ya?”
“Dulu iya. Tapi sekarang aku lebih suka jalan kaki. Rasanya… bebas.”
Arka menatapnya sekilas, lalu tersenyum. “Kamu kayak orang yang baru menemukan dunianya lagi.”
Aluna mengangguk. “Mungkin memang begitu.”
Hujan masih turun deras ketika mereka sampai di depan apartemen. Aluna menatap wajah Arka yang setengah basah karena angin. Ada sesuatu yang hangat di dadanya — bukan cinta yang membakar, tapi rasa nyaman yang sederhana.
“Terima kasih, Mas Arka.”
“Jangan ‘Mas’, panggil aja Arka. Kita kan teman juga,” katanya sambil tersenyum. “Sampai ketemu besok, ya.”
Ketika ia melangkah pergi, Aluna masih berdiri di bawah kanopi, menatap punggungnya yang menjauh. Di balik hujan, dunia tampak berkilau.
Komentar
Posting Komentar