Kata Pengantar (Foreword)
Sekarang adalah abad modern. Semua
serba cepat. Tetapi sejak zaman dahulu para leluhur kita mempunyai banyak
kearifan yang belum bisa tertandingi, di antaranya adalah pusaka kantung macan.
Kantung macan adalah satu benda pusaka yang banyak diburu orang, karena
tuahnya. Salah satunya adalah bisa memindahkan orang dari satu tempat ke tempat
lain yang jauh dalam waktu hitungan detik atau menit saja.
Now is the modern age. Everything is fastest. But since
ancient times our ancestors have many wisdom that has not been unchallenged,
among them the heirlooms of tiger pouch. Tiger pouch is a heirloom that many
people hunted for, because of that purpose. One is that it can move people from
one place to another far away in a matter of seconds or minutes.
Manusia itu memang harus berambisi untuk mendapatakan
sesuatu yang lebih baik, dan lebih banyak. Tetapi ambisi seseorang terkadang
bisa membuatnya berbuat melenceng dari rel kebenaran. Apapaun cara akan
dilakukan..
Humans do have to be ambitious to get something better,
and more. But someone's ambitions sometimes can make him stray from the truth
rails. Whatever will be done.
Pusaka adalah senjata, akan tetapi ambisi seseorang,
terlebih jiwa-jiwa pengecut yang tidak pernah menerima kekalahan dan haus akan
sesuatu, lebih menakutkan dari sebuah senjata.
Heirloom is a weapon, but one's ambition, especially
cowardly souls who never accept defeat and thirst for something, more
frightening than a weapon.
Novel ini berkisah tentang semua itu, diramu sedemikian
rupa. Semoga ada sisi positif yang bisa diambil oleh pembaca.
This novel tells about all that, mixed in such a way.
Hopefully there is a positive side that can be taken by the reader.
Selamat membaca. (Happy reading).
1. Sobari
Dukuh Sepuh, 1 September 2017. Malam
terasa sepi. Udara dingin menelusup pori-pori dinding dari anyaman bambu. Wangi
dari bunga kopi yang sedang mekar menguar memenuhi udara. Di luar bulan sedang
bulat penuh. Tidak ada yang istimewa kecuali malam ini malam wingit, malam
Jumat kliwon. Semua orang sudah menutup pintu semenjak maghrib. Tidak ada yag
terdengar selain bunyi serangga malam yang bersahutan.
Dukuh Sepuh, September 1st, 2017. The night was quiet.
Cold air traces the pore walls of woven bamboo. The fragrance of the blooming
blossom coffee filled the air. At the outside the moon was full round. Nothing
special except tonight a sacred night, Friday kliwon night. Everyone has closed
the door since maghrib. Nothing was heard except for the sound of the night
insects
Kopi yang diletakkan di atas meja
tempat lelaki berusia sekitar empat puluh tahun itu duduk di sampingnya sudah
dingin. Masih tersisa tiga per empat gelas lagi. Kopi hitam tanpa teman. Tangan
lelaki itu mengambil helaian kertas rokok dari plastik cokelat yang ujung
atasnya tadi dilipat, di luarnya tampak merek tembakau iris yang dicetak warna
keperakan, kemudian dia menjumput irisan tembakau yang dirajang halus. Irisan
tembakau berwarna cokelat tua dengan wangi yang membuat lelaki itu menarik napas
menikmai aromanya itu, diletakkan di kertas rokok, sedikit diratakan dengan
telunjuknya dari ujung satu yang lebih sedikit di banding ujung yang satunya.
The coffee placed on the table where the forty-year-old
man sat beside it was cold. There are three or four more left. Black coffee
without friends. The man's hand picked up a piece of brown plastic paper that
had been folded over the top, a silver-tobacco-slice brand appearing outside,
and then he grabbed a finely chopped tobacco slice. Sliced brown tobacco with
a fragrant scent that made the man breathe in his aroma, placed on cigarette
paper, slightly flattened with his forefinger from one end of the less than the
other.
Diambilnya sedikit klembak,
kayu untuk penyedap yang lunak,
dengan pisau lipat kecil,. Kemudian diambilnya kemenyan, dia mengerik
dengan pemes, pisau kecil tipis lipat tadi tipis-tipis, ditaburkannya semua itu
merata. Sisa bunga cengkih yang tertinggal di plastik kecil coba ditaburkan di
atasnya. Plastik kecil itu sekarang benar-benar bersih. Kertas rokok, orang di
sini menyebutnya papir, mungkin dari kata paper dalam bahasa Inggris yang
berarti kertas, digulungnya sehingga menjadi sebatang rokok dengan ujung yang
meruncing untuk disesap, dan ujung yang lebih besar sebagai kepalanya yang akan
disulut api.
He picked up a few klembak, a soft wood for flavor, with
a small folding knife. Then he picked up the incense, he chirped it with a
scrapper, the thin little folding knife was thin, sowing it all evenly. The
rest of the clover flower left in the little plastic try sprinkled on it. The
little plastic is now completely clean. The cigarette paper, the people here
call it papir, perhaps from word: paper in English meaning paper, rolled it
into a cigarette with a pointed tip for a sip, and a larger tip as its head
will be ignited.
Komentar
Posting Komentar