1. Mari Kita Ngopi Pagi dengan Bahagia
Tentang pagi yang baru saja turun bersama embun,
Sebaiknya kita mulai saja upacara minum kopi.
Tenang, sudah kutambahi dua butir gula kotak dari senyumku.
Kurasa itu cukup pas sesuai seleramu.
Apakah kau mimpi indah semalam,
Sepertinya kantuk dan lelahmu terpuaskan,
Sampai moodmu yang buruk terpuasakan,
Sepagi ini di depan meja berhias tiga cangkir kopi kau tersenyum begitu lebar.
Ini hari yang baik, semoga selalu begitu.
Setidaknya lelahmu beristirahat di hati Minggu.
Dan, kita bersiap menanam sedikit benih kedekatan.
Setelah bijinya kita semai selama enam hari ke belakang.
Dalam hidup ini kita adalah teman seperjalanan.
Adaku dan adamu adalah sepasang yang tak terpisahkan.
Karena kita memang tersurat ditakdir sebagai sepasang kaki.
Entah itu oleh terik, atau gelap, oleh rasa pahit kopi atau manis gula kotak.
2. Tentang Makan Siang di Sela Berita Duka
Orang-orang bicara dalam televisi, dan media elektronik lain tentang duka.
Dan, kau menunda makan siangmu karenanya.
Itu alasan terlalu mengada-ada bagiku.
Setelah tanganku menuai tanda dicium panas wajan.
Rasanya sakit mungkin akan reda,
meski kelak bekasnya tetap akan ada.
Jangan kau lipat tiga mukamu saat menghadapi meja makan.
Katakan aku tak berkemanusiaan, seperti itu.
Caci aku dengan kalimat tersopanmu kalau bisa.
Tapi, tetap saja pedulimu tidak mengubah apa-apa.
Mereka tetap luka dan kau di sini bisa sakit karena menunda.
Nikmati makanmu dengan baik-baik saja.
Tentang luka-luka yang kau lihat itulah dunia.
Kau bisa melakukan apa pun setelah makan siang.
Karena untuk peduli kau perlu kepala.
Dan kepalamu ada ketika perutmu terisi dengan cukup.
Agar kau bisa jernih melihat beda bahwa peduli itu beda dengan pura-pura.
3. Hati Jangan Pernah Pergi Apalagi Mati
Pohon kecil di halaman depan yang tumbuh dekat pagar.
Tunas mungilnya berlari mengejar matahari dari awal pagi
Sampai nanti, sampai sore dan hari berganti.
Sampai besok, lusa, hingga beberapa detik sebelum mati.
Mengerti atau bahkan tidak diakui.
Anak-anak kita setelah besar menjadi duplikat.
Hasil dari jerih payah dan keringat.
Yang diperas dari tubuh-tubuh kita orang tuanya.
Dan diperam bersama doa-doa andai ingat.
Tunas-tunas dan anak-anak tumbuh berlari.
Mengikuti laju detik yang tak bisa berhenti.
Menjadi besar dan begitu pintar.
Semoga mereka tidak lupa dari mana dia pernah belajar.
Semua yang tumbuh menuju matahari
Tapi ujung daun tak pernah mencium akar.
Dia terus meninggi meninju langit.
Tapi, tak boleh lupa di mana dia berdiri dan berakar.
4. Ternyata Hidup Sesibuk Itu
Kau bilang hidup itu bergerak.
Entah ke kanan, ke kiri, ke atas, atau jatuh ke bawah.
Apa saja asal jangan diam saja.
Sekarang tidak nanti-nanti, apalagi besok saja.
Sebab terlalu banyak bicara hanya menghabiskan energi.
Sebab kalau semua bicara bising adanya.
Kau bilang orang mempunyai tugas masing-masing,
Beberapa menit setelah kau menelan makan siangmu.
Ada yang harus berpikir, ada yang harus bekerja.
Ada yang harus bicara, ada yang harus mendengarnya.
Ada yang membikin, ada pula yang harus merusaknya
Kau juga mengatakan ada juga yang tak harus bekerja.
Ada yang harus tak berguna, dan ada yang harus menjadi sia-sia.
5. Pulang ke Rumah Setelah Pergi Seharian
Ayo, pulang!
Letakkan di meja semua yang ada di tangan.
Kita bergegas keluar dan turun ke jalan.
Matahari sudah mengecat langit warna lembayung.
Kita tak bisa menimatinya dengan santai-santai saja.
Sebab sebentar lagi kemacetan akan tercipta.
Dari orang -orang yang menuju rumah, pulang, seperti kita.
Aku tahu, kita begitu menginginkan sore cepat datang.
Kalau bisa, bahkan kita ingin dia menyalip siang.
Padahal kita tadi pagi baru duduk menghadapi pekerjaan.
Tapi, kadang sore menjadi begitu dibenci,
Setelah kita menunggu seharian.
Lelah terasa di sekujur badan tanpa menyisakan ruang
Karena esok hari harus dimulai lagi setelah kita pulang
Ayo, kita pulang.
Sebab, kita adalah orang rumahan.
Yang akan pergi meninggalkan rumah seharian.
Lalu, pulang untuk menunggu saatnya pergi dan pulang berulang.
6. Malam Selamat Malam
Aku mengucapkan selamat malam kepadamu malam.
Malam yang datang setelah matahari pulang.
Saat ini aku dan kamu sedang berada di meja makan.
Bersiap mengadakan upacara mengahbiskan sebelum kita tidur atau malah begadang.
Sambil kita menunggu makanan disiapkan.
Sebaiknya kau mulai bercerita tentang apa yang kau alami seharian.
Tentang orang-orang yang sibuk mengganggu pikiran.
Atau sekadang memancing sedikit emosi dan mengulur kesabaran.
Aku tidak akan membagi hariku kepadamu.
Karena banyak hal akan membuatmu diburu cemburu.
Kamu saja yang bercerita banyak.
Agar aku bisa memiliki hidupmu dengan menyimak.
Kita adalah sepasang dari semua orang yang diciptakan berpasangan.
Berpasangan dengan manusia, nasib, keberuntungan, juga kemalangan.
Ayo, segera kita mulai menyantap hidangan yang sudah datang.
Agar lebih cepat kita mengucapkan selamat malam kepada malam dan selamat datang pada
semua hal yang mengulang dan menjemukan.
Komentar
Posting Komentar