MISTERI KANTUNG MACAN (4)

 

A novel by Nurlaeli Umar

Publisher; AE Publishing (ISBN 978-602-5468-81-0)

BLOG NURLAELI UMAR- Dinyalakannya korek gas berwarna merah yang juga diambilnya dari dalam plastik yang sama, disulutnya rokok hasil lintingannya itu. Api itu ditiupnya mati, menyisakan bara yang hidup jika ujung batang yang lain disesap sedikit panjang. Batangan  lintingan itu disesapnya dengan khidmat, kemudian dihembuskannya asap dari mulutnya perlahan. Baru tiga sesapan dia terbatuk-batuk.

He turned on a red gas lighter that he also picked up from the same plastic, turn on  cigarette folding. The fire was blown off, leaving a live coals if the other end of the rod was sucked a little long. The bars of the lintels were absorbed solemnly, then he released the smoke from his mouth slowly. Just three sips he coughed.

Diambilnya piring kecil dari bawah gelas kopi, kemudian ditekannya ujung berapi. Rokok itu mati. Tidak ada yang dilakukannya lagi. Dia tahu benar jika dia berusaha menikmati rokok itu istrinya pasti akan terbangun dan mengatakan untuk berhenti merokok. Dia tidak melakukannya karena tidak ingin mengganggu istrinya yang tidur pulas di kamar.

He picked up a small plate from under the coffee cup, then pressed the flaming tip. The cigarette stubed. Nothing he does anymore. He knew perfectly well if he tried to enjoy the cigarette his wife would wake up and say to quit smoking. He did not do it because he did not want to disturb his wife who slept soundly in the bed room.

“Belum tidur juga, Kang?” tanya istrinya mengagetkan. Dalam gelap perempuan itu muncul dengan mata mengerjap, mencoba mengusir kantung yang berat menggantung di matanya. Mukanya layu, rambutnya terihat kusut dan dicoba digelungkan. Dia menguap, tangan kirinya mencoba menutupi gerakan mulutnya yang menganga, terdengan bunyi hoam yang setengah ditahan.

"Have not slept too, Kang?" Asked his wife startled. In the dark the woman appeared with blinking eyes, trying to shake off a heavy bag hanging from her eyes. Her face wilted, her hair looked tangled and tried to be embroidered. She yawned, her left hand trying to cover her gaping mouth with a half-hoam sound.

“Kau terbangun karenaku?”

"You woke up because of me?"

“Tidak, hanya saja kerongkonganku terasa kering.”

"No, it's just that my throat feels dry." (page 4)

Komentar