A novel by Nurlaeli Umar
Publisher; AE Publishing (ISBN 978-602-5468-81-0)
BLOG NURLAELI UMAR-
Dengan kaus yang melekat dan sarung yang diraih dari
gantungan paku pengganti celana
pangsi hitam yang tadi dikenakannya, dia masuk ke kamar
berbaring di samping istrinya yang
tidak menyadari kehadirannya sampai pagi menjelang.
Wearing a clinging
T-shirt and a sarong taken from a nail hook to replace the black pangsi
trousers he had been wearing earlier, he went into the room and lay down beside
his wife, who did not realize his presence until morning came.
NING
Dukuh Sepuh, sebelah barat, Oktober 2017
Nasi di rantang mainan yang sudah dibubuhi gula tidak
menarik lagi sepertinya, karena anak
itu menggelengkan kepala dengan lesu. Dia bangun dari
duduknya di tepi ranjang kayu,
berjalan mendekati deretan kaca dan mencoba melihat ke luar.
Rasa nasi itu di lidah
berbeda dengan tapai ketan berbungkus daun jambu air yang
kemarin dicicipinya. Padahal
dia tahu betul, mamaknya membubuhkan gula pada nasi, sama
seperti yang baru saja dia
lakukan.
The rice in the toy
rantang (tiered lunch box) that had already been sprinkled with sugar no longer
seemed appealing, for the child shook his head weakly. He rose from where he
had been sitting on the edge of the wooden bed, walked toward the row of glass
panes, and tried to look outside. The taste of the rice on his tongue was
different from that of the fermented sticky rice wrapped in rose-apple leaves
he had sampled yesterday. And yet he knew very well that his mother had added
sugar to the rice, just as he himself had just done.
Malam gelap, hujan deras turun seperti air ditumpahkann dari
langit. Terdengar nyaring
jatuhnya di kucuran dari atap seng. Dari kaca, garis-garis
hujan terlihat indah terkena pendar
pancaran sinar lampu dari dalam rumah. Sepi terasa sekali.
Kemana semua orang? Mungkin
mereka sudah tidur. Tidak ada satu pun yang melintas.
The night was dark,
and heavy rain fell as if water were being poured from the sky. Its loud
splashing could be heard as it streamed off the corrugated metal roof. Seen
through the glass, the streaks of rain looked beautiful, catching the glow of
the lamplight from inside the house. The silence felt overwhelming. Where had
everyone gone? Perhaps they were already asleep. Not a single soul passed by.
Suasana berbeda sekali dengan siang hari di mana orang-orang
berlalu-lalang, bahkan di hari
pasaran semua tampak seperti pesta. Ada mobil, ada delman,
lalu orang-orang dengan baju
berwarna-warni, berdandan rapi, dan jinjingan tas penuh
belanjaan melintas di jalan yang
sama.
The atmosphere was
completely different from the daytime, when people came and went, and on market
days everything even looked like a festival. There were cars, there were
horse-drawn carriages, and then people in colorful clothes, neatly dressed,
carrying bags full of shopping, passing along the same road.
Dari jendela yang mengembun tidak ada satu pun yang terlihat
kecuali air yang berlomba
turun membentuk jarum-jarum saling berebut jatuh. Lalu pohon
pisang yang daunnya
menghitam dan terlihat kuyup. Pohon jambu biji mengigil
kedinginan, bersama sedikit
rumput hias yang terendam. Serimbun perdu teh-tehan yang
dibentuk bulat tampak seperti
seseorang gemuk pendek hitam yang sedang memeluk lutut.
Through the fogged
window, nothing could be seen except water racing downward, forming needle-like
streaks competing to fall. Then there was the banana tree, its leaves darkened
and looking thoroughly drenched. The guava tree shivered in the cold, along
with a few ornamental grasses submerged in water. A dense clump of neatly
rounded teh-tehan shrubs looked like a short, fat black figure hugging its
knees.
Diam-diam tubuh kecil itu berharap dengan sangat, seseorang
melintas di jalan yang
memanjang di depan rumah. Mengharapkan mobil atau sepeda
tidak mungkin, tidak pernah
ada yang melintas dengan kendaraan seperti itu di hari
gelap. Mungkin sorotan kecil dari
senter cukup menghiburnya. Tetap tidak ada, bahkan sampai
hujan sedikit reda.
Quietly, the small
body hoped with all its heart that someone would pass along the road stretching
out in front of the house. Hoping for a car or a bicycle was impossible—no one
ever passed by in such vehicles on dark nights. Perhaps even a faint beam from
a flashlight would be enough to comfort him. Still, there was nothing, even
when the rain began to ease a little.
“Tidur, Nak. Kamu sedang apa di depan kaca?”
“Aku melihat hujan, Mak.”
“Tidurlah! Hujan masih lama reda, yang terlihat di luar
hanya gelap.”
“Tapi, aku kan belum sekolah. Jadi tidak mengapa aku bangun
siang.”
“Tapi, Mamak, dan Bapak harus ke pasar besok, nanti kamu
bangun tidak ada orang dan
tidak ada yang memandikan. Dan kamu nanti menangis ketakutan
di rumah sendiri.”
“Aku bisa mandi sendiri. Aku gak akan nangis.”
“Sudah, jangan membantah. Tidurlah!”
“Sebentar lagi, sebentar lagi aku tidur,” dia menawar.
“Go to sleep, dear.
What are you doing by the window?”
“I’m watching the
rain, Mom.”
“Go to sleep! The rain
won’t stop anytime soon, and all you’ll see outside is darkness.”
“But I’m not in school
yet, so it’s okay if I wake up late.”
“But tomorrow your mom
and dad have to go to the market. If you wake up and there’s no one at home, no
one will bathe you. Then you’ll cry in fear, all alone in the house.”
“I can bathe myself. I
won’t cry.”
“That’s enough, don’t
argue. Go to sleep!”
“Just a little longer,
just a little longer before I sleep,” he bargained.
Perempuan muda itu sepertinya tidak merasa keberatan, dia
kemudian masuk ke dalam
kamar, sebentar kemudian keluar lagi, dan masuk ke ruang
tengah. Dia meluluskan
permintaan anaknya, membiarkannya tetap berdiri di depan
kaca depan dan menikmati hujan
yang kembali datang. Dia akan kembali sibuk dengan kue-kue
dan bahan jualan besok di
pasar.
The young woman did
not seem to mind. She went into the bedroom, then a moment later came back out
and entered the living room. She granted her child’s request, letting him
remain standing by the front window, enjoying the rain as it returned. She
would soon be busy again with cakes and goods to sell at the market the next
day.
Tidak ada yang melintas, atau belum? Mata gadis kecil itu
terus bergerak melihat ke arah
kanan dan kiri. Benar, mungkin dia memang harus tidur.
Sebenarnya dia akan beranjak dari
tempatnya berdiri, tetapi ada sesuatu yang menahannya. Dia
kembali melihat ke arah jalan
besar di depan rumah itu. Tunggu! Ada sebuah sinar kecil
yang jatuh menyoroti jalan dari
sebuah lampu senter. Dia memerhatikan orang itu. Orang itu
melintas begitu saja, dia
sepertinya seorang lelaki, tangan kirinyanya memegang batang
payung yang melindunginya.
Anak kecil itu merasa lega. Berarti tidurnya harus ditunda.
Siapa tahu nanti ada yang melintas
lagi.
“Ning, tidur! Sudah malam.”
Anak perempuan kecil itu tidak menyahuti perintah dari ruang
belakang. Itu suara lelaki,
suara ayahnya. Hanya satu kali, dan anak kecil itu masih
tetap berada di depan kaca
memerhatikan jalan.
No one passed by—or
not yet? The little girl’s eyes kept moving, looking to the right and to the
left. Yes, perhaps she really should go to sleep. In fact, she was about to
step away from where she stood, but something held her back. She looked again
toward the main road in front of the house. Wait! A small beam of light fell
across the road from a flashlight. She watched the person pass by. He seemed to
be a man, his left hand holding the shaft of an umbrella to shield himself. The
child felt relieved. That meant her sleep had to be postponed. Who knew—someone
else might pass by again.
“Ning, go to sleep! It’s already late.”
The little girl did not respond to the command from the back room. It was a man’s voice—her father’s. Only once, and the little girl remained standing in front of the window, watching the road.
Sepuluh menit berlalu, matanya mulai mengantuk, tetapi dia
merasa yakin akan ada lagi yang
berjalan melintas, meski samar terlihat dia merasa yakin itu
seseorang. Sekarang hujan benar-
benar reda, menyisakan tetesan dari atap yang jatuh malas
satu-satu. Ditempelkan wajahnya
ke kaca, kulit mukanya merasakan sisa dingin hujan, hangat
napasnya terasa di hidung dan
pipi, meninggalkan jejak di kaca. Kantuknya menghilang
seketika, dia memerhatikan
dengan sangat, ada yang berbeda, dia yakin sekali, tapi itu
entah apa. (p14)
Ten minutes passed.
Her eyes began to grow heavy, yet she felt certain that someone else would walk
by again; even if only faintly visible, she was sure it would be a person. Now
the rain had truly stopped, leaving only drops from the roof falling lazily, one
by one. She pressed her face against the glass; the skin of her face felt the
lingering chill of the rain, while the warmth of her breath touched her nose
and cheeks, leaving traces on the window. Her drowsiness vanished instantly.
She watched intently—something was different. She was absolutely certain of it,
though she did not know what it was.
Komentar
Posting Komentar