A novel by Nurlaeli Umar
Publisher; AE Publishing (ISBN 978-602-5468-81-0)
BLOG NURLAELI UMAR- “Minumlah, lalu tidur lagi! Besok hari yang melelahkan, kau
harus ke pasar selepas subuh!”
“Sip it slowly, then go back to sleep! Tomorrow's a tiring day,
you have to go to the market after subuh!"
“Besok aku libur saja, dagangan biar
Ratna yang bawa. Kepalaku sedikit berat dan badanku capek sekali.”
"Tomorrow I take it off, the goods let carry
with Ratna. My head is a bit heavy and I'm too tired."
“Tapi tetap saja kau harus tidur,
tidak usah menemaniku!”
"But you still have to sleep, do not stay with
me!"
“Apa perlu kugorengkan pisang?”
"Do I need to fried bananas to you?"
“Tidak usah, aku tidak lapar. Masih kenyang karena makan
nasi tadi.”
"No, I'm not hungry. Still full of rice. "
“Bagaimana mungkin tidak lapar? Kau makan menjelang sore,
dan ini sudah malam. Jam berapa ini?”
"How could it not be hungry? You ate late afternoon,
and it's too night. What time is it?"
Dalam gelap lelaki tua itu mengambil jam tangan yang selalu
ditaruh di kantung bajunya. Entah mengapa dia lebih nyaman melakukan itu
kecuali jika keluar rumah jam tangan itu dipakai di pergelangan tangannya.
In the dark the old man picked up a wristwatch that always put
in his pocket. For some reason he was more comfortable doing that unless he
came out of the house the watch was worn on his wrist.
“Hampir jam sebelas malam. Tidur saja! Pisang bisa untuk
sarapan besok pagi. Katanya kau haus, sana ambil minum! Aku nanti menyusul
kalau kantukku sudah datang.”
"Almost eleven o'clock. Just sleepm please! Bananas can be
for breakfast tomorrow morning. You said were thirsty, there grab a drink! I'll
catch up when my sleep is here.
Lampu sepuluh watt itu dinyalakan istrinya, dia sekarang
duduk berseberangan. Tidak berapa lama perempuan itu bangun sambil
menggelungkan rambutnya dan berjalan ke dapur. Beberapa lama setelah itu dia
kembali untuk mematikan lampu dan kembali ke kamar.
The ten-watt lamp was lit by his wife, she was now
sitting opposite. Not long the woman woke up with her hair embroidered and walk to the kitchen.
After a while she came back to turn the lights off and went back to the room.
“Kang, jangan lupa tidur!”
"Kang, do not forget to sleep!"
“Iya.” (p6)
"OK."
Komentar
Posting Komentar