A novel by Nurlaeli Umar
Publisher; AE Publishing (ISBN 978-602-5468-81-0)
BLOG NURLAELI UMAR-“Apa
Pakde bertemu seseorang?”
“Siapa?”
“Yang
barusan lewat. Sebelum Pakde kemari, dia berjalan ke arah Pakde.”
“Tidak
ada orang yang kutemui, semua orang sepertinya sudah tidur, kecuali kamu. Apa
dia melakukan sesuatu kepadamu?”
“Tidak,
Pakde, aku hanya bertanya saja.”
“Ya
sudah, makanya tidur, mungkin kamu sudah mengantuk, jadi mimpi sambil berdiri,”
gurau Kang Jamal.
“Ya
sudah, tutup dan kunci pintunya lagi, aku mau ke warung! Yo, suruh anakmu
tidur!”
“Ya,
Kang.”
“Did you meet someone, Uncle?”
“Who?”
“The one who just passed by. Before
you came here, he was walking to you..”
“I didn’t meet anyone. It seems
everyone is already asleep—except you. Did he do anything to you?”
“No, Uncle, I was just asking.”
“Well then, go to sleep. Maybe
you’re already sleepy, so you’re dreaming while standing,” Kang Jamal joked.
“Alright, close and lock the door
again. I’m going to the shop! Hey, Yo, , tell your child to go to sleep!”
“Yes, Kang.”
Pintu
dikunci bahkan sebelum Kang Jamal beranjak. Dia menganggukkan kepala dan kemudian
pergi ke arah jalan besar. Sebelumnya dia mengarahkan senternya ke sekitar rumah.
Mungkin karena dirasa tidak ada sesuatu yang mencurigakan, dia kembali meneruskan
langkahnya.
The door was locked even before
Kang Jamal moved away. He nodded his head and then headed toward the main road.
Before leaving, he swept his flashlight around the house. Perhaps because he
sensed nothing suspicious, he continued on his way.
Lelaki
yang dipanggil bapak itu melirik ke arah Ning. “Kamu belum mengantuk? Kalau mau
tidur, tidur saja, jangan lupa pakai selimut.”
“Nggeh,
Pak.”
Ning
membiarkan bapaknya kembali menyelesaikan pekerjaannya. Dia tidak ingin mengganggunya.
Dia ingin melihat ke arah luar lagi, ada sekelebat rasa penasaran yang belum
dituntaskan. Kalau Pakde Jamal tidak bertemu, lalu ke mana orang itu?
The man called Bapak glanced at
Ning. “Aren’t you sleepy yet? If you want to sleep, just go to bed. Don’t
forget to use a blanket.”
“Yes, Pak.”
Ning let her father return to
finishing his work. She didn’t want to disturb him. She wanted to look outside
again—there was a flicker of curiosity that had not yet been satisfied. If
Pakde Jamal hadn’t met him, then where had that person gone?
Ning
kembali berdiri memerhatikan jalan, tidak ada sosok tadi. Mungkin orang itu
sudah menemukan yang dicarinya dan kembali meneruskan langkah saat Pakde Jamal
berbicara dengan bapaknya tadi.
Ning stood again, watching the
road; the figure from earlier was gone. Perhaps the person had already found
what they were looking for and continued on their way when Pakde Jamal was
talking to her father earlier.
Baru
sekejap isi kepalanya berkata seperti itu, sosok yang tadi muncul lagi. Kali
ini dia berjalan lambat, Ning bisa menangkap samar sosok itu. Tidak terlalu
tinggi, sendiri sama seperti tadi. Dia memakai baju panjang, mungkin jas hujan.
Diikuti langkah sosok itu dengan matanya tanpa berkedip. Sampai di tempat yang
tidak terjangkau sinar, sosok itu kembali melintas ke arah dia datang, berjalan
dan sampai di sisi gelap, mata Ning tidak melihat apa-apa. Sekejap kemudian
sosok itu kembali melintas. Aneh! Tidak berapa lama sosok itu kembali ke arah
semula, melintas lagi, begitu dan begitu sampai beberapa kali.
No sooner had that thought crossed
her mind than the figure appeared again. This time it walked slowly, and Ning
could faintly make it out. Not very tall, alone just like before. It was
wearing long clothing, perhaps a raincoat. She followed the figure with her
eyes without blinking. When it reached a place beyond the reach of the light,
the figure crossed back in the direction it had come from, walking into the
dark side until Ning’s eyes could see nothing. A moment later, the figure
crossed again. Strange! Not long after, the figure returned in the opposite
direction, crossing again—over and over, several times.
Rasa
penasaran itu sekarang menjadi rasa takut. Dia berteriak sambil tetap menatap
ke arah sosok itu. “Pak, ada orang di depan rumah! Cepat kemari!”
Lelaki
yang dipanggil bapak itu setengah berlari mendekati anaknya.”Ada apa? Mana
orang itu? Siapa?” tanyanya sambil matanya ikut meneliti keadaan di luar. Dia
berusaha menjangkau sejauh mungkin, melihat kemungkinan yang dilihat anaknya.
“Tidak
ada siapa-siapa. Makanya tidur, sudah malam. Jangan ganggu Bapak! Sebentar lagi
selesai, nanti Bapak sama Mamak menyusul.”
Her curiosity had now turned into
fear. She screamed while still staring in the direction of the figure. “Dad,
there’s someone in front of the house! Come here quickly!”
The man she called father half-ran
toward his child. “What is it? Where is that person? Who?” he asked, his eyes
scanning the outside as well. He strained to see as far as possible, trying to
find what his child might have seen.
“There’s no one there. That’s why
you should go to sleep—it’s already late. Don’t bother me! We’ll be done
soon; your mom and I will come along shortly.”
Sepeninggal
bapaknya, Ning kecil tidak masuk ke kamarnya. Dia tetap berada di depan kaca, dia
tidak ingin disebut berbohong, meski bapaknya tidak mengatakan itu. Dia ingin
sosok yang dilihatnya benar-benar bisa dilihat bapaknya. Dia berharap bisa
melihatnya dan saat itu bapaknya akan percaya.
After her father left, little Ning
did not go into her room. She stayed in front of the window; she did not want
to be called a liar, even though her father had not said that. She wanted the
figure she had seen to truly be seen by her father. She hoped it would appear
again, so that her father would believe her.
Diperhatikannya
lagi jalanan yang berjarak lima belas meter dan posisinya sama tinggi dengan
lantai rumahnya dibanding halaman tanah dari pintu rumahnya. Tidak ada pagar
apa pun di sekeliling rumahnya, hanya pohon pisang yang ditanam di pinggir
selokan selebar dua meter dengan air bening yang di atasnya dipasang powotan,
sebuah jembatan anyam dari bambu. Jembatan kecil yang langsung berhubungan
dengan halaman rumahnya.
She looked again at the road, about
fifteen meters away and level with the floor of her house, unlike the earthen
yard in front of the door. There was no fence around the house, only banana
trees planted along the edge of a two-meter-wide drainage ditch with clear
water, over which a powotan—a small bridge woven from bamboo—had been placed.
It was a small bridge that connected directly to the yard of her house.
Sosok itu menghilang begitu tadi dia berteriak. Ditunggunya beberapa saat, tidak juga muncul. Bapaknya beberapa kali terlihat berjalan dari pintu ruang tengah ke pintu kamarnya. Dia membiarkan Ning masih berdiam di dekat kaca depan.
The figure vanished the moment she screamed. She waited for a while, but it did not appear again. Several times she saw her father walking from the door of the living room to the door of her bedroom.
He let Ning remain standing by the front window.
Bagian
depan rumah hanya ada ruang tamu dan satu kamar, bagian tengah ada ruang antara
dua kamar di kanan-kiri yang berisi satu meja ukuran besar biasanya
dipergunakan untuk membuat kue, sedang bagian paling belakang dapur dan sedikit
tempat untuk menyimpan padi, beras, atau peralatan lainnya seperti cangkul,
sepeda, meja makan kecil, dan dua bangku untuk makan yang bersebelahan dengqan
dapur. Saat bapaknya berdiam lama di ruang tengah
The front part of the house
consisted only of a living room and one bedroom. In the middle there was a
space between two bedrooms on the right and left, containing a large table
usually used for making cakes. The very back of the house was the kitchen and a
small area for storing paddy, rice, or other tools such as a hoe, a bicycle, a
small dining table, and two benches for eating that stood next to the kitchen.
While her father remained for a long time in the middle room…
Ning
melihat sekilas sosok itu muncul lagi. Kali ini dia membatin marah, ingin
memastikan siapa sosok itu yang sebenarnya. Dia terus memerhatikan sosok yang
akhirnya punya keberanian menjejakan kaki ke atas powotan. Hanya satu langkah,
kemudian berbalik dan berjalan melintas dan pulang ke arah datangnya
berkali-kali seperti sebelumnya. (19)
Ning caught a brief glimpse of the
figure appearing again. This time she felt angry inside, wanting to be sure who
that figure really was. She kept watching as the figure finally gathered the
courage to step onto the powotan. Just one step—then it turned around and
walked across and back in the direction it had come from, over and over again,
just like before. (19)
Komentar
Posting Komentar