Puisi 75. Pagi dan Tentang Perasaanku

 


Pagi dan Tentang Perasaanku

BLOG NURLAELI UMAR-

Jakarta pagi ini, semua terasa istimewa, terutama di bagian aku masih bisa bernapas, bangun, dan masih punya waktu luang untuk melamun.

Yang terhebat dari semuanya adalah kamu, 

 lelaki berambut sebahu yang dengan mudahnya mengatakan ingin selalu bertemu denganku, apakah kau tahu bagaimana aku selama ini menyusun batu-batu agar aku tak pernah rindu?

Betapa aku merasa kita sepemahaman tentang banyak hal, dan sekaligus tak bersepemahaman untuk beberapa hal kecil.

Perdebatan yang panjang dan seolah sengaja diurai adalah pertemuan yang seiring waktu mengikatku agar kau dan aku lagi, dan lagi bertemu.

Kita bukan dua orang dalam ritual, kita hanya berselisih jalan. Pertemuan sementara yang kelak akan saling meninggalkan.

 


Pagi ini, aku sedang dikurung segunung rindu, derap di dadaku adalah kuda perang dalam amuk yang panjang.

Kucoba alihkan dengan buku-buku yang menumpuk, drama China di reel Fesbuk, aku malah semakin merasa dikutuk.

Bisakah kau menjadi jauh, menjauh dalam dekat yang kelak mengerat bersama pertemuan-pertemuan yang mungkin semakin ketat?

Ini masalah hati, tak mudah untuk dikebiri, meski kadang aku mengatakan aku baik-baik saja, tapi aku tak punya kendali.

Mungkin sebaiknya aku membikin puisi, atau malah menangisi semua ini. Mungkin aku perlu minum secangkir kopi, atau meyakinkan hatiku untuk mati. Mungkin.

 


 Pic; https://id.pinterest.com/pin/23362491813967629/

Komentar