Pagi dan Tentang Perasaanku
BLOG NURLAELI UMAR-
Jakarta pagi ini, semua terasa istimewa,
terutama di bagian aku masih bisa bernapas, bangun, dan masih punya waktu luang
untuk melamun.
Yang terhebat dari semuanya adalah kamu,
lelaki berambut sebahu yang dengan
mudahnya mengatakan ingin selalu bertemu denganku, apakah kau tahu bagaimana aku
selama ini menyusun batu-batu agar aku tak pernah rindu?
Betapa aku merasa kita sepemahaman tentang
banyak hal, dan sekaligus tak bersepemahaman untuk beberapa hal kecil.
Perdebatan yang panjang dan seolah sengaja
diurai adalah pertemuan yang seiring waktu mengikatku agar kau dan aku lagi,
dan lagi bertemu.
Kita bukan dua orang dalam ritual, kita
hanya berselisih jalan. Pertemuan sementara yang kelak akan saling
meninggalkan.
Pagi ini, aku sedang dikurung segunung
rindu, derap di dadaku adalah kuda perang dalam amuk yang panjang.
Kucoba alihkan dengan buku-buku yang
menumpuk, drama China di reel Fesbuk, aku malah semakin merasa dikutuk.
Bisakah kau menjadi jauh, menjauh dalam
dekat yang kelak mengerat bersama pertemuan-pertemuan yang mungkin semakin
ketat?
Ini masalah hati, tak mudah untuk
dikebiri, meski kadang aku mengatakan aku baik-baik saja, tapi aku tak punya
kendali.
Mungkin sebaiknya aku membikin puisi, atau
malah menangisi semua ini. Mungkin aku perlu minum secangkir kopi, atau
meyakinkan hatiku untuk mati. Mungkin.
Komentar
Posting Komentar