Bab 1 Aku Suka Adiknya Mengapa Kakaknya yang Harus Mencintaiku

 1.

Anak Kelas Sebelah







Aku hanya mendapat nilai delapan puluh untuk matematika hari ini. Aku biasa saja. Meski senyatanya nilai delapan puluh itu tabu buatku. Aku terbiasa mendapat nilai seratus. Tiba-tiba terdengar teriakan begtu keras ketika anak yang duduk di pojok dipanggil dan ternyata mendapat nilai delapan puluh lima. 

''Ya, Tuhan terima kasih banyak!''

 Sontak satu kelas menoleh ke arah sumber suara yang cukup mengangetkan itu. Dia mendapat nilai di atasku, dia mendapat delapan puluh lima. Aku biasa saja, aku sebenarnya sedang menikmati bagaimana aku bisa mendapat nilai delapan puluh. Itu juga sebuah surprise buatku. Aku tidak terlalu memperhatikan ada yang mendapat nilai lebih tingggi dariku. 

Bukankah itu wajar saja, anak sekolah sepertiku dan sepertinya mendapat nilai bagus? Aku benar-benar sedang menikmati kejutan yang sedang kudapat.  Aku tidak merasa tersaingi. Aku terlalu mencintai matematika. Aku sedang merasakan begini rasanya dapat nilai bukan seratus.

 Aku hanya tertawa-tawa, melihat dia berjingkrak-jingkrak dan mendapat ucapan selamat dari teman-teman yang duduk di sekeliling mejanya. Ketika dia menoleh ke arahku, aku mengacungkan jempolku. Dia tampak senang.

 ''Kok, kamu kalah dari dia, biasanya kamu seratus, kenapa sekarang dia mendapat nilai lebih tinggi dari mu. Kamu kan paling pinter di kelas!'' Teman sebangkuku memprotesku melihat aku malah memberikan jempolku kepada anak yang mendapat nilai lebih tinggi dariku, bukannya kesal.


‘’Aku biasa mendapat seratus, kali ini mendapat delapan puluh, itu juga sesuatu buatku,’’ kataku sambil tertawa.

‘’Dasar kamu aneh! Tapi, iya juga, sih, kamu juga pasti bosen dapat nilai seratus mulu, sama seperti aku yang bosen selalu dapat nilai empat puluh setiap ulangan matematika. Sayangnya, kejutanku bukan mendapat nilai seratus. Gak harus seratu sjuga, enam puluh sesekali juga itu sebuah kejutan buatku.’’

‘’Kan, aku kalau ulangan juga aku suka bagi-bagi jawaban.’’

‘’Tapi, aku malah lebih bingung kalau dikasih contekan sama kamu. Begitu lihat jawabanmu aku gak bisa nyalin,  lihat jalannya panjang aku udah pusing duluan.’’

Kami tidak bicara banyak, bel istirahat sudah dibunyikan. Ketika aku membereskan buku untuk dimasukkan ke dalam tasku, anak yang mendaoat nilai delapan puluh lima itu mendatangiku. 

‘’Kamu tahu, aku akhirnya bisa mengalakanmu. Aku berdoa semalam, aku belajar sungguh-sungguh. Aku ingin mengalahkanmu meski sekali saja. Dan, ternyata doaku terkabul. Meski tidak seratus, aku tetap mendapat nilai di atasmu. Ini pertama kalinya aku bisa mengalahkanmu.’’


Aku mengangguk. Sebenarnya aku tidak masalah dia mendapat niali lebih tinggi dariku, kedatangannya ke mejaku sedikit menggangguku. Itu udah over menurutku. Berlebihan! Tetapi, aku tidak mengontrol sikap seseorang seperti mauku. Aku akhirnya tertawa agar dia merasa puas dan pergi dari mejaku.

Oh, ternyata tidak! Dia mulai mengatakan kalau selama ini dia hanya mendapat nilai di bawah lima puluh, beberapa kali delapan puluh,tetapi tidak pernah seratus sepertiku. Aku benar-benar terganggu dengan ambisinya. Abisinya itu bukan untuk mendapat nilai bagus ternyata. 

‘’Aku merasa sebagai cowok harus bisa mengalahkanmu yang cewek. Lihat saja, di ulangan yang akan dtaang aku akan mendpaatkan seratus sepertimu! Sekarang saja aku bisa melebihimu!’’

Aku sudah selesai dengan bukuku.

 ‘’Oke, kurasa kamu harus membuktikan omonganmu tadi. Kamu harus seratus, bukan karena aku, tetapi karena kamu memang harus bisa matematika. Apalagi kamu cowok!’’ 

Aku bangun dari dudukku. Aku berjalan meninggalkan bangkuku menuju ke luar kelas.


‘’Kamu itu gak seru, kukira kamu bakalan panas dan kita berlomba dapetin nilai seratus!’’ keluahnya sambil menjajari langkahku.

‘’Kenapa harus panas?’’ tanyaku tertawa. 

‘’Yang panas selama ini kamu, bukan? Jadi, aku juga mau kamu wakilin panasku denger tantanganmu. Aku mau ke kantin dulu.’’

Dia kutinggalkan sampai di pintu kelas. Aku tidak mengajaknya ke kantin. Aku pusing mendengarnya bicara, perutku tambah merasa lapar saja.

Aku melewati kelas lain, di saat yang sama seseorang keluar setengah berlari, hampir saja dia menabrakku. Ya, Tuhan, dia anak baru? Aku merasa baru kali ini melihat dia, dan tiba-tiba aku merasa tertarik. Dia tipeku sekali.

‘’Maaf!’’ katanya sambil menghentikan langkahnya.  Dia menoleh ke arah temannya sambil emnunjuk teman-temannya, 

‘’Kalian, sih, hampir aku menabrak dia.’’

 Aku melihat ke arah teman-temannya dan mengangguk, mereka semua tersenyum dan mengatakan maaf. Aku mengangguk dan kembali meneruskan langkahku menuju kantin.


Sepanjang perjalaann menuju kantin pikiranku fokus kepada anak yang tadi hampir menabrakku. Aku tidak tahu ini jatuh cinta pada pandangan pertama atau hanya karena anku merasa penasaran dengan dugaan bahwa anak itu adalah anak pindahan dari sekolah lain, karena aku baru pertama kali melihatnya.

Aku bahkan sampai tidak duduk dan membungkus makanan yang kupesan. Anak yang hampir menabrakku benar-benar membuatku merasa berbeda. Aku kembali ke kelasku dan aku kembali melihat ke kelas di mana aku hamir tertabrak tadi. Anak itu tidak ada. 

Baru dua langkah dari pintu kelas di mana anak tadi hampir menabrakku aku melihat kalau anak yang hampir menabrakku berdiri di samping  tiang tidak jauh dari tempatku saat ini. Dia melihatku dengan tatapan tajam.

 Aku melihatnya sekilas, dai kembali bercakap-cakapa dengan teman-temannya setelah mataku dan matanya dalam sepersekian detik saling bertumbuk. Aku kembali ke kelasku masih dengan rasa penasaran sekaligus senang.


‘’Kamu ke kantin sendirian barusan? Kukira kamu ke ruang guru atau ke perpustakaan. Kalau tahu mau ke kantin, tadi kutungguin.’’ 

Temanku mengatakn itu sambil duduk setelah memutar arah bangku menjadi berhadapan dengan bangkuku. Kami duduk berhadapan. 

‘’Berisik,’’ kataku, ‘’memang yang boleh ke kantin kamu doank. Bantu aku ngabisin makanan yang kubeli!’’ Dia mengangguk senang. Kami makan bersama.

‘’Tumben jajan, biasanya baca buku mulu!’’ Temanku yang lain berteriak, dan aku melambaikan tanganku agar dia mendekat. 

‘’Bantuin makan, aku beli banyak ini!’’ Dia mendekat, menari bangku dari meja lain dan kai makan bertiga.


‘’Apa di angkatan kita ada anak pindaha dari sekolah lain?’’ tanyaku. Mereka berdua menggeleng. 

‘’Gak ada, waktu kelas satu emang ada, dan itu bukannya kamu kenal? Dia yang sering pulang bareng kamu, maksudku jalan dari kelasnya ke pintu gerbang. Kamu ambil arah kiri, dia ambil arah kanan dari gerbang setelahnya.’’

‘’Cowok?’’ tanyaku. Maksudku apa ada anak yang lain yang pindah dari sekolah lain dan dia itu laki-laki. ‘

’Cewek dia, kamu emang gak lihat dia pakai rok? Jangan-jangan karena kebanyakn rimus kamu gak bisa bedain antara cowok sama cewek, antara rok sama celana panjang.’’

‘’Heh! Ngawur. Aku masih waraskah, otakku sama mataku masih waras. Maksudku apa ada anak cowok pindahan dari sekolah lain?’’ tanyaku lebih jelas.

Mereka berdua menggeleng. ‘’Gak ada, jangan-jangan kamu kesambet gara-gara hari ini gak ke perpustakaan.’’

‘’Silaan, kalian!’’ Mereka berdua tertawa lepas. ‘’tapi, seriusan gak ada, kan?’’ tanyaku penasaran. ‘’Gak ada,”’ jawab mereka berdua kompak. Aku mengangguk. ‘’Okeee.’’

 ####Please tinggalin komen jika berkenan!

####Please tinggalin komen jika berkenan!

####Please tinggalin komen jika berkenan!




 

 

 

 


Komentar

Posting Komentar