1.
Anak Kelas
Sebelah
Bukankah itu wajar saja, anak sekolah sepertiku dan sepertinya mendapat nilai bagus? Aku benar-benar sedang menikmati kejutan yang sedang kudapat. Aku tidak merasa tersaingi. Aku terlalu mencintai matematika. Aku sedang merasakan begini rasanya dapat nilai bukan seratus.
‘’Aku biasa
mendapat seratus, kali ini mendapat delapan puluh, itu juga sesuatu buatku,’’
kataku sambil tertawa.
‘’Dasar
kamu aneh! Tapi, iya juga, sih, kamu juga pasti bosen dapat nilai seratus mulu,
sama seperti aku yang bosen selalu dapat nilai empat puluh setiap ulangan matematika.
Sayangnya, kejutanku bukan mendapat nilai seratus. Gak harus seratu sjuga, enam
puluh sesekali juga itu sebuah kejutan buatku.’’
‘’Kan, aku kalau
ulangan juga aku suka bagi-bagi jawaban.’’
‘’Tapi, aku
malah lebih bingung kalau dikasih contekan sama kamu. Begitu lihat jawabanmu
aku gak bisa nyalin, lihat jalannya panjang aku udah pusing duluan.’’
Kami tidak bicara banyak, bel istirahat sudah dibunyikan. Ketika aku membereskan buku untuk dimasukkan ke dalam tasku, anak yang mendaoat nilai delapan puluh lima itu mendatangiku.
‘’Kamu tahu, aku akhirnya bisa mengalakanmu. Aku berdoa semalam, aku belajar sungguh-sungguh. Aku ingin mengalahkanmu meski sekali saja. Dan, ternyata doaku terkabul. Meski tidak seratus, aku tetap mendapat nilai di atasmu. Ini pertama kalinya aku bisa mengalahkanmu.’’
Aku
mengangguk. Sebenarnya aku tidak masalah dia mendapat niali lebih tinggi
dariku, kedatangannya ke mejaku sedikit menggangguku. Itu udah over menurutku. Berlebihan!
Tetapi, aku tidak mengontrol sikap seseorang seperti mauku. Aku akhirnya
tertawa agar dia merasa puas dan pergi dari mejaku.
Oh, ternyata tidak! Dia mulai mengatakan kalau selama ini dia hanya mendapat nilai di bawah lima puluh, beberapa kali delapan puluh,tetapi tidak pernah seratus sepertiku. Aku benar-benar terganggu dengan ambisinya. Abisinya itu bukan untuk mendapat nilai bagus ternyata.
‘’Aku merasa sebagai cowok harus bisa
mengalahkanmu yang cewek. Lihat saja, di ulangan yang akan dtaang aku akan
mendpaatkan seratus sepertimu! Sekarang saja aku bisa melebihimu!’’
Aku sudah selesai dengan bukuku.
‘’Oke, kurasa kamu harus membuktikan omonganmu tadi. Kamu harus seratus, bukan karena aku, tetapi karena kamu memang harus bisa matematika. Apalagi kamu cowok!’’
Aku bangun dari dudukku. Aku berjalan
meninggalkan bangkuku menuju ke luar kelas.
‘’Kamu itu gak seru, kukira kamu bakalan panas dan kita berlomba dapetin nilai seratus!’’ keluahnya sambil menjajari langkahku.
‘’Kenapa harus panas?’’ tanyaku tertawa.
‘’Yang panas selama ini kamu, bukan? Jadi, aku
juga mau kamu wakilin panasku denger tantanganmu. Aku mau ke kantin dulu.’’
Dia
kutinggalkan sampai di pintu kelas. Aku tidak mengajaknya ke kantin. Aku pusing
mendengarnya bicara, perutku tambah merasa lapar saja.
Aku
melewati kelas lain, di saat yang sama seseorang keluar setengah berlari, hampir
saja dia menabrakku. Ya, Tuhan, dia anak baru? Aku merasa baru kali ini melihat dia, dan tiba-tiba aku merasa tertarik. Dia tipeku sekali.
‘’Maaf!’’ katanya sambil menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke arah temannya sambil emnunjuk teman-temannya,
‘’Kalian, sih, hampir aku menabrak dia.’’
Aku melihat ke arah teman-temannya dan mengangguk, mereka semua tersenyum dan mengatakan maaf. Aku mengangguk dan kembali meneruskan langkahku menuju kantin.
Sepanjang
perjalaann menuju kantin pikiranku fokus kepada anak yang tadi hampir menabrakku.
Aku tidak tahu ini jatuh cinta pada pandangan pertama atau hanya karena anku merasa
penasaran dengan dugaan bahwa anak itu adalah anak pindahan dari sekolah lain,
karena aku baru pertama kali melihatnya.
Aku bahkan sampai tidak duduk dan membungkus makanan yang kupesan. Anak yang hampir menabrakku benar-benar membuatku merasa berbeda. Aku kembali ke kelasku dan aku kembali melihat ke kelas di mana aku hamir tertabrak tadi. Anak itu tidak ada.
Baru dua langkah dari pintu kelas di mana anak tadi hampir menabrakku aku
melihat kalau anak yang hampir menabrakku berdiri di samping tiang tidak jauh dari
tempatku saat ini. Dia melihatku dengan tatapan tajam.
‘’Kamu ke kantin sendirian barusan? Kukira kamu ke ruang guru atau ke perpustakaan. Kalau tahu mau ke kantin, tadi kutungguin.’’
Temanku mengatakn itu sambil duduk setelah memutar arah bangku menjadi berhadapan dengan bangkuku. Kami duduk berhadapan.
‘’Berisik,’’ kataku, ‘’memang yang boleh ke kantin kamu doank. Bantu
aku ngabisin makanan yang kubeli!’’ Dia mengangguk senang. Kami makan bersama.
‘’Tumben jajan, biasanya baca buku mulu!’’ Temanku yang lain berteriak, dan aku melambaikan tanganku agar dia mendekat.
‘’Bantuin makan, aku beli banyak ini!’’ Dia mendekat, menari bangku dari meja lain dan kai makan bertiga.
‘’Cowok?’’ tanyaku. Maksudku apa ada anak yang lain yang pindah dari sekolah lain dan dia itu laki-laki. ‘
’Cewek dia, kamu emang gak lihat dia pakai rok? Jangan-jangan karena kebanyakn rimus kamu gak bisa bedain antara cowok sama cewek, antara rok sama celana panjang.’’
‘’Heh!
Ngawur. Aku masih waraskah, otakku sama mataku masih waras. Maksudku apa ada
anak cowok pindahan dari sekolah lain?’’ tanyaku lebih jelas.
Mereka
berdua menggeleng. ‘’Gak ada, jangan-jangan kamu kesambet gara-gara hari ini
gak ke perpustakaan.’’
####Please tinggalin komen jika berkenan!
####Please tinggalin komen jika berkenan!
####Please tinggalin komen jika berkenan!










####Please tinggalin komen jika berkenan!
BalasHapus